Situasi para jurnalis di Gaza saat ini. Selain risiko kematian karena perang, mereka pun sekarang kelaparan.
23 Jul 2025 11:00 WIB · Internasional
”Saya sudah tidak kuat lagi bekerja untuk media. Tubuh saya kurus dan saya tidak sanggup lagi bekerja.” Demikian salah satu pesan di akun media sosial yang diidentifikasikan sebagai milik Bashar, salah satu fotografer AFP yang bertugas di Gaza. Tragis. Jurnalis menyerah bukan karena hambatan dalam perang ataupun kesulitan dan risiko, melainkan karena kelaparan.
Bashar mulai bekerja di AFP pada tahun 2010. Sejak Februari tahun ini, ia tinggal di reruntuhan rumahnya di kota Gaza bersama ibu dan anggota keluarga lainnya. Salah satu keluarganya meninggal karena kelaparan, menurut laporan kelompok jurnalis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/23/a74956cc-509f-4d12-baa6-9c7cea0f622a_jpg.jpg)
Perhimpunan Jurnalis AFP, sebuah asosiasi profesional di kantor berita tersebut, merinci apa yang dihadapi rekan-rekan mereka di Gaza. Manajemen kantor berita Agence France-Presse (AFP) menyatakan pada hari Selasa bahwa mereka turut prihatin terhadap situasi yang ”mengerikan” ini dan sedang berupaya mengevakuasi para pekerja lepas dan keluarga mereka.
”Selama berbulan-bulan, kami menyaksikan tanpa daya kondisi kehidupan mereka memburuk drastis,” kata AFP dalam sebuah pernyataan.
Situasi mereka kini tak tertahankan, terlepas dari keberanian, komitmen profesional, dan ketangguhan mereka yang patut dicontoh.
Para jurnalis menerima gaji bulanan dari AFP, tetapi harga yang selangit membuat mereka tidak mampu membeli makanan yang cukup. Pekerja AFP lainnya, Ahlam, mengatakan, setiap kali meninggalkan tempat penampungan untuk meliput suatu acara atau melakukan wawancara, dirinya tidak tahu apakah akan kembali hidup-hidup. ”Masalah terbesarnya adalah kekurangan makanan dan air,” ujarnya.
Sejak AFP didirikan pada tahun 1944, perhimpunan jurnalis menyatakan, ”Kita telah kehilangan jurnalis dalam konflik, beberapa terluka, yang lain ditawan. Namun, tak seorang pun dari kita yang ingat pernah melihat rekan kerja mati kelaparan”.
”Kami menolak melihat mereka mati,” kata perkumpulan itu.
AFP telah mempekerjakan satu penulis lepas, tiga fotografer, dan enam videografer lepas di Gaza sejak jurnalis stafnya pergi pada tahun 2024. Perwakilan kantor berita AP dan Reuters juga menyatakan keprihatinan terhadap tim mereka di sana, tetapi tidak mau mengatakan berapa banyak orang yang bekerja untuk mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/15/56e2f35f-bf9d-4dd1-92d0-d6a8f87754cb_jpg.jpg)
Di wilayah yang dilanda perang, seperti di Israel, jurnalis asing biasanya dilarang masuk. Organisasi berita internasional seperti AFP, Associated Press (AP), dan Reuters mengandalkan tim lokal untuk meliput berita. Saat ini, mereka terhambat oleh masalah keamanan dan kelaparan di Gaza, tempat sekitar 59.000 orang tewas dalam perang selama 21 bulan tersebut.
Sekelompok jurnalis di kantor berita AFP menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kondisi yang dihadapi rekan-rekan mereka yang bekerja di Gaza, dengan mengatakan bahwa ”tanpa intervensi segera, reporter terakhir di Gaza akan mati”.
”Kami sangat prihatin terhadap staf kami di Gaza dan melakukan segala daya upaya untuk mendukung mereka,” kata Lauren Easton, juru bicara AP.
Dalam pernyataannya, Easton sangat bangga dengan pekerjaan yang terus dilakukan tim AP di tengah situasi sulit untuk terus memberikan informasi kepada dunia tentang apa yang terjadi di lapangan.
Reuters menyatakan bahwa mereka melakukan kontak rutin dengan jurnalis lepasnya. Saat ini mereka berada dalam kesulitan ekstrem untuk mendapatkan makanan. Ini menyebabkan mereka serta semua penduduk Gaza mengalami kelaparan dan penyakit yang lebih parah.
Institusi tersebut menyatakan, pihaknya menyediakan dana tambahan untuk membantu mereka. ”Jika mereka ingin meninggalkan wilayah tersebut, kami akan memberikan bantuan apa pun untuk membantu mereka keluar,” kata Reuters.
Jurnalis di Gaza, selain harus menghadapi kesulitan hambatan serta risiko dalam melakukan tugas jurnalistiknya, kini juga harus menghadapi bencana kelaparan yang bisa merenggut nyawa mereka. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji