Prabowo Tegaskan Dukungan Indonesia pada PBB

Dunia membutuhkan PBB yang kuat. Indonesia senantiasa mendukung PBB. Salah satu wujudnya dengan mengirimkan anggota pasukan penjaga perdamaian.

23 Sep 2025 22:47 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar dari New York, Kris Mada

NEW YORK, KOMPAS — Setelah 11 tahun, Presiden RI kembali berpidato di sesi debat umum sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Presiden Prabowo Subianto, antara lain, membahas dukungan Indonesia pada lembaga dunia itu.

Delegasi RI di ruang sidang Majelis Umum PBB, antara lain, terdiri dari Menteri Luar Negeri Sugiono. Putra Presiden, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo alias Didit Prabowo duduk di antara anggota delegasi RI di ruang sidang.

Prabowo mendapat giliran berbicara kelima pada hari pembukaan debat umum, Selasa (23/9/2025). Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Majelis Umum PBB Annalena Baerbock mendahului para perwakilan negara.

Setelah mereka, sesuai tradisi PBB, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mendapat giliran. Lalu, giliran Presiden AS Donald Trump. Selepas itu, baru giliran Prabowo.

”Indonesia adalah salah satu penyumbang terbesar pasukan perdamaian PBB. Kami percaya PBB. Kami akan terus bertugas di mana kedamaian perlu pengawal,” ujar Prabowo.

Indonesia tidak cuma bicara. Indonesia bertindak. ”Jika dan ketika DK PBB dan majelis agung ini memutuskan, Indonesia siap mengerahkan 20.000 bahkan lebih putra dan putri kami membantu mengamankan perdamaian di Gaza atau tempat lain. Di Ukraina, Sudan, Libya. Kami akan mengambil beban,” ujarnya.

Ia menyebut, dunia membutuhkan PBB. Indonesia akan terus mendukung PBB.

Indonesia President Prabowo Subianto addresses the 80th session of the United Nations General Assembly, Tuesday, Sept. 23, 2025. (AP Photo/Richard Drew)

Sementara Trump memulai pidatonya dengan menyatakan bahwa telepromter tidak berfungsi. ”Saya tidak keberatan menyampaikan pidato ini tanpa telepromter, karena telepromter tidak berfungsi,” katanya memulai pidato yang berlangsung selama 57 menit itu.

Meski demikian, ia mengaku senang berada di aula Majelis Umum. ”Saya hanya bisa mengatakan bahwa siapa pun yang mengoperasikan telepromter ini berada dalam masalah besar,” katanya.

Selepas giliran Trump, Presiden Majelis Umum PBB Annalena Baerbock mengatakan, telepromter dipastikan berfungsi normal. ”Tidak perlu khawatir,” katanya.

Dalam pidatonya, Trump mempertanyakan tujuan PBB yang berusia 80 tahun pada 2025. PBB punya potensi luar biasa. Akan tetapi, PBB belum memaksimalkan potensi itu.

”Sebagian besar, setidaknya untuk saat ini, mereka hanya menulis surat yang tegas dan tidak pernah menindaklanjutinya. Itu omong kosong, dan omong kosong tidak menyelesaikan perang,” ujarnya.

Trump mengklaim telah menghentikan tujuh perang sejak kembali jadi Presiden AS. Perang-perang, kata Trump, kerap dianggap sebagai konflik tak berkesudahan. ”Tidak ada presiden lain yang pernah melakukan sesuatu yang mendekati itu,” katanya.

”Saya mengakhiri tujuh perang, berunding dengan para pemimpin setiap negara, dan bahkan tidak pernah menerima panggilan telepon dari PBB yang menawarkan bantuan untuk menyelesaikan kesepakatan tersebut,” lanjutnya.

Ia juga menyinggung soal Nobel Perdamaian. Ia mendengar, banyak orang menyebutnya pantas menerima hadiah itu. ”Semua orang mengatakan bahwa saya seharusnya mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian untuk setiap pencapaian ini,” kata Trump.

”Tetapi, bagi saya, hadiah yang sesungguhnya adalah putra dan putri yang tumbuh besar bersama ibu dan ayah mereka karena jutaan orang tidak lagi terbunuh dalam perang yang tak berujung dan mulia. Yang saya pedulikan bukanlah memenangi hadiah, melainkan menyelamatkan nyawa,” katanya.

Ia mengecam Eropa karena terus membeli minyak dan gas Rusia. Ia pun menyatakan tidak akan menerapkan hukuman baru terhadap Moskwa atas perang di Ukraina sampai Eropa menghentikan pembeliannya

”Mereka harus segera menghentikan semua pembelian energi dari Rusia. Jika tidak, kita semua hanya membuang-buang waktu,” ujarnya.

Genosida Gaza

Sementara Lula dari Brasil, antara lain, membahas soal serangan Israel ke Gaza. Ia menyebut tindakan Israel sebagai genosida. ”Serangan yang dilakukan oleh Hamas tidak dapat dibenarkan dari sudut mana pun, tetapi sama sekali tidak ada yang membenarkan genosida yang sedang berlangsung di Gaza,” ujarnya.

Lula juga mengatakan, perjuangan melawan perubahan iklim harus menjadi ”inti dari PBB”. Ia mengadvokasi pembentukan dewan yang terhubung dengan Majelis Umum, dengan kekuatan dan legitimasi untuk memantau komitmen. ”Ini merupakan langkah fundamental menuju reformasi organisasi yang lebih komprehensif yang juga mencakup Dewan Keamanan yang diperluas untuk kedua kategori anggotanya,” ujarnya.

Sementara Guterres memperingatkan, pilar-pilar perdamaian dan kemajuan sedang runtuh. Semua terjadi di bawah beban impunitas, ketidaksetaraan, dan ketidakpedulian. ”Kita telah memasuki era disrupsi yang gegabah dan penderitaan manusia yang tak henti-hentinya," ujarnya.

Ia menyebutkan invasi militer, kelaparan yang dipersenjatai, disinformasi yang membungkam kebenaran, asap mengepul dari kota-kota yang dibom, kemarahan yang mengoyak tatanan sosial, dan lautan yang menelan seluruh garis pantai. ”Masing-masing merupakan peringatan dan pertanyaan tentang pilihan yang dihadapi pemerintah saat ini,” ujarnya.

Guterres menekankan, PBB tetap sangat diperlukan. "Dalam kondisi terbaiknya, PBB lebih dari sekadar tempat pertemuan, ia adalah kompas moral, kekuatan perdamaian, penjaga hukum internasional, dan penyelamat bagi orang-orang yang sedang krisis,” kata dia.

Ia mencatat bahwa dunia multipolar saat ini dapat membawa dinamisme. Akan tetapi, tanpa kerja sama, dunia berisiko menimbulkan ketidakstabilan. "Multipolaritas tanpa lembaga multilateral yang efektif akan menimbulkan kekacauan," ujarnya.

Kerja sama internasional, tegasnya, bukanlah sesuatu yang naif, melainkan sebuah keharusan. “Tidak ada negara yang dapat menghentikan pandemi sendirian. Tidak ada tentara yang dapat menghentikan peningkatan suhu. Tidak ada algoritma yang dapat membangun kembali kepercayaan setelah dirusak,” kata dia.

NEW YORK, NEW YORK - SEPTEMBER 23: U.S. President Donald Trump (L) meets with United Nations Secretary-General António Guterres during the 80th session of the UN’s General Assembly (UNGA) at the United Nations headquarters on September 23, 2025 in New York City. World leaders convened for the 80th Session of UNGA, with this year’s theme for the annual global meeting being “Better together: 80 years and more for peace, development and human rights.”   Chip Somodevilla/Getty Images/AFP (Photo by CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Ia juga menyebut ada lima pilihan bagi pemerintah berbagai negara. Pertama, perdamaian bukan perang. ”Konflik dari Sudan, Ukraina, hingga Gaza menunjukkan dampak dari mengabaikan hukum internasional.

Kedua, Martabat dan hak. ”HAM adalah landasan perdamaian. ”Melindungi kebebasan sipil harus berjalan seiring dengan pendanaan pembangunan agar negara-negara dapat berinvestasi di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesempatan,” lanjutnya.

Ketiga, Keadilan iklim. Ia menyebut bahan bakar fosil adalah taruhan yang sia-sia. Ia mendesak investasi yang lebih cepat dalam energi terbarukan, komitmen iklim nasional yang lebih kuat, dan lebih banyak pendanaan untuk negara-negara yang rentan.

Keempat, teknologi untuk kemanusiaa. Kecerdasan buatan dan perangkat lainnya harus dikelola secara bertanggung jawab. "Tidak ada mesin yang boleh memutuskan siapa yang hidup atau mati," ujarnya

Kelima, penguatan PBB. Dengan krisis yang semakin banyak, Guterres mengatakan PBB harus beradaptasi dan negara-negara Anggota harus mendanainya dengan tepat. Ia mengkritik ketidakseimbangan ”Untuk setiap dolar yang diinvestasikan dalam membangun perdamaian, dunia menghabiskan $750 untuk senjata perang,” kata dia. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar dari New York, Kris Mada
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase