Prospek Cerah ”Garuda Pertiwi”, Bukti Pentingnya Percaya pada Proses

Proses, bukan cara instan. Tim sepak bola putri Indonesia U-16 dibentuk dengan prinsip itu. Seharusnya pola sama juga diterapkan pada kelompok umur lain dan senior.

04 Sep 2025 11:55 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Tim sepak bola putri Indonesia U-16 memang tak berhasil menorehkan sejarah di turnamen antarnegara Asia Tenggara, Kejuaraan ASEAN U-16 2025, 20-29 Agustus, meski jaraknya tinggal selangkah lagi. Kendati akhirnya pulang dengan tangan hampa karena finis sebagai peringkat keempat, ada catatan positif yang ditulis.

Tak ada kekecewaan mendalam yang tampak saat konferensi pers pascapertandingan perebutan peringkat ketiga pada pekan lalu. Pelatih tim putri Indonesia U-16, Timo Scheunemann, malah sempat bercanda seperti pada konferensi-konferensi pers sebelumnya. Pencetak gol tim U-16, Nafeeza Ayasha Nori, juga terlihat tegar.

Padahal, kekalahan dari Vietnam pada partai perebutan peringkat ketiga membuat tak ada medali yang berhasil Indonesia raih. Meski demikian, hasil tersebut sebenarnya sudah memenuhi target minimal tim untuk bisa bermain hingga empat kali di turnamen yang digelar di Surakarta, Jawa Tengah, ini.

Dua laga dijalani pada fase grup, satu pertandingan lainnya pada semifinal, dan sisanya laga perebutan peringkat ketiga. Keinginan mereka tentu satu pertandingan terakhir ialah partai final. Akan tetapi, langkah mereka terjegal Australia dengan kekalahan 0-3 pada semifinal. Australia pada akhirnya melaju ke final dan keluar sebagai juara.

Pelatih tim sepak bola putri Indonesia U-16, Timo Scheunemann (kiri), menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers pascapertandingan melawan Vietnam dalam laga perebutan peringkat ketiga Kejuaraan ASEAN Putri U-16 2025 di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, 29 Agustus 2025.

Pada laga perebutan peringkat ketiga pun, Nafeeza Ayasha Nori dan kawan-kawan telah berjuang hingga titik akhir. Setelah Vietnam unggul lebih dulu lewat gol bunuh diri Nazwa Bilbina pada menit kedua, Indonesia menyamakan kedudukan melalui aksi Nafeeza pada menit ke-15. Skor imbang bertahan hingga pertandingan pada waktu normal berakhir.

Pemenang harus ditentukan lewat babak adu penalti yang tak kalah sengit. Masing-masing enam penendang Indonesia dan Vietnam menjalankan tugas dengan sempurna. Sampai akhirnya tendangan eksekutor ketujuh, Vivi Vera, mengantarkan bola membentur tiang gawang. Sementara Thi Minh Anh Nguyen yang menjadi penendang penentu Vietnam tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membawa timnya meraih peringkat ketiga dengan skor 7-6.

Meski pada akhirnya takluk, Indonesia patut berbangga karena Vietnam bukan lawan sembarangan. Di turnamen tersebut, Vietnam sudah empat kali keluar sebagai peringkat ketiga. Bahkan, gelar pada edisi 2025 ini membuat mereka meraih peringkat ketiga tiga kali beruntun setelah edisi 2018 dan 2019.

Wajar jika kemudian Timo menyebut hasil yang diraih Indonesia sebagai milestone. Bisa menahan imbang Vietnam dan memaksa hingga adu penalti lebih dari lima penendang, menurutnya, adalah sebuah pencapaian. Hal ini menandai Indonesia telah bisa setara dengan Vietnam yang merupakan salah satu kekuatan Asia Tenggara.

Tim sepak bola putri Indonesia U-16 (jersei putih) bertanding melawan Vietnam dalam laga perebutan peringkat ketiga Kejuaraan ASEAN Putri U-16 2025 di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, 29 Agustus 2025.

”Kita belum pernah bisa seri, bisa setara dengan Vietnam. Oke dengan Australia, kita masih kalah, dengan Thailand masih kalah, tapi Vietnam, kita sudah setara, 50-50,” kata Timo.

”Jadi saya rasa hasil ini sudah pantas. Saya bangga sama pemain-pemain saya. Mereka sudah memberikan yang terbaik, meski cara main mereka, kualitas umpan mereka, belum sebaik yang saya tahu mereka bisa,” tuturnya menambahkan.

Bagi Indonesia, finis sebagai peringkat keempat adalah pencapaian terbaik sepanjang empat kali keikutsertaan dari total lima edisi Kejuaraan ASEAN. Pada edisi perdana 2009, 2017, dan 2018, langkah Indonesia selalu terhenti pada fase grup. Pada 2018 ketika Indonesia juga menjadi tuan rumah di Palembang, ”Garuda Pertiwi” bahkan hanya menang sekali ketika menaklukkan Kamboja 2-0.

Kejuaraan ASEAN ini menjadi barometer kualitas skuad Indonesia. Dengan hasil yang diraih, ini realitasnya. Indonesia ada di bawah Vietnam sebagai peringkat ketiga, Thailand sebagai runner up, dan Australia sebagai juara.

Tim sepak bola putri Indonesia U-16 berfoto sebelum bertanding melawan Vietnam dalam laga perebutan peringkat ketiga Kejuaraan ASEAN Putri U-16 2025 di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, 29 Agustus 2025.

Ketiga negara itu harus diakui memang lebih unggul dari segi sistem pembinaan sepak bola putri. Vietnam, misalnya, aktif menggelar turnamen kelompok umur, dari U-16 sampai U-19.

”Kalau mau menang lawan Vietnam, memang harus super, harus bagus, umpannya harus betul-betul on. Tapi, ini pertama kali bisa imbang melawan Vietnam. Kalau Anda tahu sejarahnya, yang terakhir timnas senior kalah 0-7,” ucapnya lagi merujuk hasil timnas putri senior dalam laga laga fase grup Kejuaraan ASEAN 2025 di Vietnam pada 9 Agustus.

Dengan melihat kemampuan tim putri U-16, Timo pun optimistis masa depan cerah menanti Garuda Pertiwi. Apalagi, usia para pemain masih sangat muda. Mereka, kata Timo, juga sudah tahu harus berbuat apa untuk menjaga diri agar tidak cedera, sudah mulai bisa mengevaluasi permainan sendiri.

”Saya optimistis akan banyak (yang masuk timnas senior). Saya nggak bisa ngomong atau sebutkan nama-namanya. Tapi, akan banyak yang bisa tembus ke timnas senior asal mereka berkembang. Untuk cewek, perkembangannya itu masih sampai umur 18 tahun,” ucap Timo.

Tim sepak bola putri Indonesia U-16 (jersei putih) bertanding melawan Vietnam dalam laga perebutan peringkat ketiga Kejuaraan ASEAN Putri U-16 2025 di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, 29 Agustus 2025.

Menurut Timo, para pemain U-16 juga harus berkembang karena persaingan akan semakin sengit. Sebab, para pemain dengan usia di bawah mereka, mulai umur 10 sampai 12 tahun, juga terus berkembang.

Di skuad tim U-16 pun sebenarnya Timo membawa tiga pemain berusia 12 tahun karena memiliki kemampuan yang dibutuhkan skuad. Namun, mereka batal membela tim lantaran terbentur regulasi AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) soal batas usia.

Proses panjang

Apa yang diraih tim U-16 di Kejuaraan ASEAN 2025 juga adalah bukti pentingnya percaya pada proses. Skuad yang terbentuk adalah hasil proses panjang sepanjang tahun ini. Mereka dibentuk secara sistematis dengan berbagai tahapan karena didorong dengan kehadiran turnamen.

Semua pemain yang dipanggil pada seleksi pertama, misalnya, adalah pesepak bola yang berlaga di turnamen Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 sepanjang April hingga Juli. Mereka mewakili kota dan regional masing-masing untuk bertarung di turnamen level nasional, Piala Pertiwi All Star.

Para pemain ini tersaring lewat turnamen di Banten, Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Solo, Kudus, Surabaya, dan Malang. Mereka juga hasil seleksi Kalimantan, Nusa Tenggara dan Bali, Sulawesi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, serta Papua.

Dengan demikian, tim yang terbentuk pun merupakan skuad terbaik dengan filter berlapis. Skuad juga ”berwarna”, terutama dari segi asal daerah. Sebab, para pemain datang dari beragam tempat, tidak hanya terpusat di Jawa.

Tim sepak bola putri Indonesia U-16 (jersei putih) bertanding melawan Vietnam dalam laga perebutan peringkat ketiga Kejuaraan ASEAN Putri U-16 2025 di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, 29 Agustus 2025.

Bukan hanya hasil seleksi sistematis dengan jangkauan luas di berbagai wilayah, skuad juga terbentuk dari pemain yang berpengalaman bermain dengan tim Indonesia pada kelompok umur lebih tinggi, yakni U-20. Selain itu, ada pula pemain seperti Nafeeza yang bermain secara reguler di kompetisi sepak bola putri Filipina bersama Makati.

Nafeeza mengatakan, pengalamannya bermain di kompetisi turut membuat mentalnya kuat. Tidak ada lagi gugup ketika bertanding. Di sisi lain, kemampuan juga terus terasah karena latihan selalu rutin. Hasil latihan itu lantas diuji dalam pertandingan.

Diterapkan timnas senior

Proses yang dijalani tim U-16, dengan hasil yang juga tidak mengkhianati usaha, seharusnya bisa diterapkan pula di kelompok umur lain atau bahkan timnas putri senior. Problemnya, kompetisi sudah mati suri sejak 2019. Adapun turnamen, seperti Piala Pertiwi, tidak digelar reguler. Sementara itu, jika mengandalkan PON, tim kepelatihan harus menunggu tiap empat tahun sekali untuk menemukan potensi-potensi pemain.

Padahal, idealnya, bersama klub dan lewat jalan kompetisilah, para pesepak bola di semua usia bisa mengasah teknik, stamina, dan mental bertanding. Tanpa adanya wadah, timnas akan kesulitan menemukan pemain-pemain hebat untuk dipanggil.

Sebagian besar pemain timnas saat ini tak punya kesempatan bertanding selain ketika membela negara. Beberapa di antaranya bahkan harus ”menumpang” ke negara tetangga yang juga tengah mengembangkan sepak bola putrinya, Malaysia. Para pemain Indonesia berbondong-bondong mengambil kesempatan bermain bersama Kelana United, juara Malaysia National Women’s League 2024, agar punya pengalaman bermain di Liga Champions Asia 2025-2026.

Pemain timnas sepak bola putri Indonesia, Isa Warps, menguasai bola melawan Vietnam dalam laga Kejuaraan ASEAN Putri 2025 di Stadion Lach Tray, Hai Phong, Vietnam, Sabtu (9/8/2025).

Padahal, dengan adanya kompetisi dalam negeri pula, pelatih timnas tidak perlu sampai mengurusi hal-hal mendasar lagi, seperti yang dilakukan Satoru Mochizuki ketika masih menangani timnas putri senior. Materi yang diberikan Mochizuki selalu berkisar soal kemampuan dasar sepak bola, seperti mengumpan, mengontrol, dan menendang bola.

Selain pemusatan latihan jangka panjang, naturalisasi juga akhirnya menjadi jalan yang ditempuh timnas senior akibat keroposnya pembinaan. Terbaru, timnas putri menaturalisasi Isabel Kopp, Isabelle Nottet, dan Pauline Jeannette van de Pol.

Proses, bukan cara instan. Tim sepak bola putri Indonesia U-16 dibentuk dengan prinsip itu. Seharusnya pola sama juga diterapkan pada kelompok umur lain, bahkan senior. Apalagi, jika mimpinya memang mengembangkan dan membangkitkan sepak bola putri, keseluruhan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto