Pesan Soliditas dari Rangkulan Prananda dan Puan

Rangkulan Puan dan Prananda di bimtek PDI-P di Bali menepis isu keretakan keluarga Bung Karno. Foto itu jadi simbol soliditas partai menjelang kongres PDI-P.

31 Jul 2025 19:09 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nikolaus Harbowo

Sejumlah pejabat teras Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P berdiri menanti di lobi sebuah hotel di Denpasar, Bali, Rabu (30/7/2025) sore. Suasana yang semula riuh seketika hening saat mobil yang ditumpangi Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri berhenti di depan pintu masuk. Turun bersama putranya, Ketua DPP PDI-P Prananda Prabowo, Megawati langsung disambut hangat oleh para kader.

Di depan pintu ruang tempat bimbingan teknis (bimtek) para anggota DPR/DPRD dari Fraksi PDI-P, putri Megawati, Ketua DPP PDI-P Puan Maharani, menyambut dengan pelukan erat. Pemandangan itu disaksikan jajaran elite partai yang telah menunggu.

Kehangatan ketiganya berlanjut saat berjalan menuju arena utama bimtek. Puan menggandeng tangan sang ibu, sedangkan Prananda merangkul pundak Puan sambil berbincang santai.

Tak lama momentum itu tampak, tetapi sudah cukup untuk menepis segala kabar burung yang beredar bahwa selama ini terjadi konflik di antara kakak-beradik itu, salah satunya dipicu perbedaan sikap terkait posisi politik PDI-P pasca-Pemilu 2024, apakah bergabung dengan pemerintahan Prabowo Subianto atau tetap di luar pemerintahan.

Kedua anak Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani dan Prananda Prabowo, berangkulan menjelang pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) di Bali Beach Convention Center, Denpasar, Rabu (30/7/2025). Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri tampak ikut hadir dalam kegiatan tersebut.

Terlebih foto yang menggambarkan kehangatan Puan dan Prananda tersebut tersebar luas di media sosial. Banyak kader PDI-P mengunggahnya dengan tafsir serupa, yakni soliditas partai.

Di partai politik berlambang banteng tersebut, kiprah Puan dan Prananda sama-sama menonjol, bahkan keduanya kerap disebut tengah disiapkan untuk menggantikan Megawati di pucuk kepemimpinan PDI-P.

Bedanya, Puan lebih sering tampil di publik dan menjabat sederet jabatan publik mentereng, dari kursi menteri hingga menjabat ketua DPR. Adapun Prananda lebih banyak bekerja di balik layar sebagai penggerak strategi partai. Ia mewarisi konsistensi ideologis Megawati dalam memberi masukan kebijakan partai.

Berbagi peran untuk partai

Ketua DPP PDI-P Said Abdullah mengatakan, kedekatan Puan dan Prananda tak sebatas seperti yang tampak menjelang acara bimtek. Di luar itu, relasi keduanya sebagai kakak-beradik memang dekat. ”Mbak Puan dan Mas Prananda bersaudara, kakak dan adik. Jadi sewajarnya harmonis dan faktanya memang begitu,” ujarnya.

Potrait Said Abdullah Ketua Badan Anggaran DPR RI KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 29-9-2022

Ia menegaskan, PDI-P tetap solid di bawah kepemimpinan Megawati. Perbedaan pandangan justru menjadi bukti demokrasi di partai, bukan tanda adanya faksi. ”Ketika Ibu Ketua Umum memutuskan, semua kader solid mendukung penuh keputusan tersebut,” katanya.

Said menambahkan, Puan dan Prananda sejak kecil dibesarkan dalam rumah besar PDI-P dan memberi warna bagi perjalanan partai hingga kini.

”Keberadaan keduanya menopang penuh kepemimpinan Ibu Mega. Mereka hanya berbagi peran dan penugasan politik untuk kebesaran partai sehingga di PDI-P hanya ada satu faksi, yaitu di bawah Ibu Mega,” ujarnya menegaskan.

Ketua DPP PDI-P Deddy Sitorus sependapat. ”Kami melihat interaksi antara Mas Prananda dengan Mbak Puan sehari-hari sebagai saudara dan sesama pengurus partai tidak pernah ada masalah,” ujarnya.

Kepala Kantor Rumah Aspirasi Rakyat #01 Deddy Yevri Sitorus

Puan dan Prananda saling melengkapi dengan peran berbeda yang dijalankan masing-masing. ”Mas Prananda fokus pada penguatan internal partai, sementara Mbak Puan lebih berpolitik praktis, mengurus hal-hal kenegaraan sebagai mantan menteri dan Ketua DPR,” ujarnya.

Kalaupun ada perbedaan pendapat, hal itu bagian dari demokrasi dan memang harus ada di partai politik. Sama sekali bukan tanda adanya konflik di internal partai.

”Kalau semua sepakat, itu bukan partai politik,” ucap Deddy.

Soal spekulasi bahwa posisi Puan yang diapit Megawati dan Prananda menjadi sinyal regenerasi ketua umum PDI-P berikutnya bakal jatuh ke Puan, Deddy menilai, penilaian itu terlalu jauh. Menurut dia, semua keputusan berada di tangan Megawati dan Presiden ke-5 RI itu diyakini telah menyiapkan regenerasi partai.

”Yang pasti, foto itu sangat-sangat menyenangkan dilihat dari sudut mana pun. Jadi enggak usah ditarik-tarik ke urusan lain,” ujarnya.

Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri hadir dan memberikan pengarahan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Fraksi PDI-P seluruh Indonesia di The Meru & Bali Beach Convention Center, Sanur, Denpasar, Rabu (30/7/2025).

Simbol

Terlepas dari relasi Puan dan Prananda yang memang dekat, pengamat komunikasi politik The London School of Public Relations (LSPR), Ari Junaedi, melihat kedekatan yang tampak di sela acara bimtek sarat makna politik. Secara politis, foto itu memberi simbol bahwa cucu-cucu Bung Karno kompak dan tidak ada masalah.

”Asumsi sebagian orang bahwa hubungan pribadi di antara anak-anak Megawati bermasalah nyatanya tidak,” ucapnya.

Pelukan dan rangkulan tersebut juga menyiratkan pesan menjelang kongres PDI-P bahwa tidak ada faksi di tubuh partai. ”Tak ada pemilahan kubu situation room yang digawangi Prananda atau faksi Senayan yang dikomandoi Puan. Semuanya lebur menjadi satu, baik sebagai keturunan biologis maupun ideologis Sukarno,” tuturnya.

Momentum itu mengingatkan kembali pada semangat gotong royong di PDI-P, di mana persoalan internal selalu diselesaikan dengan rasa persaudaraan. ”Ajaran Bung Karno jelas menyebut kekeluargaan adalah di atas segalanya,” kata Ari.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikolaus Harbowo
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto