Sudah tak tahan dengan berbagai kebijakan Trump, ribuan orang di berbagai kota di AS protes. Tak hanya lawan, sekutu pun mulai mempertanyakan kebijakan Trump.
06 Feb 2025 09:16 WIB · Internasional
NEW YORK, KAMIS — Rakyat Amerika Serikat mulai gelisah dengan kebijakan-kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump. Ribuan orang di kota Philadelphia, Minnesota, Michigan, Texas, Wisconsin, dan Indiana berunjuk rasa memprotes kebijakan imigrasi, pencabutan hak transjender, dan gagasan memindahkan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza. Hanya dalam dua pekan terakhir, Trump dituding sudah memorakporandakan demokrasi AS.
Para pengunjuk rasa, Rabu (5/2/2025) waktu setempat atau Kamis waktu Indonesia, membawa spanduk-spanduk yang mengecam Trump, miliarder Elon Musk yang memimpin Departemen Efisiensi Pemerintahan, dan Proyek 2025 atau buku pedoman sayap kanan garis keras untuk pemerintah dan masyarakat AS.
Protes ini hasil dari gerakan yang diorganisasi secara daring dengan tagar #buildtheresistance dan #50501 yang merupakan singkatan dari 50 protes, 50 negara bagian, dalam satu hari.
Laman dan akun di seluruh media sosial mengeluarkan seruan untuk beraksi. Seruan itu disertai pesan-pesan seperti ”tolak fasisme” dan ”pertahankan demokrasi kita”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/06/eca388b4892df1e99ca5e5ea39ba1e03-000_36X94MH.jpg)
”Saya tidak menyangka demokrasi bisa berubah hanya dalam dua pekan terakhir. Saya ikut protes untuk menunjukkan saya ikut melawan,” kata pengunjuk rasa di Colombus, Ohio, Margaret Wilmeth.
Catie Miglietti, warga Michigan, khawatir dengan Musk yang diberi akses masuk ke data Departemen Keuangan. Jika dibiarkan dan Kongres AS tidak bertindak, ini sama saja dengan serangan terhadap demokrasi.
Sejumlah anggota Kongres sudah menyatakan kekhawatiran akan keterlibatan Musk pada sistem pembayaran Pemerintah AS. Hal itu berisiko tinggi pada keamanan atau pembayaran untuk program-program, seperti Jaminan Sosial dan Asuransi Kesehatan. Akan tetapi, seorang pejabat di Departemen Keuangan AS mengatakan, Musk hanya akan memiliki ”akses baca”.
Trump menandatangani serangkaian perintah eksekutif, mulai dari perdagangan, imigrasi, hingga perubahan iklim. Ketika Partai Demokrat mulai menyuarakan penolakan terhadap agenda Trump, protes berlipat ganda.
Para kritikus sering kali dibuat bingung oleh gagasan-gagasan Trump yang dianggap aneh dan tidak masuk akal untuk mengatasi masalah-masalah rumit. Banyak juga yang bertanya-tanya apakah Trump betul-betul serius atau hanya ingin menunjukkan posisi negosiasi, atau sekadar mengalihkan perhatian.
”Banyak dari omongan Presiden Trump yang hiperbola, negosiasi yang cerdik, dan serius pada saat yang bersamaan. Ketika dia mengatakan sesuatu yang tampaknya keterlaluan dan kemudian tidak terjadi, dia menganggap itu sebagai lelucon atau taktik negosiasi. Tetapi, ketika sesekali berhasil, dia menyebut dirinya sebagai orang yang genius,” kata Direktur Sekolah Media Universitas George Washington Peter Loge kepada kantor berita AFP.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/06/c4c32245f1af1796c2b60a630e9babd1-000_36X98PV.jpg)
Taktik favorit yang sering dipakai Trump adalah membuat orang menebak-nebak. Selain itu, ciri khas Trump ada pada gagasan-gagasan yang aneh. Pada 2020, Trump pernah melontarkan gagasan menyuntikkan disinfektan untuk mengobati infeksi Covid-19 atau entah bagaimana memasukan bentuk cahaya steril ke dalam tubuh orang.
Dalam kasus lain, Trump pernah berjanji mengakhiri perang Ukraina dalam waktu hanya 24 jam. Trump juga mengejutkan dunia dengan tiba-tiba berbicara soal mencaplok Kanada dan Greenland serta merebut kembali Terusan Panama.
Gagasan Trump yang terbaru tentang Gaza lebih tidak jelas lagi. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji Trump yang pemikiran-pemikirannya disebutnya ”di luar kotak”. ”Anda mengatakan hal-hal yang orang lain tidak mau katakan. Setelah terkejut, mereka pasti mengakui Anda benar,” ujarnya.
Tanpa penjelasan lebih lanjut dari Trump, Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS menjadi sibuk karena harus menarik kembali beberapa hal tentang apakah langkah terkait Gaza menjadi perubahan permanen atau apakah akan melibatkan pasukan AS di lapangan.
Peneliti senior di Middle East Institute di Washington, Mirette Mabrouk, melihatnya secara berbeda. Bagi Mabrouk, Trump mengeluarkan gagasan-gagasan aneh itu semata-mata untuk mengalihkan perhatian rakyat dari masalah politik yang lebih penting. Trump berusaha menutupi fakta bahwa dia belum berhasil menurunkan inflasi seperti yang dijanjikannya. ”Semua isu internasional yang penting-penting itu tidak ada yang berkontribusi pada harga telur,” ujarnya.
Trump pun mengeluarkan gagasan aneh sebagai alat negosiasi. Taktik ini digunakan Trump saat mengancam tarif pada Meksiko dan Kanada. Ancaman itu dihentikan ketika Meksiko dan Kanada setuju untuk mengambil langkah-langkah keamanan perbatasan.
Taktik ini ada di dalam buku ”The Art of the Deal” tahun 1987. Dulu gagasan-gagasan Trump dianggap aneh sehingga sedikit yang menganggapnya serius. Namun, banyak juga yang tidak menganggapnya aneh karena terbukti dia terpilih menjadi presiden AS, dua kali.
Jangankan lawan-lawannya, sekutu-sekutunya Trump pun bingung. Saat kampanye, Trump menjanjikan pemerintahan yang tidak akan menyia-nyiakan nyawa warga AS dan harta pembayar pajak untuk perang-perang yang jauh dari AS dan pembangunan negara lain.
Namun, ternyata Trump hendak menggunakan kekuatan AS untuk mengambil alih dan membangun kembali Gaza. Tak lupa, ada ide merebut Terusan Panama dan membeli Greenland. Ada pergeseran retorika Trump dari ”America First” menjadi ”America Everywhere”.
”Upaya perdamaian seharusnya dilakukan Israel dan Palestina. Saya kira kita harus mendahulukan Amerika. Kita tidak punya urusan dengan pendudukan daerah lain yang akan menghancurkan kita sendiri,” kata Senator Rand Paul, sekutu Trump di Partai Republik. Kebingungannya itu dicurahkan dalam unggahan di media sosial.
Segera setelah komentar Trump tentang Gaza keluar, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt buru-buru menjelaskan maksud Trump. Keduanya mengatakan, Trump tidak bermaksud merelokasi warga Gaza secara permanen.
Rubio mengatakan, gagasan Trump untuk mengambil kepemilikan Gaza dan membangun kembali Gaza itu harus dilihat sebagai tawaran saja. ”Itu tidak dimaksudkan sebagai tindakan yang bermusuhan. Itu tawaran yang sangat dermawan. Seperti korban bencana alam, para korban pasti butuh tempat tinggal sementara untuk membangun kembali tempat tinggalnya,” ujarnya.
Leavitt juga mengecilkan prospek bahwa rencana Trump akan membebani pembayar pajak AS. Leavitt mengatakan, Trump tidak akan mengerahkan pasukan AS ke Gaza. Padahal, sebelumnya, persis itulah yang dikatakan Trump.
”Sudah sangat jelas bagi presiden bahwa Amerika Serikat perlu terlibat dalam upaya pembangunan kembali. Ini untuk memastikan stabilitas di kawasan itu bagi semua orang. Namun, itu tidak berarti pasukan AS ada di Gaza. Itu tidak berarti pembayar pajak Amerika akan mendanai upaya ini,” ujarnya.
Pembicaraan tentang ekspansionis di Gaza mulai terdengar saat Trump berupaya untuk menutup Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), badan federal yang menyediakan bantuan penting untuk mendanai pendidikan serta memerangi kelaparan, epidemi, dan kemiskinan di luar negeri. Trump melihatnya sebagai contoh pemborosan pemerintah dan kemajuan program sosial liberal.
(Reuters/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .