MILITER

Pulau Qeshm, Benteng Pertahanan Terluar Iran di Selat Hormuz

Pulau Qeshm menyimpan rudal antikapal, ranjau, pesawat nirawak (”drone”), dan pesawat serang lain di terowongan bawah tanah, menurut beberapa laporan.

31 Mar 2026 09:00 WIB · Internasional

TANGKAPAN LAYAR GOOGLE MAP/ELSA EMIRIA L

Oleh Elsa Emiria Leba

Pulau Qeshm adalah satu dari tujuh pulau penting milik Iran di Selat Hormuz. Terkenal akan keindahannya, benteng pertahanan terluar ini berperan penting bagi Teheran untuk mengendalikan selat tersebut.

Dengan meningkatnya potensi serangan darat oleh Amerika Serikat, muncul spekulasi bahwa pasukan AS akan ditugaskan untuk merebut Pulau Kharg di Teluk Persia. Pulau ini merupakan pelabuhan utama yang menangani 90 persen ekspor minyak mentah Iran.

Pulau Kharg hanyalah salah satu dari puluhan pulau Iran di teluk tersebut. Ada tujuh pulau strategis lain yang tersebar di Selat Hormuz, yakni Abu Musa, Tunb Besar, Tunb Kecil, Hengam, Qeshm, Larak, dan Hormuz.

Pejabat-pejabat Iran menyebut pulau-pulau tersebut dan pulau-pulau Teluk lainnya sebagai kapal induk stasioner yang tak dapat tenggelam. Sementara para peneliti di Universitas Sun Yat-sen, China, menyebut ketujuh pulau itu sebagai ”benteng pertahanan” Iran.

”Kurva imajiner yang menghubungkan pulau-pulau tersebut akan semakin membantu memahami keunggulan strategis Iran dalam mengendalikan keamanan Selat Hormuz,” tulis peneliti Iran, Enayatollah Yazdani, dan peneliti China, Ma Yanzhe, dalam sebuah makalah tahun 2022 untuk Pusat Sains dan Pendidikan Kanada, menurut CNN edisi Sabtu (28/3/2026).

Sebuah kapal angkatan laut berlayar di Selat Hormuz, Minggu (1/3/2026). Dua kapal dilaporkan diserang di perairan strategis tersebut ketika Iran melancarkan hari kedua serangan balasan menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Pulau Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil adalah tiga pulau terkecil yang berada di ujung barat lengkungan. Tiga pulau ini adalah kunci untuk mengendalikan Selat Hormuz, menurut kedua peneliti itu.

Karena jarak yang terbatas antarpulau tersebut serta kedalaman air di teluk yang dangkal, kapal perang dan tanker terpaksa melewati ketiga pulau itu. Alhasil, kapal-kapal tersebut menjadi sasaran empuk bagi kapal serang cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kapal penyebar ranjau, dan pesawat nirawak (drone).

AS bisa saja mencoba untuk menguasai tiga pulau itu. Namun, militer AS mesti berhadapan dengan pertahanan Iran yang sudah bersiaga di awal tikungan selat, yakni Hormuz, Larak, Qeshm, dan Hengam, serta daratan utama Iran.

Benteng selat

Bicara tentang pertahanan, Pulau Qeshm secara khusus menjadi sorotan utama. Sebagai pulau terbesar di Selat Hormuz, pulau ini memiliki luas 1.445 kilometer persegi. Letaknya hanya 22 kilometer dari selatan kota Bandar Abbas.

Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah, Pulau Qeshm menjadi benteng garis depan dalam konflik. Pulau ini berada di pintu masuk selat sehingga menghambat jalur distribusi minyak dan gas global dari negara-negara Teluk ke dunia luar.

Selain itu, Qeshm juga mendominasi Selat Clarence atau Kuran. Selat ini membatasi pulau dengan daratan Iran.

Citra satelit selebaran yang diambil oleh Planet Labs PBC pada Rabu (4/3/2026) memperlihatkan kerusakan di pelabuhan militer di kota pelabuhan Bandar Abbas, Iran, di sepanjang Selat Hormuz. Serangan terhadap Iran dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Pulau Qeshm dulu adalah salah satu tujuan wisata Iran karena memiliki ”museum” geologi terbuka, terutama formasi batuan surealis. Namun, perhatian dunia kini tertuju pada apa yang tersembunyi di pulau itu: ”kota-kota rudal bawah tanah” Iran.

”Qeshm menyimpan kemampuan Iran yang luar biasa di dalam ’kota rudal’ bawah tanah. Jaringan-jaringan luas ini dirancang untuk satu tujuan utama: untuk secara efektif mengendalikan atau menutup Selat Hormuz,” ujar ahli militer dan pensiunan Brigadir Jenderal Lebanon Hassan Jouni kepada Al Jazeera.

Axios mencatat, Pulau Qeshm menyimpan rudal antikapal, ranjau, pesawat nirawak (drone), dan pesawat serang lain di terowongan bawah tanah, menurut beberapa laporan. Tidak jelas pula berapa jumlah kapal serang cepat dan baterai pantai yang tersembunyi di bawahnya.

Qeshm telah menjalankan fungsinya selama perang. Teheran berhasil menutup Selat Hormuz secara efektif sampai mengganggu harga minyak dan gas dunia. Sebab, kapal apa pun yang lewat akan diserang. Baru belakangan Iran mengizinkan sejumlah kapal lewat secara terbatas, termasuk dari China dan India.

Strategi AS

Dengan kondisi geografisnya, Qeshm akan menjadi target yang sangat besar bagi AS dan Israel. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda operasi yang direncanakan untuk menduduki wilayah ini. The Washington Post, Sabtu lalu, menyatakan, Pentagon masih mempersiapkan operasi lapangan selama beberapa minggu di Iran.

Kabarnya, sekitar 3.000 anggota pasukan dari Divisi Lintas Udara Ke-82 Angkatan Darat AS semakin mendekati Iran. Mereka datang bersama dua Unit Ekspedisi Marinir untuk membantu operasi darat di Iran.

Kepada CNBC, pensiunan Angkatan Darat AS, Letnan Kolonel Daniel Davis, memperkirakan, ada tiga kemungkinan skenario yang bisa dilakukan Washington mengingat jumlah personel yang terbatas. Salah satunya ialah merebut Pulau Qeshm yang terletak di tikungan tapal kuda Selat Hormuz.

Skenario kedua bisa jadi adalah menargetkan Pulau Kharg. Adapun skenario ketiga adalah merebut lebih dari 400 kilogram uranium yang telah diperkaya jika Washington mampu menemukannya.

”Ide utamanya adalah menggagalkan kemampuan Iran untuk menggunakan pulau-pulau tersebut. Misi-misi itu dapat dilaksanakan. Pertanyaannya adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukannya dan kapan arus (di selat) dapat pulih,” ujar Kevin Donegan, pensiunan dan mantan Komandan Armada Ke-5 Angkatan Laut AS.

Seorang anggota kru darat berdiri di depan pesawat pengebom B-1 Lancer milik Angkatan Udara Amerika Serikat di pangkalan militer RAF Fairford, Inggris barat daya, sesaat setelah matahari terbit, Sabtu (7/2/2026). Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyetujui permintaan Washington untuk menggunakan pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia dan RAF Fairford di Inggris barat daya guna melancarkan serangan terhadap lokasi rudal Iran setelah beberapa negara Teluk menjadi sasaran serangan balasan Teheran.

Mendaratkan pasukan AS di pulau-pulau tersebut dapat melalui jalur udara atau laut. Militer AS bisa mengerahkan Landing Craft Air Cushioned (LCAC) ke pantai untuk menurunkan pasukan dan peralatan. Selain itu, AS bisa menggunakan pesawat tilt-rotor CV-22 Osprey yang mampu mendarat vertikal bersama dengan helikopter.

Namun, pertahanan Iran tentu akan bereaksi. Pekan lalu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, Teheran mengantisipasi potensi serangan dari ”musuh-musuh” untuk mencoba menduduki salah satu pulaunya.

”Semua pergerakan musuh berada di bawah pengawasan penuh angkatan bersenjata kami. Jika mereka melanggar aturan, semua infrastruktur vital di kawasan, tanpa batasan, akan menjadi sasaran serangan tanpa henti,” ucap Ghalibaf di X.

Sejarah Qeshm

Pulau Qeshm adalah pulau dengan banyak nama. Dalam bahasa Arab, pulau ini disebut sebagai Jazira-al-Ṭawila (Pulau Panjang) yang merujuk pada bentuk geografisnya yang memang memanjang.

Identitas pulau ini terbentuk pula oleh serangkaian kekaisaran. Menurut Encyclopaedia Iranica, penjelajah Yunani, Nearkhos, menyebut Qeshm sebagai Oaracta. Pada abad kesembilan, ahli geografi Islam menyebutnya sebagai Abarkawan, yang secara etimologis berarti Jazira-ye Gavan (Pulau Sapi).

Sejak dulu, Pulau Qeshm dianggap strategis. Para penguasa Hormuz memindahkan semua istana ke wilayah itu untuk menghindari serangan bangsa Tartar pada 1301. Selama berabad-abad, pulau ini berfungsi sebagai ”wadah air” guna menyediakan air minum yang vital bagi Kerajaan Hormuz yang gersang di sisi timur Teluk.

Kekayaan pulau itu begitu melegenda sehingga Komandan Ottoman Piri Reis menyerbu pulau itu pada tahun 1552. Catatan sejarah menggambarkannya sebagai ”hadiah terkaya yang dapat ditemukan di seluruh dunia”.

Seseorang menunjuk halaman situs MarineTraffic yang menampilkan lalu lintas kapal komersial di tepi Selat Hormuz dekat pesisir Iran, di Paris, Perancis, Rabu (4/3/2026). Jalur perdagangan minyak itu terganggu setelah Iran menutup selat karena perang.

Sejarah kolonial di pulau itu juga bergejolak. Portugis membangun benteng batu besar di Qeshm tahun 1621. Setahun kemudian, pasukan gabungan Persia dan Inggris mengusir Portugis dalam pertempuran yang merenggut nyawa navigator Arktika terkenal Inggris, William Baffin.

Pada abad ke-19, Inggris mendirikan pangkalan angkatan laut di Basidu (Bassadore). Atas permintaan shah Iran saat itu, Reza Shah Pahlavi, Inggris meninggalkan lokasi itu pada 1935.

Pada era modern, status Pulau Qeshm menjadi zona industri perdagangan bebas sejak 1989. Pulau ini menjadi salah satu lokasi dengan keanekaragaman ekologi paling tinggi di Timur Tengah karena memiliki Lembah Bintang, Goa Garam Namakdan, Ngarai Chahkooh, hutan bakau Hara, dan Taman Bumi (Geopark) Qeshm. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti