Macet Tiada Akhir di Jalan TB Simatupang, Apa Solusi Pemprov DKI Jakarta?

Proyek konstruksi di 216 ruas jalan sepanjang 264,58 kilometer menambah kemacetan di Jakarta.

22 Agt 2025 16:27 WIB · Metropolitan

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dany

Kemacetan parah di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, membuat warga geleng-geleng kepala. Pembangunan sejumlah proyek konstruksi di salah satu jalan utama di Jakarta itu membuat warga frustrasi. Mereka harus menahan penat di jalanan selama berjam-jam. Kapan siksaan ini berakhir?

Winda (29), warga Cipete, Jaksel, hanya bisa menggelengkan kepala ketika ditanyai kemacetan di Jalan TB Simatupang. ”Makin parah,” kata pekerja kantoran ini singkat.

Ia biasa melewati jalan tersebut ketika berangkat dari Fatmawati ke Tanjung Barat dan sebaliknya. Jalan itu sudah macet bahkan ketika belum ada galian proyek konstruksi. Dengan adanya proyek konstruksi di jalan itu, kemacetan kian menjadi-jadi.

Dua lajur jalan di TB Simatupang nyata-nyata tak mampu mewadahi jumlah kendaraan yang melintas. ”Apalagi, sekarang ditambah galian, sisa satu lajur. Petugas kewalahan atur lalu lintas. Harus ada terobosan, sih,” ujar Winda.

Agung (32), warga lainnya, juga terjebak macet panjang selama lebih dari satu jam saat melintasi Jalan TB Simatupang. ”Kendaraan tersendat di beberapa titik. Makin jadi pas jam berangkat sama pulang,” kata karyawan swasta di Jakarta Pusat ini.

Ia berharap ada pengaturan lalu lintas yang lebih baik sehingga kemacetan cepat terurai. Agung berharap kemacetan kurang dari 30 menit. Namun, melihat kondisi yang ada saat ini, warga seolah terpaksa pasrah. ”Namun, untuk saat ini tetap harus bersabar,” ucap Agung.

Kemacetan yang seolah tiada akhir di Jalan TB Simatupang memantik pertanyaan publik. Apa pemicu kemacetan dan solusi yang ditawarkan oleh pemerintah untuk mengatasi problem berulang itu.

Dinas Perhubungan Jakarta menyebutkan, kepadatan hingga kemacetan lalu lintas di Jalan TB Simatupang disebabkan oleh sejumlah proyek konstruksi. Proyek itu, antara lain, MRT Jakarta Fase 2A Bundaran HI-Kota, LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai, dan pembangunan Jalan Tol Harbour Road 2. Selain itu, ada pula pekerjaan jaringan air bersih, pengelolaan air limbah, dan jaringan utilitas terpadu.

Saat ini, ada 216 ruas jalan sepanjang 264,58 kilometer yang terdampak langsung oleh berbagai proyek konstruksi di Jakarta. Salah satu imbas dari proyek strategis nasional dan daerah itu ialah kemacetan yang makin parah, termasuk di Jalan TB Simatupang.

”Terdapat 216 ruas jalan dengan panjang keseluruhan 264,58 km yang diokupansi proyek. Dampaknya kepadatan lalu lintas,” kata Kepala Dinas Perhubungan Jakarta Syafrin Liputo, Jumat (22/8/2025).

Pemprov Jakarta melakukan berbagai upaya untuk menekan kemacetan di setiap lokasi proyek konstruksi. Untuk proyek skala besar, seperti MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan jalan tol, dilakukan rekayasa arus lalu lintas dan penerapan contra flow atau lawan arah.

Beberapa persimpangan jalan juga ditutup sementara untuk mengurangi persilangan kendaraan. Selain itu, petugas gabungan dan pelaksana proyek juga ada di lokasi untuk mengatur alur kendaraan.

Sementara untuk proyek galian perpipaan, rekayasa lalu lintas mencakup pelebaran dan decking jalan atau membuat fondasi sementara untuk lalu lintas agar mempertahankan kapasitas jalan.

”Strategi ini diharapkan dapat menjaga kelancaran lalu lintas di area yang terdampak,” ucap Syafrin.

Kemacetan kendaraan di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (1/1/2025). Menyambut libur Tahun Baru 2025, warga berantusias berwisata menuju Taman Margasatwa Ragunan. Akibatnya kemacetan terjadi di sepanjang Jalan Harsono RM sampai TB Simatupang akibat warga yang ingin mengunjungi Ragunan. Kemacetan tersebut menurut warga sudah mulai terjadi sejak pukul 08.00 WIB. Para pedagang memanfaatkan kemacetan panjang itu untuk menjajakan barang dagangannya. Salah seorang pedagang mengaku mendapatkan keuntungan hingga tiga kali lipat dari hari libur biasanya. Per pukul 15.00 WIB, jumlah pengunjung tercatat mencapai 99.203 orang. Akibat kemacetan ini juga, sejumlah warga yang pulang dari Taman Margasatwa Ragunan kesulitan mendapatkan ojek daring dan angkutan umum. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 01-01-2025

Upaya alternatif

Dinas Perhubungan Jakarta juga menyiapkan rencana alternatif. Ini dibarengi imbauan agar warga menggunakan jalur lain untuk keperluannya atau berganti moda ke angkutan umum.

Dishub Jakarta juga sedang mengkaji rencana pemanfaatan sedikit trotoar di Cibis Park agar lajur jalan kembali jadi dua di Jalan TB Simatupang. ”Di beberapa titik proyek, kan, ruang lalu lintas dipakai sehingga tersisa satu lajur jalan,” ujar Syafrin.

Pertimbangan untuk pemanfaatan trotoar itu menjadi salah satu alternatif karena ukuran pembatas proyek konstruksi tidak bisa serta-merta dikurangi. Ukuran tersebut sudah sesuai dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Hal lain yang akan dilakukan untuk mengatasi kemacetan di Jalan TB Simatupang ialah dengan mengurai sumbatan (bottleneck) di off-ramp Tol JORR di Kilometer 21. Sumbatan ini terjadi karena persilangan kendaraan yang hendak belok dan lajur di samping exit tol terhambat oleh proyek konstruksi.

”Pak Gubernur akan bersurat ke Badan Pengelola Jalan Tol untuk pengaturan di sana. Kami usulkan pintu tol ditutup pada sore hari atau jam tertentu saja,” kata Syafrin.

Kereta MRT tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Kamis (24/4/2025). Hari Transportasi Publik Nasional diperingati setiap tanggal 24 April. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyambut perayaan ini dengan menggratiskan tarif transportasi publik seperti Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta. Walau demikian, pengguna harus memiliki saldo minimum untuk bisa merasakan program tarif gratis ini. Program ini menjadi upaya pemerintah untuk mengajak masyarakat agar selalu menggunakan transportasi umum. Hal itu menjadi salah satu cara mengatasi kemacetan di Jakarta.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
24-04-2025

Mencari solusi

Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) juga sedang mendiskusikan kemacetan tak kunjung usai di Jalan TB Simatupang. Fokus diskusi, antara lain, status penyelesaian proyek konstruksi, mitigasi jangka pendek, dan rekomendasi jangka panjang, khususnya realisasi MRT lingkar luar dari Fatmawati ke Kampung Rambutan.

DTKJ mencatat, kemacetan di Jalan TB Simatupang juga dipicu tingginya volume kendaraan pribadi menuju perkantoran dan akses tol, ketiadaan trotoar dan fasilitas penyeberangan, jalan masuk keluar gedung yang padat, serta keberadaan ”Pak Ogah”.

Oleh sebab itu, mitigasi jangka pendek tidak hanya rekayasa lalu lintas. Bedeng proyek yang mempersempit jalan dapat ditata ulang sembari menertibkan ”Pak Ogah”, terus mengajak warga beralih ke angkutan umum, seperti naik Transjakarta.

Sekretaris DTKJ Adrianus Satrio Adi Nugroho mengatakan, untuk jangka panjang kemacetan bisa ditekan dengan pembangunan MRT Fatmawati-Kampung Rambutan. ”Tidak bisa lagi hanya mengandalkan Transjakarta,” ujar Adrianus secara terpisah.

Dalam salah satu sesi Media Fellowship Program MRT Jakarta 2025 terungkap, rute dari Fatmawati ke Kampung Rambutan merupakan jalur bawah tanah. Hingga kini, pemerintah masih mencari skema pendanaan yang tepat. Mengemuka juga opsi kerja sama pemerintah dan badan usaha.

Jalur ini membentang sepanjang 10,9 km. Terdiri dari 10 stasiun dan 1 depo. MRT lingkar luar itu nantinya terkoneksi dengan Stasiun MRT Fatmawati. Stasiun terakhir adalah bagian dari MRT fase 1 Lebak Bulus-Bundaran HI.

Pembangunan jalur MRT ini ditaksir menelan anggaran sampai Rp 21,3 triliun. Sementara estimasi penumpang mencapai 97.000 per hari.

Dari sejumlah upaya mengatasi kemacetan di Jalan TB Simatupang yang dijanjikan oleh pemerintah, warga berharap hal itu segera direalisasikan. Kemacetan di Jalan TB Simatupang jangan terus berkepanjangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dany
 | 

Editor:

Rini Kustiasih