Derita warga Gaza yang hidup dalam ketakutan dan kelaparan akibat perang.
25 Jul 2025 10:10 WIB · Internasional
Foto Yazan Abu Ful, bocah berusia dua tahun yang menghadap tembok di kamp pengungsan Shati, kota Gaza, Rabu (23/7/2025), itu sungguh menyedihkan. Punggungnya dipenuhi tonjolan tulang, menandakan kekurangan gizi. Kepalanya terlihat terlalu besar untuk badan yang sangat kurus itu.
Sementara di tempat lain, foto Mohammed al-Mutawaq, seorang bayi berusia 18 bulan yang berbaring di tikar di dalam tenda di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat kota Gaza, pun nyaris sama. Perutnya membusung dengan dada yang dihiasi tonjolan tulang. Popok berukuran kecil yang dikenakannya terlihat kedodoran karena pahanya yang sangat kurus.
Di tempat lain, Yasmine, seorang ibu Palestina berusia 22 tahun, terlihat menggendong putrinya, Teen, yang kekurangan gizi berusia 2 bulan di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan. Di sebelahnya juga terlihat seorang ibu menggendong anaknya balitanya dengan kondisi yang sama, kurus kering.
Tiga anak dari lokasi yang berbeda di Palestina ini menjadi gambaran betapa kelaparan telah membuat penduduknya menderita. Perang terbuka yang pecah antara Hamas dan Israel menjadi penyebab utama situasi ini. Blokade bantuan makanan dan obat-obatan yang dilakukan Israel mendorong bangsa Palestina menuju bencana kelaparan.
Di lain pihak, foto-foto yang dirilis jurnalis yang mendapat undangan tur media oleh Pemerintah Israel menunjukkan keadaan yang sangat berbeda. Tumpukan bahan makanan serta obat-obat dalam jumlah besar terlihat dalam penjagaan ketat tentara bersenjata. Beberapa tumpukan tampak berserakan dan isinya bertebaran di tanah.
Terlihat juga puluhan truk yang berisi bahan-bahan makanan dan obat-obatan yang bersiap untuk didistribusikan, tetapi hanya terparkir diam. Tempat penimbunan bantuan ini berada di persimpangan Kerem Shalom di Jalur Gaza. Berjarak hanya beberapa jam dari lokasi kamp pengungsian.
Bulan ini, kelaparan yang melanda lebih dari 2 juta warga Palestina di Gaza telah mencapai titik kritis yang mempercepat kematian. Tak hanya anak-anak yang menjadi korban blokade Israel sejak Maret, tetapi juga orang dewasa. Dalam tiga minggu terakhir, setidaknya 48 orang meninggal akibat malanutrisi. Jumlah ini termasuk 28 orang dewasa dan 20 anak-anak, seperti diungkap Kementerian Kesehatan Gaza.
Angka ini meningkat dari 10 anak yang meninggal dalam lima bulan sebelumnya di tahun 2025. PBB melaporkan angka serupa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Rabu menyatakan telah mendokumentasikan 21 anak balita yang meninggal karena terkait malanutrisi pada tahun 2025. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada hari Kamis menyatakan setidaknya 13 kematian anak dilaporkan pada bulan Juli, dengan jumlah yang terus bertambah setiap harinya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/25/be0f0f72-ae83-4537-9f7e-26650788e1ca_jpg.jpg)
Program Pangan Dunia PBB (WFP) menyatakan hampir 100.000 perempuan dan anak-anak sangat membutuhkan perawatan untuk malanutrisi. Para tenaga medis mengatakan mereka telah kehabisan banyak perawatan dan obat-obatan penting. Israel hanya mengizinkan sedikit pasokan masuk dalam dua bulan terakhir dan menyalahkan Hamas atas gangguan distribusi makanan.
Israel menghentikan total pasokan makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan pasokan lainnya ke Gaza selama 2,5 bulan, dimulai sejak Maret. Israel berdalih melakukannya untuk menekan Hamas agar membebaskan para sandera.
Pada akhir Mei, Israel sedikit melonggarkan blokade. Sejak itu, Israel telah mengizinkan masuknya sekitar 4.500 truk untuk didistribusikan oleh PBB dan kelompok bantuan lainnya, termasuk 2.500 ton makanan bayi dan makanan khusus berkalori tinggi untuk anak-anak, ungkap Kementerian Luar Negeri Israel, Rabu.
Rata-rata, 69 truk bantuan per hari, ini jauh di bawah kebutuhan yang diperkirakan oleh PBB, yakni 500-600 truk per hari. Ratusan warga Palestina telah tewas saat mencoba mendapatkan bantuan makanan. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan