Tanpa Intervensi Segera, Reporter Terakhir di Gaza Akan Mati

Situasi para jurnalis di Gaza saat ini. Selain risiko kematian karena perang, mereka pun sekarang kelaparan.

23 Jul 2025 11:00 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

”Saya sudah tidak kuat lagi bekerja untuk media. Tubuh saya kurus dan saya tidak sanggup lagi bekerja.” Demikian salah satu pesan di akun media sosial yang diidentifikasikan sebagai milik Bashar, salah satu fotografer AFP yang bertugas di Gaza. Tragis. Jurnalis menyerah bukan karena hambatan dalam perang ataupun kesulitan dan risiko, melainkan karena kelaparan.

Bashar mulai bekerja di AFP pada tahun 2010. Sejak Februari tahun ini, ia tinggal di reruntuhan rumahnya di kota Gaza bersama ibu dan anggota keluarga lainnya. Salah satu keluarganya meninggal karena kelaparan, menurut laporan kelompok jurnalis.

Warga Palestina membawa bantuan kemanusiaan yang diturunkan dari konvoi truk yang menuju ke Kota Gaza, di Jalur Gaza utara pada hari Minggu, 20 Juli 2025.

Perhimpunan Jurnalis AFP, sebuah asosiasi profesional di kantor berita tersebut, merinci apa yang dihadapi rekan-rekan mereka di Gaza. Manajemen kantor berita Agence France-Presse (AFP) menyatakan pada hari Selasa bahwa mereka turut prihatin terhadap situasi yang ”mengerikan” ini dan sedang berupaya mengevakuasi para pekerja lepas dan keluarga mereka.

”Selama berbulan-bulan, kami menyaksikan tanpa daya kondisi kehidupan mereka memburuk drastis,” kata AFP dalam sebuah pernyataan.

Situasi mereka kini tak tertahankan, terlepas dari keberanian, komitmen profesional, dan ketangguhan mereka yang patut dicontoh.

Para jurnalis menerima gaji bulanan dari AFP, tetapi harga yang selangit membuat mereka tidak mampu membeli makanan yang cukup. Pekerja AFP lainnya, Ahlam, mengatakan, setiap kali meninggalkan tempat penampungan untuk meliput suatu acara atau melakukan wawancara, dirinya tidak tahu apakah akan kembali hidup-hidup. ”Masalah terbesarnya adalah kekurangan makanan dan air,” ujarnya.

Warga Palestina menumpang truk bantuan yang kembali ke kota Gaza dari Jalur Gaza utara pada Selasa, 22 Juli 2025.
Warga Palestina membawa karung tepung yang diturunkan dari konvoi bantuan kemanusiaan yang mencapai kota Gaza dari Jalur Gaza utara, Selasa, 22 Juli 2025.
Suar iluminasi yang diluncurkan oleh tentara Israel terlihat di atas Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah Senin, 21 Juli 2025.
Asap dan api membubung dari serangan udara Israel di kota Gaza, Senin, 21 Juli 2025.
Mona al-Raqab mengangkat baju putranya yang berusia 5 tahun, Osama al-Raqab, yang menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi saat dia menerima perawatan di klinik malanutrisi di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, Jalur Gaza, Kamis, 1 Mei 2025.
Mayat jurnalis Islam Meqdad, yang terbunuh bersama dengan putranya dan lima anggota keluarga lainnya dalam serangan tentara Israel di rumah mereka, tergeletak di lantai di Rumah Sakit Nasser sebelum pemakamannya di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Minggu, 6 April 2025.

Sejak AFP didirikan pada tahun 1944, perhimpunan jurnalis menyatakan, ”Kita telah kehilangan jurnalis dalam konflik, beberapa terluka, yang lain ditawan. Namun, tak seorang pun dari kita yang ingat pernah melihat rekan kerja mati kelaparan”.

”Kami menolak melihat mereka mati,” kata perkumpulan itu.

AFP telah mempekerjakan satu penulis lepas, tiga fotografer, dan enam videografer lepas di Gaza sejak jurnalis stafnya pergi pada tahun 2024. Perwakilan kantor berita AP dan Reuters juga menyatakan keprihatinan terhadap tim mereka di sana, tetapi tidak mau mengatakan berapa banyak orang yang bekerja untuk mereka.

Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di Kota Gaza, Jalur Gaza utara, Senin, 14 Juli 2025.

Di wilayah yang dilanda perang, seperti di Israel, jurnalis asing biasanya dilarang masuk. Organisasi berita internasional seperti AFP, Associated Press (AP), dan Reuters mengandalkan tim lokal untuk meliput berita. Saat ini, mereka terhambat oleh masalah keamanan dan kelaparan di Gaza, tempat sekitar 59.000 orang tewas dalam perang selama 21 bulan tersebut.

Sekelompok jurnalis di kantor berita AFP menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kondisi yang dihadapi rekan-rekan mereka yang bekerja di Gaza, dengan mengatakan bahwa ”tanpa intervensi segera, reporter terakhir di Gaza akan mati”.

”Kami sangat prihatin terhadap staf kami di Gaza dan melakukan segala daya upaya untuk mendukung mereka,” kata Lauren Easton, juru bicara AP.

Dalam pernyataannya, Easton sangat bangga dengan pekerjaan yang terus dilakukan tim AP di tengah situasi sulit untuk terus memberikan informasi kepada dunia tentang apa yang terjadi di lapangan.

Asap dari pengeboman Israel di Jalur Gaza utara dekat perbatasan Israel-Gaza terlihat dari Israel selatan, Senin, 14 Juli 2025.
Seorang anak Palestina menunggu makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di kota Gaza, di Jalur Gaza utara, Senin, 14 Juli 2025.
Warga Palestina berjuang mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di kota Gaza, Jalur Gaza utara, Senin, 14 Juli 2025.
Sebuah perkemahan tenda untuk warga Palestina yang telantar membentang di antara reruntuhan bangunan yang dihancurkan oleh bom Israel di sebelah barat kota Gaza, Sabtu, 21 Juni 2025.
Warga Palestina berkumpul di titik distribusi bantuan yang didirikan oleh Badan Bantuan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation atau GHF) yang dikelola Israel dan Amerika Serikat yag berada di dekat kamp pengungsi Nuseirat, di Jalur Gaza, pada 25 Juni 2025.
Ribuan orang yang membawa karung tepung berjalan di sepanjang jalan Al-Rashid di Jabalia barat pada 17 Juni 2025, setelah truk bantuan kemanusiaan dilaporkan memasuki Jalur Gaza utara melalui penyeberangan perbatasan Zikim yang dikendalikan Israel.
Ribuan warga Palestina membawa tas berisi makanan dan paket bantuan kemanusiaan di Rafah, Jalur Gaza selatan, Minggu, 15 Juni 2025.
Mayar al-Arja, bayi berusia 2 tahun yang menderita kekurangan gizi, berbaring di tempat tidur di klinik di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, Gaza, Rabu, 21 Mei 2025.

Reuters menyatakan bahwa mereka melakukan kontak rutin dengan jurnalis lepasnya. Saat ini mereka berada dalam kesulitan ekstrem untuk mendapatkan makanan. Ini menyebabkan mereka serta semua penduduk Gaza mengalami kelaparan dan penyakit yang lebih parah.

Institusi tersebut menyatakan, pihaknya menyediakan dana tambahan untuk membantu mereka. ”Jika mereka ingin meninggalkan wilayah tersebut, kami akan memberikan bantuan apa pun untuk membantu mereka keluar,” kata Reuters.

Jurnalis di Gaza, selain harus menghadapi kesulitan hambatan serta risiko dalam melakukan tugas jurnalistiknya, kini juga harus menghadapi bencana kelaparan yang bisa merenggut nyawa mereka. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji