Ramalan FAO: Produksi dan Impor Gula RI Bakal Naik pada 2026

Hilirisasi komoditas tebu perlu dibarengi pengetatan pengawasan peredaran gula rafinasi dan gula impor ilegal. Jaminan serapan dan harga tetes tebu juga penting.

14 Nov 2025 14:32 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS\Totok Wijayanto

Oleh Hendriyo Widi

Organisasi Pangan dan Pertanian atau FAO memperkirakan produksi gula dunia pada 2026 meningkat cukup signifikan. FAO juga meramalkan produksi dan impor gula Indonesia pada 2026 bakal naik masing-masing menjadi 2,8 juta ton dan 5,4 juta ton.

Kenaikan poduksi gula dunia itu diikuti dengan peningkatan konsumsi gula dan pengembangan bioetanol berbasis tetes tebu. Di sisi lain, harga gula internasional turun ke level terendah sejak Desember 2020.

Dalam FAO Food Outlook Edisi November 2025 yang dirilis di Roma, Italia, Kamis (13/11/2025) sore, FAO memperkirakan produksi gula dunia pada 2026 sebesar 185,3 juta ton. Volume produksi itu naik 9,7 juta ton atau 5,5 persen dari produksi gula dunia pada 2025 yang sebanyak 175,5 juta ton.

Amerika Latin dan Asia masih menjadi kawasan penopang pertama dan kedua produksi gula dunia. Produksi gula di Amerika Latin diperkirakan meningkat, dari 49,6 juta ton pada 2025 menjadi 51,6 juta ton pada 2026. Pada periode sama, produksi gula di Asia juga diproyeksikan naik, dari 65,1 juta ton menjadi 74,6 juta ton.

Quote

Eropa yang selama ini menjadi kawasan terbesar ketiga penopang produksi gula dunia, produksi gulanya justru diramal turun.

Proyeksi produksi gula dunia pada 2026

Peningkatan produksi gula itu ditopang perluasan lahan tebu dan panen tebu yang berlimpah di sejumlah negara produsen gula, terutama Brasil dan India. Di Brasil, produksi gula diperkirakan meningkat, dari 42,8 juta ton pada 2025 menjadi 44,5 juta ton pada 2026.

”Peningkatan produksi gula di Brasil disebabkan oleh pemulihan rendemen tebu seiring menurunnya risiko cuaca. Namun, negara produsen dan eksportir gula terbesar dunia itu masih memfokuskan sebagian besar panenan tebu untuk memproduksi etanol,” sebut FAO dalam laporan itu.

FAO juga memproyeksikan produksi gula India pada 2026 sebesar 34,9 juta ton. Volume produksi itu meningkat signifikan, yakni sebanyak 8,5 juta ton dari produksi gula pada 2025 yang mencapai 26,4 juta ton.

Peningkatan produksi itu terutama ditopang oleh perluasan lahan tebu. Di sisi lain, pemulihan rendemen tebu akibat berkurangnya dampak perubahan cuaca juga turut menjadi faktor penunjang peningkatan produksi.

Adapun di Thailand, produksi gula hanya meningkat tipis dari 10 juta ton pada 2025 menjadi 10,5 juta ton pada 2026. Ini mengingat penyakit daun putih tebu mewabah di negara eksportir gula terbesar kedua dunia itu.

Bahkan, Eropa yang selama ini menjadi kawasan terbesar ketiga penopang produksi gula dunia produksi gulanya justru diramal turun. Dalam setahun, yakni 2025-2026, produksi gula Eropa diperkirakan turun dari  26,7 juta ton menjadi 24,6 juta ton. Ini terjadi lantaran berkurangnya lahan tebu dan peningkatan biaya produksi gula di kawaan tersebut.

Buruh tani menaburkan pupuk pada bibit tebu yang disemaikan di Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (1/2/2023). Bibit hasil penyemaian selanjutnya dibagikan kepada para petani tebu yang membutuhkan.

Dalam laporan itu, FAO juga memperkirakan konsumsi gula dunia pada 2026 sebanyak 180,2 juta ton. Konsumsi tersebut naik 2,4 juta ton atau 1,34 persen dibandingkan dengan konsumsi gula dunia pada 2025 yang sebanyak 177,8 juta ton.

Peningkatan konsumsi gula itu terutama bakal ditopang peningkatan konsumsi gula di Afrika akibat pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Faktor lainnya adalah permintaan yang kuat dari industri makanan dan minuman di Asia.

Peningkatan konsumsi yang diimbangi dengan peningkatan produksi gula itu menyebabkan harga gula internasional cenderung turun. Bahkan, pada Oktober 2025, harga gula internasional turun ke level terendah sejak Desember 2020.

FAO mencatat, indeks harga gula dunia pada Oktober 2025 sebesar 94,1. Pada Desember 2020, indeks harga gula dunia tersebut sebesar 96,1.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani (kanan) meninjau penjualan dan penyaluran beras, gula, dan minyak makan untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan di Pasar Petisah, Medan, Sumatera Utara, Jumat (19/9/2025).

Hilirisasi tebu RI

Dalam laporan itu, FAO juga memproyeksikan produksi gula di Indonesia meningkat, dari 2,6 juta ton pada 2025 menjadi 2,8 juta ton pada 2026. Impor gula Indonesia diperkirakan naik, dari 5,1 juta ton pada 2025 menjadi 5,4 juta ton pada 2026.

Proyeksi FAO tentang produksi gula Indonesia itu lebih rendah dari target produksi gula yang dicanangkan Kementerian Pertanian (Kementan) RI sebanyak 3 juta ton pada 2026. Pada 2025, Kementan memperkirakan produksi gula nasional bisa mencapai 2,75 juta ton.

”Berdasarkan taksasi awal 2025, produksi gula diperkirakan mencapai 2,901 juta ton dari luas areal sekitar 538.000 hektar. Jika mengacu pada rerata realisasi 95 persen, maka produksi aktual 2025 diprediksi mencapai 2,75 juta ton, tertinggi dalam lima tahun terakhir,” kata Menteri Pertanian Andi Amran dalam Rapat Finalisasi Hilirisasi Perkebunan di Jakarta pada 7 November 2025.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

Selama ini, Indonesia masih mengimpor gula mentah yang merupakan bahan baku gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman. Pemerintah RI belum menetapkan kuota impor gula mentah pada 2026.

Pada 2025, kuota impor gula mentah yang ditetapkan sebanyak 4,39 juta ton. Dari kuota itu terdapat pengajuan izin impor sebanyak 4,19 juta ton. Per medio September 2025, realisasi impor gula mentah itu baru sebanyak 2,97 juta ton atau 70,7 persen dari pengajuan izin impor.

Selain itu, Pemerintah RI juga menyetop sementara impor 200.000 ton gula mentah pada September 2025. Saat itu, sekitar 100.000 ton gula petani menumpuk gegara tidak laku dilelang. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menduga maraknya peredaran gula rafinasi dan gula impor ilegal menjadi penyebabnya (Kompas, 1/8/2025).

Kini, Indonesia telah menggulirkan program hilirisasi komoditas perkebunan. Tebu dan gula menjadi bagian dari program dengan investasi senilai Rp 371 triliun. Hilirisasi itu juga dalam rangka percepatan swasembada gula.

Amran menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto meminta swasembada gula konsumsi dipercepat, dari target awal 2028 menjadi 2026. Sementara swasembada gula industri diakselerasi dari 2030 menjadi 2028.

Untuk mengakselerasi target swasembada, Kementan menggulirkan program bongkar ratun atau peremajaan tanaman tebu seluas 275.000 hektar pada 2025-2027. Upaya itu dibarengi dengan penyaluran bibit unggul tebu, perbaikan irigasi, dan pupuk bersubsidi.

”Langkah itu juga akan diperkuat dengan perluasan lahan tebu sekitar 500.000 hektar yang terdiri dari 200.000 hektar perkebunan inti dan 300.000 hektar perkebunan plasma. Pemerintah juga akan membangun dan merevitalisasi 10 pabrik gula di Jawa dan luar Jawa,” kata Amran.

Quote

Program mandatori bioetanol juga belum sepenuhnya mampu menyerap tetes tebu dari dalam negeri.

Petugas memperlihatkan gula kristal rafinasi hasil temuan Tim Pengawasan dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan yang akan dimusnahkan di Jakarta, Kamis (28/9/2017). Sebanyak 21,3 ton gula kristal rafinasi yang merembes ke pasar dan 47,9 ton daging beku kadaluarsa dimusnahkan.

Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen, Jumat (14/11/2025), menuturkan, APTRI menyambut baik program hilirisasi tebu dan gula. Langkah itu memang perlu diawali dengan bongkar ratun tanaman tebu rakyat.

Namun, program itu juga perlu dibarengi dengan sejumlah kebijakan lain. Pertama, perketat pengawasan peredaran gula rafinasi dan gula impor ilegal di pasar gula konsumsi.

Kedua, Soemitro melanjutkan, perkuat tata niaga tetes tebu baik dari sisi serapan, pembentukan harga, maupun industri hilirnya. Upaya itu penting mengingat belum banyak industri berbahan baku tetes tebu dan etanol yang menyerap tetes tebu milik petani dan pabrik gula.

”Kebanyakan dari industri tersebut masih bergantung pada impor tetes tebu dan etanol dari negara lain. Bahkan, program mandatori bioetanol juga belum sepenuhnya mampu menyerap tetes tebu dari dalam negeri,” katanya.

Infografik riset data komoditas gula.

Dalam tiga bulan terakhir ini, tetes tebu petani dan pabrik gula masih banyak yang belum terserap. Harga tetes tebu juga anjlok dari kisaran Rp 2.500-Rp 3.000 per kg pada 2024 menjadi Rp 1.000-Rp 1.400 per kg.

Padahal, Indonesia telah menerapkan bioetanol E5 (campuran bensin dengan bioetanol 5 persen) sejak Juli 2013. Bahkan, pada 7 Oktober 2025, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, Presiden telah menyetujui penerapan mandatori bioetanol E10. Bioetanol tersebut berasal dari bahan nabati, seperti tebu dan singkong.

”E10 masih di dalam pembahasan dan masih dalam (tahap) kita menguji coba dulu. Kalau sudah dinyatakan clear, sudah bagus, baru kita jalankan dua sampai tiga tahun lagi terhitung sekarang,” katanya (Kompas, 8/10/2025).


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji