Laga Fajar/Fikri vs Raymond/Nikolaus lebih dari ”perang” senior-yunior. Ini pun soal tukar pengalaman dan pelajaran, adu ”psywar” dan gengsi, serta asa regenerasi.
24 Jan 2026 16:46 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
Sudah menjelang pukul 22.30 WIB, tetapi Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (23/1/2026), masih ramai penonton. Mereka tak beranjak dari tempat duduk meski laga yang tersaji sebenarnya sudah diketahui ujungnya, yaitu akan ada wakil Indonesia yang melangkah ke semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2026. Pertanyaannya cuma, siapa yang akan mewakili Indonesia itu?
Penonton bertahan untuk menyaksikan ganda putra Raymond Indra (21) dan Nikolaus Joaquin (20) menantang senior mereka di pemusatan latihan nasional, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Duel sesama wakil Indonesia itulah yang menjadi daya tarik partai perempat final yang dihelat paling akhir tersebut.
Bagi Raymond/Nikolaus dan Fajar/Fikri, pertarungan di perempat final adalah duel kedua mereka di panggung kompetisi, tetapi perdana di Indonesia. Dua bulan lalu, mereka bertemu di final Australia Terbuka 2025. Raymond/Nikolaus menang untuk meraih gelar juara di turnamen level Super 500 dengan skor 20-22, 21-10, 18-21.
Seperti partai puncak itu, pertandingan kembali berjalan ketat, tetapi Raymond/Nikolaus keluar sebagai pemenang. Ganda putra yang baru dipasangkan pada Februari 2025 ini mengalahkan senior mereka dengan skor 18-21, 21-19, 21-14 untuk menantang wakil Indonesia lainnya, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi, yang lebih dulu melaju ke semifinal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/36eb998b-de81-484d-82e6-90b86d924bb5.jpg)
”Pertandingan berjalan alot, ya. Cukup capek juga. Memang mereka pasangan muda yang lebih bertenaga, lebih cepat, dan daya juangnya sangat bagus,” kata Fikri memuji yuniornya.
Laga memang berjalan alot. Apalagi, pertemuan sesama wakil Indonesia, terutama antara senior dan yunior, juga merupakan pertarungan gengsi. Tidak ada yang mau kalah atau mengalah ketika sudah di pertandingan, tak ada pula batasan status atlet senior dan yunior.
Fajar/Fikri sebenarnya mendominasi pada awal laga. Pasangan yang sama-sama berasal dari klub SGS PLN Bandung, Jawa Barat, ini bahkan unggul hingga 8 poin saat kedudukan 12-4. Namun, permainan Raymond/Nikolaus mulai berkembang setelahnya.
Meski akhirnya kehilangan gim pertama, Raymond/Nikolaus dapat mengejar hingga menyamakan skor 16-16. Pasangan yang dimasukkan ke kategori pelatnas utama, naik dari pratama mulai 2026, ini pun makin percaya diri pada gim pertama dan penentu.
Pertandingan pada dua gim itu berjalan lebih ketat. Kedua pasangan mencoba mencegah melakukan kesalahan karena, jika terjadi, hal itu akan menghasilkan poin bagi lawan. Bukan hanya itu, apabila itu terjadi, mereka juga harus bersiap dapat ledekan dari lawan.
Namanya di dalam lapangan, ya tidak ada senior-yunior, tidak ada teman, pasti melihatnya itu musuh semua.
Apa yang dinantikan Nikolaus sebelumnya terwujud malam itu, yakni adu gengsi antara senior dan yunior yang diwarnai psywar. Baik Fajar/Fikri maupun Raymond/Nikolaus, dengan sama-sama berlagak tengil, bergantian saling ledek. Mereka, misalnya, berpura-pura memukul kok ketika pengembalian lawan membentur net atau keluar lapangan.
Di pertandingan, meski berstatus yunior, Raymond/Nikolaus bisa tanpa segan meledek senior mereka. Apalagi, ada wasit yang bisa jadi penengah. ”Soalnya mumpung di sini kan, cuma di sini kayaknya kami bisa tega gitu. Jadi, ya, kami maksimalkan saja (psywar-nya),” kata Nikolaus.
Wasit menegur kedua pasangan karena aksi saling ledek itu. Fajar bahkan diberi kartu kuning selepas meledek Raymond yang gagal mengembalikan kok walau sudah tersungkur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/f8b9c53a-c483-451e-9d4b-d08a8223a264.jpg)
Meski begitu, aksi yang kerap dilakukan dengan sama-sama menyunggingkan senyum itu memberi warna sendiri pada persaingan mereka. Penonton pun bersorak setiap mereka saling ledek dan menyadari ketika kedua pasangan ini saling memberi perhatian.
”Namanya di dalam lapangan, ya tidak ada senior-yunior, tidak ada teman, pasti melihatnya itu musuh semua,” ujar Fajar.
Dengan keluar sebagai pemenang, bisa dibilang Raymond/Nikolaus juga mampu memenangi perang psikologis dari senior. Itu seperti ujian yang mesti dilewati para yunior yang naik level dan memasuki persaingan dunia.
Fajar bercerita, ”ujian” seperti itu lumrah dialami para pemain. Saat berpasangan dengan Rian dan berstatus lebih yunior, Fajar juga pernah beradu psywar dengan ganda putra Indonesia lainnya, Kevin Sanjaya/Marcus Gideon. Salah satu pertemuan yang diingat Fajar adalah laga yang juga berlangsung di Istora.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/cb4be156-46f1-4134-ab5a-741e79b90f00.jpg)
Fajar/Rian dan Kevin/Marcus bertemu tiga kali di Istora pada tiga perhelatan berbeda, yakni Indonesia Terbuka 2018, Asian Games Jakarta-Palembang 2018, dan Indonesia Masters 2019. Saat itu, Kevin/Marcus yang dijuluki ”Minions” berstatus nomor satu dunia. Fajar/Rian adalah ganda putra Indonesia dengan kemampuan terdekat.
Fajar menggambarkan peperangan psikologis dengan Minions sebagai pertarungan yang lebih gila. Kini, kata Fajar, dia hanya sedang bertukar posisi dari yunior yang dulu menghadapi senior menjadi senior yang menghadapi yunior.
”Dengan tingkat kepercayaan diri itu, semoga Raymond/Nikolaus tidak hanya bisa melawan saya dan Fikri, tetapi juga melawan negara-negara lain, bisa kokoh seperti itu,” kata Fajar.
Duel ini juga lebih dari sekadar pertaruhan gengsi dan peperangan psikologis, tetapi bagai simbiosis mutualisme bagi Fajar/Fikri dan Raymond/Nikolaus. Fajar/Fikri memberi pengalaman dan ujian mental kepada yunior mereka, sedangkan Raymond/Niklaus memberi pelajaran agar seniornya lebih waspada dan mengantisipasi lawan yang lebih cepat dan kuat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/6596f644-b7df-4a09-86be-17d338a5c5d8.jpg)
Selepas laga, aura kebahagiaan terasa ketika Raymond/Nikolaus memasuki mixed zone, tempat bertemunya atlet dengan wartawan untuk wawancara. Mereka sudah dua kali mengalahkan senior dan mengatasi tantangan mental. Mereka juga mendapatkan tiket ke semifinal pada penampilan pertama sebagai pasangan di Indonesia Masters.
Setahun terakhir, mereka telah mencapai selangkah demi selangkah fase persaingan dunia. Dalam turnamen BWF, partisipasi mereka dimulai dari level International Series/Challenge yang menghasilkan empat gelar juara. Setelah itu, level turnamen mereka naik ke Super 100 dengan menjadi juara di Indonesia Masters dan Super 300 dengan juara di Korea Masters.
Di tengah kebahagiaan yang terus terpancar dari wajah mereka itu, Raymond/Nikolaus ditanya tentang apa yang membuat mereka tampak selalu ”lapar” kemenangan. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Nikolaus menjawab, ”Karena kami gen Z!”
”Kami sangat muda, jadi kami seperti selalu menjaga semangat kami. Kami bermain cepat dan kuat karena begitulah cara gen Z bermain,” ujarnya lagi.
Begitu jugalah generasi Z (lahir pada 1997-2012) membawa harapan regenerasi tak terputus di sektor ganda putra. Kepada Fajar/Fikri, punten dulu, saat ini waktunya Raymond/Nikolaus menunjukkan sinarnya di Indonesia Masters.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti