Produksi gula konsumsi meningkat dari 2,27 juta ton pada pada 2023 menjadi 2,46 juta ton pada 2024. Pada 2025, produksi gula ditargetkan bisa tembus 2,6 juta ton.
01 Des 2024 15:32 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Tahun ini, produksi dan harga gula petani naik cukup signifikan dibandingkan dengan tahun lalu. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia menilai situasi itu dapat menjadi modal positif untuk mencapai swasembada gula konsumsi pada 2028.
Kementerian Pertanian mencatat, pada 2024 produksi dan produktivitas tebu nasional masing-masing sebesar 33,22 juta ton dan 63,78 ton per hektar. Dari total produksi tebu itu, gula konsumsi yang dihasilkan 2,46 juta ton.
Sementara, pada 2023, produksi dan produktivitas tebu nasional masing-masing sebanyak 31,04 juta ton dan 61,5 ton per hektar. Dari total tebu tersebut, gula konsumsi yang dihasilkan 2,27 juta ton.
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen, Minggu (1/12/2024), mengatakan, sebenarnya APTRI menyangsikan data produksi tebu dan gula tahun ini. Hal itu lantaran tanaman tebu petani terdampak El Nino sejak pertengahan 2023 hingga Mei 2024.
”Lantaran kekurangan air, tanaman tebu tidak tumbuh normal atau lebih pendek daripada kondisi normal. Nanti kami akan coba hitung kembali produksi tebu petani anggota APTRI,” ujarnya.
Pada 2024, produksi dan produktivitas tebu nasional masing-masing sebesar 33,22 juta ton dan 63,78 ton per hektar. Dari total produksi tebu itu, gula konsumsi yang dihasilkan 2,46 juta ton.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/88da6e8a2a8caf3babf294d57e624c66-Screenshot_2024_12_01_151006.png)
Kendati begitu, Soemitro berpendapat, jika benar produksi tebu dan gula tahun ini meningkat, kemungkinan besar disebabkan kenaikan rendemen. Rerata rendemen nasional tahun ini sebesar 7,42 persen atau naik tipis dari rendemen tahun lalu yang hanya 7,32 persen.
Ada juga faktor lain, yakni bertambahnya luas tanam tebu baik yang dilakukan petani ataupun PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN. Areal tebu di Indonesia pada 2024 seluas 520.823,18 hektar, bertambah dari 2023 yang seluas 504.776 hektar.
Menurut dia, petani mau memperluas tanaman tebu lantaran Badan Pangan Nasional (Bapanas) menaikkan harga acuan pembelian gula di tingkat petani dari Rp 12.500 per kilogram (kg) menjadi Rp 14.500 per kg. Berkat kenaikan harga acuan itu, harga lelang gula petani sepanjang musim giling tebu tahun ini lumayan tinggi.
”Harga lelang gula petani terendah Rp 14.500 per kg dan tertinggi Rp 15.400 per kg. Meskipun demikian, harga lelang gula yang terbentuk banyak yang berada di level Rp 14.500-Rp 15.000 per kg,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/20/d51d0393df066211a618f1a006ac4b4f-WhatsApp_Image_2024_11_20_at_6.56.14_PM.jpeg)
Soemitro juga menilai, jika data produksi tebu dan gula tersebut benar akurat, hal itu bisa menjadi modal positif bagi Indonesia untuk mewujudkan swasembada gula pada 2028. Apalagi jika harga gula di tingkat petani terus dijaga tinggi, petani pasti dengan sendirinya akan memperluas lahan tebu.
Sebelumnya, APTRI dan Asosiasi Gula Indonesia memperkirakan produksi gula nasional turun dari 2,27 juta ton pada 2023 menjadi 2-2,1 juta ton pada 2024. Pada 14 April 2024, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga memproyeksikan produksi gula Indonesia bakal turun dari 2,3 juta ton pada 2023 menjadi 2 juta ton di 2024.
Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas, per 1 Desember 2024, harga rerata nasional gula konsumsi di tingkat konsumen Rp 17.950 per kg. Dalam sepekan, harga gula tersebut turun 0,17 persen.
Harga gula konsumsi itu lebih tinggi dibandingkan dengan harga rerata pada November 2024 yang sebesar Rp 16.500 per kg. Harga gula pada awal Desember 2024 itu juga berada di kisaran harga acuan penjualan gula di tingkat konsumen yang ditetapkan Bapanas Rp 17.500 per kg dan Rp 18.500 per kg berdasarkan daerah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/11/23/478cd0e4-4ae4-4195-9d96-62fe5216a574.jpg)
Di era kepemimpinan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Indonesia telah mengubah target swasembada pangan, khususnya beras dan jagung, dari 2028 menjadi 2027. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zilkifli Hasan juga menyatakan kemungkinan Indonesia bisa mewujudkan swasembada gula konsumsi pada 2027 atau 2028.
Khusus gula, pemerintah telah membuka 6.000 hektar lahan di Merauke, Papua, untuk ditanami tebu. Percontohan lahan dan tanaman tebu yang dikelola swasta sudah ada dan hasilnya cukup bagus. Hal itu lantaran menggunakan bibit tebu unggul dan melibatkan tenaga ahli dari Australia.
”PTPN juga mengembangkan lahan tebu di sana seluas 25 hektar,” kata Zulkifli dalam Afternoon Tea-Kompas Collaboration Forum (KCF) bertema ”Swasembada Pangan, Strategi Pemerintah dan Dampaknya terhadap Dunia Usaha” di Jakarta, Jumat (29/11/2024).
Pemerintah juga telah meluncurkan program Gerakan Menuju Swasembada Gula Indonesia (Manis) pada 20 November 2024 di Lumajang, Jawa Timur. PTPN juga telah mencanangkan peningkatan target produksi gula konsumsi pada 2025.
Direktur Utama Holding Perkebunan atau PTPN III (Persero) Mohammad Abdul Ghani mengemukakan, berbagai program telah dilakukan untuk mendukung swasembada gula. Hal itu antara lain penggunaan bibit tebu varietas baru, pembenahan jaringan irigasi, dan penyediaan pupuk melalui program Makmur. Selain itu, PTPN juga menerapkan teknologi perawatan tanaman tebu dan aplikasi platform ETERA yang menghubungkan petani dengan perbankan.
”Melalui berbagai upaya itu, produksi gula konsumsi nasional PT Sinergi Gula Nasional (SGN), anak usaha PTPN III bisa meningkat 150.000 ton pada 2025. Dengan begitu, produksi gula nasional tahun depan diperkirakan bisa mencapai 2,6 juta ton,” katanya (Kompas, 20/11/2024).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/04/09/20210409-H09-ARJ-produksi-gula-mumed_1617982945.png)
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
Muhammad Fajar Marta