Klaim-klaim Presiden Korsel Yoon Suk Yeol saat berlakukan darurat militer bertebaran di Youtube. Seorang kolumnis menyebut Yoon jatuh gara-gara ia kecanduan Youtube.
16 Des 2024 20:12 WIB · Internasional
Saat memberlakukan darurat militer selama enam jam pada 3 Desember 2024, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mengutip klaim peretasan pemilu dan simpatisan pro-Korea Utara yang ”antinegara” sebagai pembenaran atas keputusannya. Keadaan darurat militer, menurut dia, untuk memberangus kekuatan pro-Korea Utara serta melindungi kebebasan dan ketertiban.
Klaim-klaim seperti itu bertebaran di kanal-kanal Youtube, terutama kanal para pemengaruh sayap kanan.
Pemengaruh beraliran kanan Korea Selatan di kanal Youtube, Ko Sung-kook, sering mendengar cerita-cerita seperti itu sebelumnya di belantara media sosial. Bahkan, Ko sendiri pernah membuat klaim seperti itu berkali-kali kepada 1,1 juta pelanggan saluran televisi Kosungkook miliknya di kanal Youtube.
”Jika Presiden Yoon Suk Yeol mendengarkan suara para youtuber, dia mungkin mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan orang-orang atau apa sentimen publik para pendukung presiden,” kata Ko kepada kantor berita Reuters.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/b1c7bd2427253dbfb8b562e8ff3f3b08-000_36QC4HX.jpg)
Seorang kolumnis di harian JoongAng Ilbo yang berhaluan konservatif, Jumat (13/12/2024), blak-blakan menyebut rezim Yoon hancur gara-gara Yoon ”kecanduan Youtube”. ”Jika seseorang kecanduan menonton video-video di Youtube, ada risiko dia akan jatuh ke dalam dunia delusi yang didominasi oleh teori konspirasi. Presiden Yoon terlalu banyak menonton Youtube,” tulis kolumnis itu.
Kantor Yoon tidak menanggapi pertanyaan dari Reuters tentang kebiasaan menonton Yoon ataupun sumber klaim yang digunakan untuk membenarkan penerapan darurat militer.
Yoon dimakzulkan dan diberhentikan dari tugasnya, Sabtu (14/12/2024), melalui pemungutan suara parlemen gara-gara dekrit darurat militernya. Dekrit ini memicu krisis konstitusional dan memecah belah partai berkuasa, Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang konservatif.
Pemimpin PPP Han Dong-hoon, mantan orang kepercayaan Yoon yang kemudian mengadvokasi pemakzulan Yoon, mengumumkan pengunduran dirinya, Senin (16/12/2024).
Han menyalahkan media sayap kanan Korsel karena membuat perpecahan di antara kelompok konservatif. ”Jika kita bersimpati dengan kaum ekstremis seperti penganut teori konspirasi dan youtuber ekstrem atau jika kita termakan oleh ketakutan mereka yang sengaja dibuat dan dijual, konservatisme bisa mati,” kata Han yang sering menjadi sasaran kritikan Ko.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/10/562adc8a-1805-4c1e-b551-fea6aa28467e.png)
Ketika ditemui di kantor sekaligus studionya, Ko mengaku tidak tahu, apakah Yoon menonton acara yang diasuhnya di Youtube. Namun, Ko senang mengetahui bahwa Youtube menjadi platform alternatif yang tampaknya mencerminkan pemikiran Yoon.
Sejak lama Yoon sudah diketahui dekat dengan aktivis dan komentator Youtube. Ini terlihat setelah dia terpilih sebagai presiden pada tahun 2022, Yoon mengundang aktivis dan komentator Youtube sayap kanan untuk hadir dalam upacara pelantikannya.
Bahkan, Yoon mempekerjakan seorang youtuber untuk menyebarkan klaim bahwa ada infiltrasi komunis China di kancah politik dalam negeri Korsel dan ditempatkan sebagai pemimpin di badan pelatihan pegawai negeri.
Dalam pidatonya yang menantang, Kamis lalu, Yoon menyinggung banyak topik pembicaraan yang disukai oleh komentator sayap kanan. Salah satunya adalah kecaman Yoon pada lawan-lawan politiknya yang dianggapnya sebagai “kekuatan anti-negara”.
Mereka dituding menghalangi pemerintahan Yoon dan berpihak pada musuh di Korea Utara. Bahkan, Korut juga dituding Yoon mungkin sudah meretas pemilu di Korsel. Yoon masih bersikukuh dekrit darurat militernya sebagai langkah hukum untuk melindungi demokrasi.
Di Korsel, label pro-Korut ini sensitif dan berisiko tinggi. Korsel melarang kegiatan apa pun yang dianggap terkait dengan komunisme atau mendukung Korut.
Pada November 2023, seorang mantan pejabat serikat pekerja terbesar di Korsel, Konfederasi Serikat Pekerja Korea, dihukum 15 tahun penjara gara-gara menerima perintah dari Korut untuk menghasut protes.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/cb4b9195096e82774f7c387269c74285-000_36QD839.jpg)
Sejak partai berkuasa, Partai Kekuatan Rakyat (PPP), kalah telak dalam pemilihan parlemen, April 2024, keamanan Komisi Pemilu Korsel (NEC) dipertanyakan. PPP menuding hasil pemilu diretas. Kantor NEC menjadi salah satu tempat yang didatangi tentara atas perintah Yoon saat darurat militer selama enam jam.
NEC menjelaskan, pihaknya sudah berkonsultasi dengan badan intelijen untuk mengatasi kerentanan keamanan. Dari konsultasi itu, sudah klir. Sudah disimpulkan bahwa tidak ada tanda-tanda sistem pemilu dan operasionalnya diretas pihak luar.
Guru Besar Sosiologi di Universitas Chung Ang, Shin Jin-wook, menyamakan antara Yoon dan Trump. Ketika surat kabar dan jaringan televisi bersikap kritis terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Trump lalu menuding mereka menyebarkan berita palsu atau sampah.
”Trump lalu menunjuk media sosial, seperti Youtube, sebagai media yang dianggapnya paling benar,” ujar Shin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/15/aa57915a16686f8b448a2f7ee8e44401-000_36QB6C9.jpg)
Menurut laporan Yayasan Pers Korea tahun 2023, sekitar 53 persen warga Korsel mengaku mendapatkan berita dari kanal Youtube. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata 30 persen di negara-negara lain.
Angka itu naik dari 24 persen pada tahun 2016. Survei yang dilakukan harian Chosun Ilbo pada tahun 2018 menemukan, 70 persen peserta demonstrasi sayap kanan mengaku Youtube menjadi sumber berita utama mereka.
Anggota parlemen dari PPP yang mendukung pemakzulan, Kim Sang-wook, mengatakan Youtube sayap kanan sudah berubah menjadi seperti ”mesin humas” Yoon.
Yoon dan youtuber konservatif dianggap memiliki hubungan simbiosis yang sangat erat. Namun, Ko menolak kecurigaan itu. Ia mengatakan, dinamika serupa juga terjadi di kubu liberal.
Dalam dekrit darurat militer Yoon disebutkan bahwa media berada dalam kendali pemerintah darurat militer. Pasukan juga dikirim ke kantor tokoh media Youtube sayap kiri yang kritis pada Yoon.
Pengakuan ini disampaikan ke Reuters. Pada waktu itu, tokoh yang tak mau disebutkan namanya tersebut langsung bersembunyi ketika tentara datang hendak menangkapnya.
Saat Yoon menghadapi pemakzulan, pekan lalu, Ko mengatakan, dekrit darurat militer Yoon menjadi jalan terakhir untuk memerintah Korsel dan mendesak pejuang sayap kanan patriot untuk turun ke jalan mendukungnya.
”Perang habis-habisan sudah dimulai antara faksi pro-Korut yang ingin memakzulkan Presiden Yoon dan antara sayap kanan yang termasuk kami ini,” kata Ko.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/cc035597f1c757c08e9e648f5eb01b18-b0eb1a079e264b92a1adff0c63cec004_0_d9bc0d606b1843819d616cf8dc2bceaf.jpg)
Pada Sabtu lalu, Ko ikut turun ke jalan untuk protes bersama dengan para pendukung Yoon. Mereka membawa bendera Korsel dan AS dan menyapa orang-orang yang mengenalnya sebagai tokoh Youtube.
”Dr Ko adalah komentator politik hebat yang menyadarkan warga konservatif dan membimbing mereka ke arah yang benar,” kata Lee Kwang-hyun (71), penggemar Ko. Dia ikut turun ke jalan untuk memrotes berita palsu yang bertebaran tentang Yoon.
Dalam pandangan Lee, Yoon berjuang melawan kecurangan pemilu seperti halnya Trump. Lee termasuk pendukung setia Yoon yang menentang pemakzulan Yoon.
”Saya percaya ideologi dan semangat Yoon semata-mata adalah untuk menyelamatkan negara kita,” ujar Lee. (REUTERS)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Muhammad Samsul Hadi