Turki dan Qatar membuka kembali kedutaan besar di Damaskus setelah belasan tahun tutup. AS, Inggris, dan UE melakukan kontak langsung.
16 Des 2024 20:25 WIB · Internasional
DAMASKUS, SENIN — Sejumlah negara yang hubungan diplomatiknya sempat terputus di era Presiden Bashar al-Assad kini mulai memulihkannya kembali. Mereka mulai menjalin hubungan dengan pemerintah sementara Suriah yang dipimpin Abu Mohammed al-Golani, pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS).
Turki dan Qatar membuka kembali kedutaan besar di Suriah setelah belasan tahun tutup. Sementara Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa telah melakukan kontak langsung kendati sebelumnya menyebut HTS sebagai organisasi teroris.
Delegasi Qatar mendarat di Damaskus, Suriah, Minggu (15/12/2024) waktu setempat, untuk bertemu dengan pejabat pemerintah transisi.
”Mereka menegaskan kembali komitmen penuh emirat Teluk untuk mendukung rakyat Suriah setelah keberhasilan revolusi mereka,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar.
Hasil dari pembicaraan itu, Kedutaan Besar Qatar akan kembali beroperasi pada Selasa (17/12/2024) setelah 13 tahun ditutup.
Kedutaan Besar Qatar ditutup pada tahap awal pemberontakan yang kemudian berlanjut menjadi perang saudara pada 2011. Tidak seperti negara-negara Arab lainnya, Qatar tidak pernah memulihkan hubungan dengan Suriah yang di era Bashar al-Assad.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/7b78740c9f8f5790cdf040429ebcc9c7-AFP_36QF3MG.jpg)
Seperti Qatar, Turki juga membuka kembali kedutaan besar di Damaskus pada Sabtu (14/12/2024) setelah 12 tahun tutup. Sementara itu, di London, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy mengatakan, London telah menjalin kontak diplomatik dengan HTS sebagai pemimpin serangan yang menggulingkan Assad.
Lammy juga mengumumkan paket bantuan untuk rakyat Suriah. Meski demikian, Inggris tetap memasukkan HTS sebagai organisasi teroris. ”Mereka tetap menjadi organisasi teroris yang dilarang, tetapi kami dapat melakukan kontak diplomatik dan kami memang melakukan kontak diplomatik,” katanya.
Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, AS juga telah melakukan kontak langsung dengan HTS, tetapi tetap menetapkan kelompok itu sebagai teroris. AS telah memasukkan HTS sebagai organisasi teroris sejak tahun 2018.
Adapun tim diplomatik Perancis dijadwalkan tiba di Damaskus pada Selasa untuk melakukan kontak awal dengan otoritas baru Suriah. ”Mereka juga akan mengevaluasi kebutuhan mendesak penduduk,” kata Penjabat Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot.
Selain negara-negara Barat, utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah, Geir Pedersen, juga tiba di Damaskus pada Minggu. Ia kemudian bertemu dengan Al-Golani yang sekarang memegang tampuk pimpinan sementara Suriah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/8d747106fb9df7a73c7ea4592e69d287-4cdfb21e30464a2f8505a0193b5d7520_0_cd479b71f4164637b682e38b9ba71a30.jpg)
Pedersen mendesak adanya proses keadilan dan akuntabilitas atas kejahatan yang selama ini berlangsung di Suriah. ”Dan, kita perlu memastikan bahwa itu melalui sistem peradilan yang kredibel dan bahwa kita tidak melihat adanya balas dendam,” katanya.
Pedersen juga menyerukan agar bantuan untuk rakyat Suriah segera ditingkatkan. Setelah perang saudara yang berlangsung sekitar 13 tahun, infrastruktur Suriah rusak parah.
Tantangan yang kita hadapi saat ini adalah kerusakan besar pada struktur kelembagaan dalam hal sumber daya manusia, ekonomi lokal, dan struktur sosial.
Ekonomi negara itu juga terpuruk di titik terendah. Warga mulai menggunakan mata uang Turki, lira, yang sebelumnya dilarang di era Assad.
Assad melarikan diri dari Suriah pada 8 Desember 2024. Ia dikabarkan lari ke Moskwa menyusul serangan kelompok pemberontak yang menyapu kota-kota strategis Suriah dalam 11 hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/42bca5cd8ce29dead2bb907438e47a82-AFP_36QG7PQ.jpg)
Selama 13 tahun perang saudara, Assad berhasil mempertahankan kekuasaannya di Damaskus. Perang saudara Suriah menewaskan lebih dari 500.000 orang dan membuat lebih dari separuh penduduk negara itu mengungsi ke negara-negara tetangga, terutama Turki.
Menteri Pertahanan Yasar Guler mengatakan, Turki menyatakan siap memberikan dukungan militer kepada pemerintah baru yang dibentuk oleh kelompok pemberontak. ”Kepemimpinan baru Suriah harus diberi kesempatan. Ankara siap memberikan dukungan yang diperlukan,” katanya.
Jalan-jalan di Damaskus perlahan kembali tenang sepekan setelah penggulingan kekuasaan. Anak-anak kembali ke sekolah untuk pertama kalinya sejak Assad melarikan diri pada Minggu. Seorang pejabat di salah satu sekolah mengatakan sekitar 30 persen murid telah kembali ke sekolah. Jumlahnya perlahan-lahan terus meningkat selama sepekan terakhir.
Kendati terlihat mulai normal, Gubernur sementara Damaskus Maher Marwan mengatakan, masih ada kendala besar di depan mata. ”Tantangan yang kita hadapi saat ini adalah kerusakan besar pada struktur kelembagaan dalam hal sumber daya manusia, ekonomi lokal, dan struktur sosial,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/015d221a6cc6547fb3a130e27a3f58f4-AFP_36QF4XN.jpg)
Pada hari Minggu, umat Kristen Suriah juga mulai menghadiri kebaktian gereja untuk pertama kalinya sejak jatuhnya Assad. Kebaktian berlangsung lancar dan aman.
Sebelumnya, kehadiran kelompok pemberontak memicu kekhawatiran berkurangnya perlindungan terhadap kaum minoritas agama dan etnis lain. Hal ini karena al-Golani, pemimpin kelompok HTS, berakar pada cabang Al-Qaeda di Suriah.
Namun, sebelum memimpin HTS, Al-Golani menyatakan telah meninggalkan Al-Qaeda dan ideologi kelompok itu. Pemerintah sementara Suriah telah menyatakan bahwa hak-hak semua warga Suriah akan dilindungi, sesuai aturan hukum yang berlaku.
Sementara itu, para tahanan di era Assad juga mulai menata kembali kehidupan mereka. Pekan lalu, mereka dibebaskan dari penjara-penjara era Assad.
Sejak kelompok pemberontak merebut Damaskus, sejumlah tahanan mulai mengungkap kejamnya penyiksaan yang mereka alami di bawah pemerintahan Assad.
”Menjelang akhir, saya hanya ingin mati, menunggu kapan mereka akan mengeksekusi kami,” kata Ghazi Mohammed al-Mohammed, salah satu tahanan yang dibebaskan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/65d9b1b9e039f0227163ca60b0acb859-AFP_36QD4H2.jpg)
Mohammed mengatakan, dia tidak tahu mengapa dia ditangkap. Lelaki itu menghabiskan lebih dari lima bulan di penjara. Di sana ia disiksa dan mendapat ancaman pembunuhan.
Rezim Assad yang dikenal kejam kerap menangkap orang-orang yang dicurigai bertentangan dengan pemerintah. Rezim itu juga dikenal kerap menyiksa tahanan. Tak heran apabila proses pembebasan tahanan dari penjara-penjara Assad diwarnai momen-momen dramatis.
Di tengah euforia warga Suriah setelah jatuhnya Assad, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan telah mengevakuasi beberapa staf diplomatiknya dari Suriah pada hari Minggu. Evakuasi dilakukan dengan penerbangan khusus Angkatan Udara Rusia dari pangkalan udara Hmeimim di Suriah.
Selama ini, Rusia mendukung Assad. Selain dari Rusia, Assad juga memperoleh dukungan dari Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Serangan kelompok yang dipimpin HTS dimulai pada 27 November 2024, bersamaan dengan mulai berlakunya gencatan senjata Israel-Hizbullah di Lebanon.
Sejak jatuhnya Assad, Israel dan Turki melakukan sejumlah serangan militer di dalam wilayah Suriah. Senin pagi, lembaga pemantau Syrian Observatory for Human Right (SOHR), melaporkan bahwa serangan Israel menghantam pesisir Tartus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/fed754e546ef129898a4e336658ebc8a-15ee119c235b46469a0da4b3d9293916_1_338dacbc331d4ee1aac304c6f70781df.jpg)
Sebelumnya, SOHR melaporkan Israel melakukan serangan lebih dari 200 kali. ”Serangan bom Senin pagi adalah serangan terbesar Israel di wilayah itu dalam lebih dari satu dekade,” demikian laporan SOHR.
Israel juga telah memerintahkan pasukannya untuk bertahan di zona penyangga di Dataran Tinggi Golan. Zona yang memisahkan pasukan Israel dan Suriah itu merupakan wilayah di bawah pengawasan PBB.
Tindakan dan serangan Israel ini dikecam oleh Arab Saudi dan Qatar. PBB menyebutnya sebagai pelanggaran gencatan senjata tahun 1974.
Meski demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan tak berniat menguasai wilayah Suriah. ”Kebijakan Israel terhadap Suriah akan ditentukan oleh realitas yang berkembang di lapangan,” katanya dalam sebuah pernyataan video. (AFP/AP/Reuters)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Bonifasius Josie Susilo H