Armada Kemanusiaan Menuju Gaza Kembali Dibayangi Pesawat Nirawak

Sekitar 50 kapal kembali berlayar menuju Gaza untuk menembus blokade Israel demi mengirim bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan rakyat Gaza.

04 Sep 2025 17:49 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

BARCELONA, SENIN — Para aktivis kembali berlayar dengan puluhan kapal kecil dalam misi kemanusiaan pro-Palestina, Misi Armada Sumud Global. Para aktivis ini mengusung tekad kuat untuk membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dengan menembus blokade Israel.

Kekhawatiran membayangi ketika pesawat-pesawat tak berawak bergerak membuntuti kapal-kapal itu pada Rabu (3/9/2025) pagi. Rekaman video menunjukkan, para aktivis panik melihat pesawat tak berawak melayang-layang di atas kapal mereka. ”Ada satu di atas setiap kapal, mungkin itu zionis,” teriak salah seorang aktivis.

Situs YNet yang mengunggah rekaman video aktivis Yasemin Acar, Rabu, menyebutkan, pesawat tak berawak itu mulai tampak ketika armada puluhan kapal itu berada sekitar 170 kilometer dari Pulau Mallorca.

The first vessel "Sirius" of a civilian flotilla, carrying pro-Palestinian activists and humanitarian aid and aiming to break the Israeli blockade of the Gaza Strip, leaves the Barcelona port on September 1, 2025, after being forced to return due to bad weather. Fierce Mediterranean winds forced back to Barcelona a Gaza-bound flotilla carrying humanitarian aid and hundreds of pro-Palestinian activists including environmental campaigner Greta Thunberg, organisers said today. Some 20 vessels left Barcelona yesterday aiming to "open a humanitarian corridor and end the ongoing genocide of the Palestinian people" amid the Israel-Hamas war, said the Global Sumud Flotilla -- sumud being the Arabic term for "resilience". (Photo by Lluis GENE / AFP)

Lebih dari 50 kapal dari 44 negara yang bermuatan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza meninggalkan Pelabuhan Barcelona, Spanyol, Senin malam. Situs Al Jazeera, Senin, menyebutkan, Australia, Brasil, Afrika Selatan, dan sejumlah negara Eropa ikut serta. Namun, para peserta tidak berafiliasi dengan pemerintah atau partai politik mana pun.

Sebelumnya, pada Minggu, mereka sudah berangkat berlayar, tetapi terpaksa kembali ke pelabuhan karena cuaca buruk. Angin kencang yang melebihi 30 knot atau 56 kilometer per jam dianggap membahayakan keselamatan semua orang di atas kapal.

Konvoi pertama yang terdiri atas puluhan kapal sipil kecil dengan para aktivis, pekerja kemanusiaan, dokter, pelaut, dan bantuan kemanusiaan itu sedianya berangkat dari Spanyol pada 31 Agustus dan berlabuh di Tunisia. Lalu, akan menyusul gelombang kedua pada 4 September 2025.

Puluhan kapal kecil yang tergabung dalam Misi Armada Sumud Global ini merupakan bagian dari inisiatif maritim internasional untuk warga Gaza yang sudah kelaparan. Sumud adalah istilah Arab yang berarti ’ketahanan’. Istilah Sumud sudah lama digunakan sebagai slogan perjuangan Palestina. Armada kapal ini merupakan misi maritim terbesar menuju Gaza karena terdiri atas sekitar 50 kapal dari 44 negara.

”Bebaskan, bebaskan Palestina,” teriak para aktivis di Pelabuhan Barcelona saat kapal-kapal meninggalkan pelabuhan. Aktivis pro-Palestina, termasuk aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg; aktor serial HBO, Game of Thrones, Liam Cunningham; dan Wali Kota Barcelona Ada Colau; juga ikut dalam armada tersebut. Armada itu juga mendapat dukungan dari aktris pemenang Academy Award, Susan Sarandon.

Swedish climate activist Greta Thunberg waves from a boat taking part in a civilian flotilla bound for Gaza, aiming to break the Israeli blockade and deliver humanitarian aid, in Barcelona, Spain, Sunday, Aug. 31, 2025. (AP Photo/Emilio Morenatti)

”Greta, apakah ada sesuatu di atas kita?” tanya seorang aktivis yang panik melihat pesawat tak berawak. Ketampakan pesawat tak berawak ini juga terjadi pada Juni lalu. Pada waktu itu, para aktivis menyatakan Israel menggunakan pesawat tak berawak untuk menjatuhkan sejenis gas air mata sebelum pasukan komando angkatan laut Israel dari Shayetet 13 menaiki kapal mereka.

Pada Mei lalu, kelompok lain yang menuju Gaza mengklaim kapal mereka telah diserang dan dilumpuhkan oleh pesawat tak berawak di dekat Malta. Dalam rekaman video, seorang aktivis berusaha menenangkan karena sampai sejauh ini pesawat tak berawak itu tidak menyerang.

Israel menganggap upaya menembus blokade itu sebagai aksi propaganda untuk mendukung Hamas. Besar kemungkinan militer Israel akan kembali berusaha menghentikan kapal-kapal tersebut mendekati Gaza, seperti yang selalu mereka lakukan selama ini.

Armada misi internasional ini diperkirakan tiba di Gaza pada pertengahan September. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir, Selasa, mendesak pihak berwenang untuk memenjarakan para aktivis yang mengangkut bantuan kemanusiaan dalam armada kapal itu. Israel menganggap mereka sebagai teroris.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyatakan bencana kelaparan terjadi di Gaza dan memperingatkan 500.000 orang menghadapi kondisi ”bencana” kemanusiaan tersebut. Perang di Gaza yang berlangsung hampir dua tahun itu telah menewaskan lebih dari 63.000 orang, dengan hampir 340 warga Palestina meninggal karena kekurangan gizi, termasuk 124 anak-anak.

Solidaritas

Al Jazeera menyebutkan, misi ini diorganisasikan oleh empat koalisi besar, termasuk kelompok-kelompok yang berpartisipasi dalam upaya kampanye darat dan laut sebelumnya ke Gaza. Empat koalisi besar itu adalah, pertama, Gerakan Global ke Gaza (GMTG) yang sebelumnya dikenal sebagai Global March to Gaza. Ini gerakan akar rumput yang mengorganisasikan aksi solidaritas global untuk mendukung Gaza dan mematahkan pengepungan Israel.

Koalisi kedua adalah Koalisi Armada Kebebasan (Freedom Flotilla Coalition/FFC) yang punya 15 tahun pengalaman menjalankan misi laut, termasuk armada-armada sebelumnya, seperti Madleen dan Handala.

A boat chartered by the organization "Thousand Madleens to Gaza", sails in Marseille bay, supported by a gathering in Marseille, on August 31, 2025, on its way to meet with a flotilla carrying humanitarian aid and activists vowing to try to "break the illegal siege of Gaza". (Photo by CLEMENT MAHOUDEAU / AFP)

Lalu, ada Armada Sumud Maghreb yang sebelumnya dikenal sebagai Konvoi Sumud. Ini adalah inisiatif di Afrika Utara yang menjalankan misi solidaritas untuk mengirimkan bantuan dan dukungan kepada rakyat Palestina. Selain itu, ada Sumud Nusantara atau konvoi yang dipimpin rakyat dari Malaysia dan delapan negara lain untuk mematahkan blokade Gaza dan memupuk solidaritas di antara negara-negara Selatan. Secara kolektif, mereka akan membentuk armada sipil terkoordinasi terbesar dalam sejarah.

Menurut Armada Sumud Global, koalisi ini diikuti banyak pihak, termasuk pekerja kemanusiaan, dokter, seniman, pendeta, pengacara, dan pelaut. Mereka dipersatukan oleh keyakinan akan martabat manusia, kekuatan aksi tanpa kekerasan, serta punya tujuan sama untuk mengakhiri pengepungan dan genosida.

Armada kapal ini berada di bawah pengawasan komite yang beranggotakan Thunberg, sejarawan Kleoniki Alexopoulou, aktivis hak asasi manusia Yasemin Acar, aktivis sosial-lingkungan Thiago Avila, ilmuwan politik dan pengacara Melanie Schweizer, ilmuwan sosial Karen Moynihan, dan fisikawan Maria Elena Delia. Bergabung pula dalam komite ini aktivis Palestina Saif Abukeshek, aktivis kemanusiaan Muhammad Nadir al-Nuri, aktivis Marouan Ben Guettaia, aktivis Wael Nawar, aktivis dan peneliti sosial Hayfa Mansouri, serta aktivis HAM Torkia Chaibi.

Dalam jumpa pers di Placa del Rei, Barcelona, ​​Abukeshek mengatakan, detail pelabuhan dan informasi mengenai kapal dirahasiakan demi alasan keamanan. Untuk menempuh perjalanan sekitar 3.000 kilometer ke Gaza, armada itu akan butuh waktu 7-8 hari. Flotila adalah sekelompok perahu atau kapal yang diorganisasikan untuk mengirimkan pasokan penting, seperti makanan, obat-obatan, dan material lain ke wilayah-wilayah yang sedang mengalami krisis.

A boat chartered by the organization "Thousand Madleens to Gaza", sails in Marseille bay, supported by a gathering of boats around him, off Marseille, on August 31, 2025, on its way to meet with a flotilla carrying humanitarian aid and activists vowing to try to "break the illegal siege of Gaza". (Photo by CLEMENT MAHOUDEAU / AFP)

Armada ini biasanya diorganisasikan ketika rute pasokan tradisional, seperti koridor udara dan darat, terblokir atau tidak dapat diakses. Sejak sebelum perang, Gaza tidak memiliki pelabuhan yang berfungsi setelah Israel mengebom dan menghancurkan bandara internasional Gaza pada 2001. Armada kemanusiaan dan akar rumput biasanya beroperasi di bawah perlindungan organisasi internasional dan diatur oleh hukum angkatan laut.

Banyak kapal yang berupaya menembus blokade Gaza. Pada 2008, dua kapal dari Gerakan Gaza Bebas berhasil mencapai Gaza dan ini menandai pelanggaran pertama blokade laut Israel. Gerakan yang didirikan pada 2006 oleh para aktivis selama perang Israel di Lebanon ini kemudian meluncurkan 31 kapal antara tahun 2008 dan 2016.

Lima di antaranya mencapai Gaza meskipun ada pembatasan ketat dari Israel. Sejak 2010, semua armada yang berupaya menembus blokade Gaza telah dicegat atau diserang oleh Israel di perairan internasional. Kapal terakhir yang berusaha menembus Gaza adalah Handala pada 26 Juli lalu. Namun, kapal itu tak sampai ke Gaza karena diserbu pasukan Israel.

(Reuters/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti