Rapat Pansus Hadirkan Bupati Pati, Dua Kelompok Massa Bentrok

Bupati Pati Sudewo menghadiri rapat pansus hak angket pemakzulan dirinya di DPRD Pati. Rapat diwarnai bentrok pendukung Sudewo dan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu.

02 Okt 2025 18:50 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kristi Dwi Utami

PATI, KOMPAS — Rapat panitia khusus hak angket pemakzulan Bupati Pati di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (2/10/2025), diwarnai massa yang bentrok di luar gedung DPRD. Kelompok pertama Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, sedangkan satunya merupakan kelompok pendukung Bupati Pati Sudewo.

Dalam rapat yang digelar Kamis, Sudewo diundang untuk memberikan keterangan mengenai sejumlah kebijakannya yang dinilai kontroversial. Sudewo pun datang dikawal oleh sejumlah orang yang disebut sebagai pendukungnya.

Menjelang dimulainya rapat, di luar pagar halaman DPRD telah ramai disambangi massa dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu. Mereka adalah perwakilan masyarakat yang sejak awal mendukung proses hak angket. Mereka pun selalu hadir untuk memantau.

Betrok antara massa pendukung Bupati Pati Sudewo dengan masyarakat terjadi jelang rapat panitia khusus hak angket pemakzulan bupati di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (2/10/2025). Dalam kegiatan itu, pansus menggali keterangan dari Sudewo terkait kebijakan-kebijakannya yang diduga kontroversial dan menimbulkan protes masyarakat.

Namun, upaya mereka untuk masuk terkendala karena pintu utama ataupun pintu selatan DPRD ditutup. Mereka kemudian berkonsultasi dengan Kepala Kepolisian Resor Kota Pati Komisaris Besar Jaka Wahyudi, lalu diarahkan untuk masuk melalui pintu selatan.

Oleh karena posisi gerbang masih ditutup, Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu Teguh Irianto dan Supriyono mencoba masuk dengan memanjat pagar. Supriyono berhasil masuk, sementara kaki Teguh ditarik oleh sejumlah orang tak dikenal hingga ia terjatuh. Saat dirinya terjatuh, tubuhnya dipukuli dan diinjak-injak orang-orang tak dikenal itu.

”Diduga yang mengeroyok itu massa pendukung Bupati Sudewo yang memang sejak awal terkesan mengincar mereka berdua (Teguh dan Supriyono). Akibatnya, Mas Teguh menderita memar-merah di wajah,” kata Suharno, anggota Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, saat dihubungi, Kamis.

Betrok antara massa pendukung Bupati Pati Sudewo dengan masyarakat terjadi jelang rapat panitia khusus hak angket pemakzulan bupati di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (2/10/2025). Dalam kegiatan itu, pansus menggali keterangan dari Sudewo terkait kebijakan-kebijakannya yang diduga kontroversial dan menimbulkan protes masyarakat.

Menurut Suharno, massa pendukung Sudewo yang berada di sekitar gedung DPRD pada Kamis sekitar 200 orang. Sementara itu, massa dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu berjumlah kurang dari 100 orang.

Suharno menduga jumlah orang yang hadir pada Kamis ini lebih banyak dibandingkan dengan saat rapat pansus sebelumnya. Sebab, untuk pertama kalinya, Sudewo hadir di pansus. Hal itu memicu rasa penasaran masyarakat.

Sementara itu, Teguh menyayangkan penganiayaan yang menimpanya. Rencana melaporkan orang-orang yang menganiaya dirinya ke kepolisian masih dipertimbangkan. Teguh berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Koordinator Aliansi Masyarakat Pati bersatu Teguh Irianto diwawancara wartawan sebelum rapat penggantian anggota panitia khusus hak angket pemakzulan Bupati Pati Sudewo di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pati, Jawa Tengah,  Rabu (24/9/2025).

”Dari sisi tata kelola pemerintahan, kan, ada yang namanya oposisi dan kebetulan kami oposisi bagi pemerintahan Pak Sudewo. Itu harap dimaklumi karena bagian dari demokrasi memang seperti itu. Dan, harapan kami, tadi orang yang melakukan kegiatan anarkistis, sampai dengan menganiaya orang itu mohon untuk dihentikan,” ucap Teguh.

Teguh juga berharap kepolisian berbenah atas kejadian penganiayaan tersebut. Penganiayaan tersebut terjadi di depan para polisi, bahkan disaksikan oleh Kapolresta Pati.

”Kenapa di depan Kapolresta, kok, ada kejadian seperti itu, apalagi nanti tidak di depan mereka. Itu sangat bahaya sekali. Makanya, saya mengimbau Kapolres melakukan evaluasi. Satu, untuk pengamanan di wilayah Pati, kedua untuk kenyamanan, dan ketiga harus ada ketertiban karena itu tugas mereka,” ujarnya.

Tulisan Lengserkan Sudewo yang dibuat pengunjuk rasa di depan Gedung DPRD Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025). Aksi demonstrasi yang dihadiri puluhan ribu massa ini berakhir ricuh hingga menyebabkan luka ke dua belah pihak antara warga dan polisi. Saat ini mayoritas masyarakat menuntut Bupati Sudewo untuk lengser dari jabatannya. 

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA (WEN)
13-08-2025 *** Local Caption ***

Kejadian penganiayaan terhadap Teguh tersebut sempat direkam oleh warga. Video itu lantas diunggah di media sosial hingga akhirnya viral. Kondisi itu akhirnya membuat masyarakat dari berbagai wilayah di Pati berdatangan ke Posko Aliansi Masyarakat Pati Bersatu di sekitar Alun-Alun Pati.

Di tempat itu, warga yang datang menanyakan kondisi Teguh. Saat mereka sedang menyimak penjelasan mengenai kondisi Teguh, tiba-tiba datang seorang pria dengan mengendarai sepeda motor. Pria itu lantas mengacungkan senjata tajam dan mengancam akan membunuh orang di posko tersebut. 

”Dia teriak, intinya menantang kami. Orang itu juga sempat bilang, kalau kami macam-macam mau dibunuh sambil mengacungkan sangkur,” kata Sukoco, anggota Aliansi Masyarakat Pati Bersatu.

Warga berkumpul di Alun-Alun Pati sebelum mengikuti aksi pengiriman surat serentak kepada Komisi Pemberantasan Korupsi melalui kantor Pos di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Senin (25/8/2025). Dalam ribuan surat yang dikirimkan tersebut, warga mendesak supaya KPK mengusut tuntas kasus korupsi yang melibatkan Bupati Pati Sudewo. Mereka meminta KPK segera memeriksa, menetapkan tersangka, dan menahan Sudewo.

Pria tersebut kemudian dipegangi oleh sejumlah orang untuk selanjutnya diserahkan kepada polisi. Seusai kejadian itu, sejumlah polisi disiagakan di posko Aliansi Masyarakat Pati Bersatu.

Menarik diri

Untuk mencegah bentrok berlanjut, polisi meminta massa dari dua belah pihak untuk menarik diri dan segera kembali ke rumah masing-masing. Saat meninggalkan kawasan sekitar Alun-Alun Pati, mereka dikawal oleh polisi.

”Kami ajak mereka untuk sama-sama menarik diri, baik massa dari pendukungnya bupati maupun massa dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu yang ada di alun-alun sehingga tidak terjadi konflik atau pertikaian. Kita saling menjaga. Mereka dari aliansi mau menahan, dari massa pendukung bupati juga mau menahan. Sama-sama menahan diri. Mudah-mudahan cepat selesai ini,” ucap Jaka.

Sejumlah kendaraan taktis kepolisian dan peralatan kepolisian berjajar di halaman Kantor Bupati Pati, Jawa Tengah, Rabu (24/9/2025). Ratusan personel disiagakan untuk mengamankan jalannya rapat panitia khusus hak angket pemakzulan Bupati Pati sekaligus demontrasi yang digelar para petani di hari tersebut.

Pihaknya menyiagakan ratusan personel untuk mengamankan jalannya rapat pansus dengan agenda mendengarkan keterangan Bupati Pati. Tak hanya personel Polresta Pati, anggota Brimob Polda Jateng juga dilibatkan dalam pengamanan tersebut.

Sementara itu, Sudewo mengaku mengetahui bahwa para pendukungnya turut hadir dalam rapat pansus Kamis. Menurut dia, kehadiran para pendukungnya itu sebagai bentuk simpati terhadap pemerintahan Sudewo.

”Ya, itu, kan, karena rasa simpati kepada kami. (Mereka hadir) supaya mereka itu bisa melihat, bisa menyaksikan,” ujarnya.

Bupati Pati Sudewo mengikuti rapat panitia khusus hak angket pemakzulan bupati di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (2/10/2025). Dalam kegiatan itu, pansus menggali keterangan dari Sudewo terkait kebijakan-kebijakannya yang diduga kontroversial dan menimbulkan protes masyarakat

Dalam rapat pansus tersebut, anggota pansus mencecar Sudewo dengan berbagai pertanyaan mengenai berbagai kebijakannya. Misalnya, soal kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2), kisruh soal pengangkatan direktur rumah sakit umum daerah, tidak diperpanjangnya kontrak pekerja honorer RSUD, dan mutasi aparatur sipil negara yang dinilai sewenang-wenang.

Menurut Sudewo, proses yang sedang berlangsung di pansus DPRD Pati disebutnya bakal menjadi bahan introspeksi diri. Ke depan, Sudewo juga berjanji akan terbuka dan siap mendengarkan masukan dari masyarakat.

”Apa yang diniatkan pansus itu adalah baik, untuk introspeksi kepada saya, untuk perbaikan-perbaikan ke depan,” kata Sudewo.

Sebuah mikrofon yang disiapkan bagi perwakilan warga untuk menyampaikan aspirasinya dalam rapat panitia khusus hak angket untuk membahas kebijakan Bupati Pati Sudewo di Gedung DPRD Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (14/8/2025). Pada rapat tersebut membahas hak angket guna memeriksa, mengevaluasi, dan mengusut kebijakan sebagai bagian dari tuntutan masyarakat yang meminta Bupati Pati Sudewo mundur. Kompas/Raditya Mahendra Yasa 14-08-2025

Ketua Pansus Hak Angket Teguh Bandang Waluya mengatakan telah menerima keterangan dari Sudewo dan akan mencatatnya. Bersama dengan keterangan dari saksi-saksi lain yang telah dihadirkan sebelumnya, keterangan Sudewo itu akan dijadikan dasar untuk membuat kesimpulan pansus.

”Kepentingan kami hanya pendalaman. Apa yang menjadi pendalaman kita bahas dan dijawab oleh Pak Bupati. Tentang kesimpulan, kami harus rapat internal dulu,” ujar Bandang.

Pada Jumat (3/10/2025), rapat pansus bakal kembali digelar. Agendanya adalah menggali keterangan dari Wakil Bupati Pati Risma Ardhi Chandra dan Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Pati Riyoso.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto