Eko Yuli Irawan kembali membuktikan, dia lifter terbaik Indonesia di kelasnya. Dia meraih perunggu ”snatch” Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2025 lewat aksi luar biasa.
05 Okt 2025 04:42 WIB · Olahraga
FORDE, SABTU — Meski fokus utama adalah SEA Games Thailand 2025, Eko Yuli Irawan tetap menunjukkan penampilan yang menuai pujian dan tepuk tangan penonton di Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2025. Lifter veteran Indonesia ini bahkan membuktikan dirinya belum ”habis” dengan meraih medali perunggu.
Eko Yuli meraih perunggu jenis angkatan snatch (mengangkat beban tanpa jeda dari lantai hingga di atas kepala) kelas 65 kilogram Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2025 di Forde, Norwegia, Sabtu (4/10/2025) menjelang tengah malam WIB. Lifter berusia 36 tahun ini sukses mencatatkan angkatan terbaik seberat 137 kilogram.
Peluang meraih medali itu sempat menipis ketika Eko Yuli gagal dalam dua kesempatan snatch. Pemilik empat medali Olimpiade ini gagal pada percobaan pertama snatch seberat 135 kg dan kembali tak berhasil pada percobaan kedua seberat 136 kg.
Eko sebenarnya mampu mengangkat beban 135 kg pada percobaan pertama. Namun, juri menyatakan angkatan itu tidak sah. Penyebab angkatan dianggap tidak sah adalah gerakan yang dinilai tidak sempurna.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/05/87df56956414daa32cbbe26818442ee4-Screenshot_2025_10_05_at_01.29.36.png)
Justru pada percobaan terakhir dengan beban yang lebih berat, Eko sukses menuntaskan angkatannya. Bahkan, penampilan Eko itu mengundang riuh dari penonton yang bertepuk tangan atas keberhasilannya.
Setelah menaburkan bubuk magnesium ke tangan, Eko memejamkan mata sembari mengatur napas. Eko lantas mengangkat barbel dengan meyakinkan.
Gerakannya sempurna dan dinyatakan sah. Eko sukses mengangkat beban 137 kg sekaligus menyalakan kembali peluang podium. Lifter asal Lampung ini lantas tersenyum sembari memberi hormat.
”Inilah kenapa dia adalah legenda sebenarnya!” kata komentator diikuti pujian lain bahwa Eko menunjukkan ketangguhan mental dan merupakan seorang masterclas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/26/60871b46565ef7386c2e97e32c6ad1fe-DSC04196.JPG)
Angkatan terbaik Eko sebenarnya sama dengan peraih perak, yakni Ivan Petkov Dimov (Bulgaria). Namun, Dimov berhasil mengangkat beban 137 kg lebih dulu pada percobaan kedua.
Setelah Eko berhasil dengan angkatan 137 kg, sebenarnya beberapa lifter lain sempat mencoba beban yang lebih berat demi menggeser dia dari podium. Itu termasuk peraih perunggu kelas 61 kg Olimpiade Paris 2024, Hampton Miller Morris (Amerika Serikat).
Morris ”memasang” angkatan 139 kg pada percobaan terakhirnya. Jika berhasil, Morris akan meraih perak setelah menjadi lifter kedua terbaik di snatch setelah Muhammed Furkan (Turki) dengan 145 kg dan otomatis pula Eko akan terdepak dari podium. Namun, Morris gagal menuntaskan angkatan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/05/8fea64f5b575bb8777ef6f639ca5f4a5-IMG_3450.jpg)
Sebelum berangkat, pelatih tim angkat besi Indonesia yang menangani Eko, Erwin Abdullah, mengatakan, fokus utama sang lifter sebenarnya adalah SEA Games Thailand 2025. Eko adalah lifter terbaik pada seleksi nasional pada Agustus lalu sehingga berhak mewakili Indonesia di ajang dua tahunan tersebut.
Adapun Kejuaraan Dunia hanya berselang dua bulan dari SEA Games yang akan digelar mulai 9 Desember. Dengan jarak yang berdekatan itu, perlu ada salah satu ajang yang jadi prioritas.
”Sulit jika memaksimalkan semuanya karena atlet butuh pemulihan juga,” tutur Erwin.
Di sisi lain, kata Erwin, Indonesia juga mengirimkan lifter lain di kelas 65 kg, yakni Leonardo Geovani Adventino. Yunior Eko Yuli ini tidak akan bersaing di SEA Games sehingga bisa fokus memaksimalkan di Kejuaraan Dunia untuk menargetkan podium.
Namun, Leonardo tak berhasil membawa pulang medali setelah finis pada peringkat ke-8 untuk snatch dengan angkatan terbaik 133 kg. Lifter kelahiran 2004 ini menempati posisi ke-10 untuk angkatan clean and jerk (162 kg) dan total angkatan (295 kg).
Padahal, saat seleksi nasional ”melawan” Eko, Leonardo mampu mengangkat snatch seberat 137 kg. Meskipun demikian, angkatan Leonardo saat itu tidak sah lantaran waktunya habis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/21/a9c7a202-7e24-4722-a106-b829beb37eb1_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/21/3f3d3b9b-d052-4b5b-a391-1d4b8dd49621_jpg.jpg)
Adapun Eko finis pada peringkat ke-9 pada angkatan clean and jerk (mengangkat beban dalam dua tahap). Angkatan terbaik Eko adalah 163 kg. Pada total angkatan, Eko menempati peringkat ke-7 dengan total angkatan 300 kg.
Hasil di Kejuaraan Dunia menunjukkan, Eko masih jadi lifter terbaik Indonesia di kelasnya. Usianya mungkin tidak lagi muda, tetapi kemampuannya masih belum tertandingi yuniornya.
Kendati demikian, Kejuaraan Dunia jadi pengalaman berharga bagi Leonardo yang baru debut internasional. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia Djoko Pramono, saat pelepasan atlet, pekan lalu, mengutarakan harapannya agar Eko bisa ”mengerek” kemampuan yuniornya seperti Leonardo.
Sebelumnya, wakil Indonesia pada sektor putri sudah tampil lebih dulu pada kelas 53 kilogram pada Jumat (3/10/2025) malam. Indonesia mengirimkan dua lifter yang bertarung di Grup B, yakni Juliana Klarisa dan Basilia Ninggan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/05/8b2f7d54bc9f2c59af60b41464c37d29-20251003_GSca_GS20875_1536x1024.jpg)
Namun, baik Klarisa maupun Basilia gagal membawa pulang medali. Klarisa finis pada posisi ke-10 untuk snatch dengan angkatan terbaik 80 kg, peringkat ke-8 untuk clean and jerk (103 kg), dan ranking ke-9 untuk total angkatan 183 kg.
Sementara itu, Basilia menempati peringkat ke-11 untuk snatch dengan angkatan terbaik juga 80 kg. Pada clean and jerk, Basilia menempati posisi ke-16 dengan angkatan terbaik 101 dan pada total angkatan di peringkat ke-11 dengan 181 kg.
Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2025 merupakan ajang level dunia pertama yang melombakan kategori berat badan baru. Per Juni, IWF (Federasi Angkat Besi Internasional) menerapkan kelas baru yang terdiri dari 60 kilogram, 65 kg, 71 kg, 79 kg, 88 kg, 98 kg, 110 kg, dan +110 kg pada sektor putra dan 48 kg, 53 kg, 58 kg, 63 kg, 69 kg, 77 kg, 86 kg, dan +86 kg pada sektor putri.
Indonesia mengirim masing-masing lima lifter putra dan putri ke Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2025 yang digelar pada 2-10 Oktober ini. Mereka bersaing di tujuh kategori berat badan.
Pada Minggu (5/10/2025) mulai pukul 00.30 WIB, lifter putri Natasya Beteyob tampil pada kelas 58 kg Grup A. Selanjutnya, mulai pukul 17.00 WIB, Ardaraya tampil pada kelas 71 kg Grup B putra. Setelah itu, Nadita Aprilia unjuk kekuatan pada kelas 63 kg Grup B putri mulai pukul 19.30 WIB.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto