Akhir perang Iran melawan AS-Israel semakin tidak jelas. AS mengisyaratkan negosiasi untuk mengakhiri konflik, tetapi juga menambah 3.500 tentara di Timur Tengah.
30 Mar 2026 09:00 WIB · Internasional
AP/U.S. Central Command
WASHINGTON DC, SENIN- Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membawa tantangan pencarian solusi diplomasi atas perang di Timur Tengah. Sementara para tetangga Iran terus mengupayakan solusi.
Dilaporkan Financial Times, Senin (30/3/2026), Trump menyatakan mau menguasai minyak Iran dan menduduki Pulau Kharq, terminal ekspor minyak dan gas Iran. “Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran," ujarnya.
Pernyataan disampaikan di tengah kabar 3.500 tentara AS tiba di dekat Iran. Kedatangan pasukan AS bersamaan dengan rencana Departemen Pertahanan AS (Pentagon) yang sedang mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke Iran. Peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah membuat akhir perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 itu semakin tidak jelas.
The Washington Post, Minggu (29/3/2026), melaporkan, Pentagon mempersiapkan operasi darat selama beberapa minggu di Iran. Operasi ini tidak akan sampai pada invasi skala penuh. Serangan dapat melibatkan gabungan pasukan operasi khusus dan pasukan infanteri konvensional.
”Jika Presiden Donald Trump menyetujui rencana tersebut, upaya semacam itu akan menandai fase baru perang yang bisa jauh lebih berbahaya bagi pasukan AS daripada empat minggu pertama,” demikian laporan tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/18/fb9ffc99-9c97-4d64-82eb-23d4637e2f66.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/28/c822637407f19d372a5a619ea6ebdb99-Top_Vertical_Photos_Photo_Gallery_137081319.jpg)
Dalam beberapa hari terakhir, AS bimbang dalam menyikapi arah perang Iran ke depan. Di satu sisi, Trump telah mengisyaratkan keinginan negosiasi untuk mengakhiri konflik. Di sisi lain, AS justru menambah kekuatan militernya di sekitar Iran.
Pekan lalu, Trump mengatakan tidak akan mengirimkan pasukan darat ke Iran. Namun, pernyataan Trump sering kali berubah-ubah sehingga tindakannya tidak selalu sejalan dengan ucapannya.
”Jika saya melakukannya, saya tentu tidak akan memberi tahu Anda,” ujarnya kepada para jurnalis di Ruang Oval Gedung Putih.
Saat pertemuan para menteri luar negeri negara Kelompok 7 (G7) di Perancis, beberapa hari lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebutkan, perang di Iran dapat diakhiri tanpa mengerahkan pasukan darat. Bahkan, Rubio mengatakan, operasi militer di Iran akan berlangsung dalam beberapa pekan, bukan beberapa bulan seperti yang disampaikan sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/cc97b7ed54622c71c7f784181984f191-20260301_H01_Ledakan_Iran_mumed.png)
Sejumlah pihak, termasuk warga AS, menentang rencana operasi darat di Iran. Sebab, misi itu berpotensi membawa personel AS pada berbagai ancaman, seperti serangan drone, rudal, tembakan, dan bahan peledak dari tentara Iran.
Akan tetapi, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memperingatkan, jika rezim Teheran tidak mengakhiri ambisi nuklirnya serta menghentikan ancamannya terhadap AS dan sekutunya, Trump siap untuk melepaskan ”malapetaka" terhadap Iran. ”Menjadi tugas Pentagon untuk melakukan persiapan guna memberikan Panglima Tertinggi (Presiden) pilihan maksimal. Namun, itu tidak berarti Presiden (Trump) telah membuat keputusan,” katanya.
Muncul spekulasi pasukan AS dikerahkan untuk merebut Pulau Kharg yang berjarak sekitar 480 kilometer barat laut dari Selat Hormuz. Setidaknya 90 persen minyak yang diproduksi Iran diekspor melalui pulau ini.
AS pun telah menyerang Pulau Kharg pada 14 Maret lalu. Serangan menyasar fasilitas militer Iran di pulau itu. AS mengancam akan memperluas target serangan ke infrastruktur energi jika Iran terus memblokade Selat Hormuz.
Dalam beberapa hari terakhir, AS bimbang dalam menyikapi arah perang Iran ke depan. Trump telah mengisyaratkan keinginan negosiasi untuk mengakhiri konflik. Namun, di sisi lain, AS justru menambah kekuatan militernya di sekitar Iran.
Direktur Program Studi Militer dan Keamanan Washington Institute for Near East Policy Michael Eisenstadt mengatakan, misi merebut Pulau Kharg memiliki bahaya yang signifikan. Sebab, pulau itu dijaga ketat oleh militer Iran. Menurut dia, akan lebih aman bagi pasukan AS memasang ranjau di sekitar pulau tersebut. Langkah ini dapat digunakan untuk menekan Iran agar mencabut ranjau di Selat Hormuz.
”Saya hanya tidak ingin berada di tempat kecil itu dengan kemampuan Iran untuk menghujani drone dan mungkin artileri,” ujar Eisenstadt, pensiunan perwira Angkatan Darat yang pernah bertugas di Irak, Israel, dan Jordania.
Tambahan pasukan besar-besaran membuat potensi operasi darat AS ke Iran menguat. Apalagi, Pentagon telah meminta tambahan dana 200 miliar dolar AS (Rp 3.397 triliun). Dana itu untuk melanjutkan serangan ke Iran.
Akan tetapi, belum diketahui apakah Trump sudah menyetujui operasi darat di Iran. Sejumlah pihak menilai, Trump menghadapi pilihan sulit antara mencari jalan keluar melalui negosiasi atau meningkatkan eskalasi militer yang berisiko menyebabkan krisis berkepanjangan.
”Presiden Trump memiliki pilihan yang buruk di semua sisi untuk mengakhiri perang,” kata mantan wakil pejabat intelijen nasional AS untuk Timur Tengah Jonathan Panikoff.
Dilansir dari BBC, ribuan anggota pasukan AS yang tiba di Timur Tengah merupakan bagian dari unit yang dipimpin oleh kapal perang USS Tripoli. Kapal ini difungsikan untuk membawa jet tempur dan armada transportasi perang lainnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, AS telah mengerahkan sejumlah aset militernya ke Timur Tengah untuk berperang melawan Iran. Aset militer itu termasuk pesawat pengebom, jet tempur, kapal induk, dan pencegat rudal.
Komando Tengah AS (Centcom) menyatakan, tak hanya mengangkut pasukan marinir, USS Tripoli juga membawa pesawat angkut, pesawat tempur, serta aset serbu amfibi. Selain itu, kapal serbu amfibi USS Boxer dan dua kapal lain dikerahkan dari Pangkalan San Diego menuju Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/96c9b800d507eb1a43b53748abecb3d8-9573340.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/27/f3a63e5a-cadf-4bd3-bc07-e4dc44a9809c.jpg)
Kapal induk Angkatan Laut AS, USS Gerald R Ford, yang sebelumnya terlibat dalam operasi di sekitar Iran dilaporkan telah tiba di Kroasia untuk menjalani perbaikan. Kapal itu ditarik mundur setelah insiden kebakaran yang melukai para pelaut dan menyebabkan kerusakan signifikan.
Peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah dilakukan saat sejumlah negara di kawasan sedang berkomunikasi untuk mencoba mengakhiri konflik. Menteri luar negeri Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Mesir bertemu di Islamabad untuk membahas cara-cara menghentikan perang Iran.
Perang yang berlangsung lebih dari empat pekan itu telah menewaskan lebih dari 1.500 orang di Iran. Perang juga berdampak pada navigasi internasional, rantai pasok energi, dan ketahanan pangan. Kondisi ini berimplikasi pula terhadap keamanan energi karena terjadi lonjakan harga minyak.
Iran pun tak gentar menghadapi serangan AS yang lebih besar. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, pasukan Iran menunggu tentara AS memasuki wilayah Iran sehingga mereka dapat menghujani musuh dengan tembakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/22/47876cb6-9470-41ee-a599-a2f9e1baf443.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/22/13ee2be445b88cf67e153ec24163ad0e-Israel_US_Iran.jpeg)
”Mereka tidak menyadari bahwa pasukan kami sedang menunggu kedatangan tentara AS di darat untuk membakar mereka dan menghukum mitra regional mereka selamanya. Tembakan kami terus berlanjut. Rudal kami sudah siap,” ujar Ghalibaf, dilansir dari Al Jazeera.
Ghalibaf menyampaikan, laporan intelijen menunjukkan AS berencana untuk menduduki sebuah pulau di Iran. Rencana ini mendapatkan dukungan dari negara di Timur Tengah. Namun, ia tidak menyebutkan negara yang dimaksud.
Militer Iran juga terus melancarkan serangan balasan terhadap AS dan Israel. Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan, Garda Revolusi Iran (IRGC) menembakkan rudal dan drone yang menargetkan infrastruktur operasional udara serta persediaan senjata di sejumlah pangkalan militer AS, Minggu. Serangan selanjutnya akan menyasar lokasi pasukan AS dan Israel serta kelompok pendukungnya di sejumlah wilayah. (REUTERS/AP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti