Dembele di PSG dan Partey di Arsenal bisa mengubah jalan cerita tim masing-masing. Mereka tidak bertemu di laga pertama semifinal dan kemungkinan di laga kedua.
06 Mei 2025 17:12 WIB · Olahraga
PARIS, SELASA — Gelandang Arsenal, Thomas Partey, dipastikan bisa bermain kembali setelah absen akibat akumulasi kartu, sementara penyerang Paris Saint-Germain, Ousmane Dembele, diragukan tampil karena cedera otot paha. Presensi keduanya akan sangat krusial dalam laga penentu semifinal Liga Champions.
PSG akan menjamu Arsenal dalam laga kedua semifinal di Stadion Parc des Princes, Kamis (8/5/2025) pukul 02.00 WIB. Walaupun unggul agregat 1-0, tim tuan rumah menyambut duel dengan sedikit rasa khawatir. Dembele, pencetak gol di laga pertama, masih dipertanyakan kondisinya.
Dembele sudah terlihat kembali di latihan tim pada Senin. Meskipun begitu, kebugaran pemain tim nasional Perancis itu masih diragukan bisa tampil penuh sejak awal laga. Dia mengalami masalah paha dan harus ditarik saat paruh kedua laga pertama, tengah pekan lalu.
PSG sangat membutuhkan Dembele di laga nanti. Selain berperan memproduksi gol, dia merupakan fondasi dari sistem 4-3-3 ala Pelatih Kepala Luis Enrique. Sang penyerang memainkan peran sangat kompleks. Tidak ada pemain PSG lain yang bisa mengisi peran tersebut.
Dembele, yang bisa bermain di semua posisi di lini depan, dipasang sebagai penyerang tengah. Uniknya, dia diberikan peran bebas bergerak ke mana saja. Tujuannya, membuka ruang. Seperti di laga pertama, dia menjemput bola hingga ke tengah lapangan untuk memecah struktur pertahanan Arsenal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/30/cd9ee65a620051f4263a5254f83bd992-wires_photo_32_.jpg)
Thierry Henry, legenda hidup timnas Perancis dan Arsenal, berkata, PSG kehilangan dominasi saat tanpa Dembele. ”Setelah Dembele ditarik, PSG lebih turun (bertahan). Arsenal lebih mudah menekan karena Dembele tidak ada untuk menjemput bola,” ujarnya dalam acara CBS Sport, Rabu lalu.
Ucapan Henry tecermin dalam statistik. PSG mampu mendominasi penguasaan bola di Stadion Emirates hingga 59,2 persen saat 70 menit awal bersama Dembele. Setelah dia ditarik keluar dan digantikan Bradley Barcola, penguasaan PSG merosot sampai 33 persen.
Kebutuhan PSG terhadap Dembele semakin mendesak pada laga kedua. Sebab, Arsenal akan datang dengan kekuatan penuh. ”Si Meriam” bisa kembali menggunakan Partey yang absen pada pekan lalu. Tanpa sang gelandang jangkar, sistem serangan dan bertahan Arsenal terganggu.
Salah satu hal yang hilang dari Arsenal pada pertemuan pertama adalah ancaman gelandang Declan Rice di sepertiga akhir. Biasanya Rice sebagai ”nomor 8” diberikan kebebasan maju, baik dalam maupun tanpa penguasaan. Peran itu tidak terlihat karena Rice harus mengisi posisi Partey.
Saat Partey kembali, sistem tim asuhan Manajer Mikel Arteta itu akan normal lagi. Rice akan meneror para gelandang lawan saat berupaya untuk membangun serangan dari bawah. Vitinha, gelandang yang menjadi dirigen serangan PSG, tidak akan seleluasa di Stadion Emirates.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/29/05eb82bd-03c7-4bd9-b2ea-a0f8038d04cd.jpg)
Partey membuat tim ini lebih seimbang. Tanpanya, keseimbangan itu terganggu.
Tim tamu tidak punya pilihan untuk menghindari eliminasi. Mereka harus mencetak gol. Caranya dengan bermain lebih agresif, terutama saat tanpa bola. Oleh karena itu, kehadiran Partey akan sangat krusial bagi Arsenal. ”Kami tahu betapa pentingnya Partey,” ujar kiper Arsenal, David Raya.
Selain itu, bersama Partey, Arsenal juga akan memiliki jembatan serangan antara lini belakang ke depan lagi. Jembatan tersebut diputus oleh PSG pada duel sebelumnya. Adapun sang pemain timnas Ghana itu sangat piawai dalam memecah tekanan lawan dan membaca ruang.
”Anda bisa melihat, absennya Partey adalah penyebab Bukayo Saka tidak mendapatkan bola,” kata mantan bek Arsenal, Matthew Upson, tentang permasalahan di laga pertama kepada BBC Sport. ”Partey membuat tim ini lebih seimbang. Tanpanya, keseimbangan itu terganggu,” lanjutnya.
Selain persoalan Dembele, PSG jauh lebih diuntungkan dalam kondisi kebugaran tim dibandingkan Arsenal. Tim asuhan Enrique itu merotasi sepuluh pemain dalam laga versus Strasbourg, akhir pekan lalu. Hanya gelandang Joao Neves, pemain inti, yang diturunkan.
Arsenal menggunakan pendekatan berbeda. Arteta menurunkan para pemain terbaik, kecuali bek sayap Jurrien Timber dan gelandang Mikel Merino, dalam laga terakhir versus Bournemouth. Masalahnya, mereka yang butuh modal kepercayaan diri untuk datang ke Paris justru kalah 1-2.
”Kami ingin menciptakan suasana bagus dari hasil positif untuk membantu jelang laga nanti (versus PSG). Kami justru menghasilkan banyak kemarahan, frustrasi, dan perasaan yang tidak enak (setelah kalah). Kami harus mengubah itu jadi motivasi untuk tampil luar biasa di Paris,” kata Arteta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/04/cdc9122183a311de7cb34d63d6a79307-Britain_Soccer_Premier_League_13_.jpeg)
PSG punya kemewahan merotasi tim karena sudah dipastikan juara Liga Perancis. Sementara itu, Arsenal masih berupaya keras mempertahankan peringkat kedua Liga Inggris. ”Si Meriam” bahkan terancam keluar dari zona Liga Champions karena tren buruk sebulan terakhir.
PSG hanya butuh hasil imbang untuk kembali ke final setelah terakhir kali pada 2020. Meskipun begitu, Enrique enggan bermain aman. ”Kami ingin menang di kandang. Melawan Arsenal, Anda tidak bisa lengah sedikit pun. Mereka bisa menulis ulang sejarah dalam sedetik,” ucapnya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul