Ray Dalio, Danantara, dan Sindiran tentang Meritokrasi

Kepercayaan investor global tidak dibangun semata-mata berdasarkan simbol, tetapi atas sistem yang menjunjung tinggi transparansi dan meritokrasi.

01 Jun 2025 15:22 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

Kabar mundurnya Ray Dalio dari jajaran penasihat Badan Pengelola Investasi atau BPI Danantara memunculkan lebih dari sekadar pertanyaan. Sosok investor global yang awalnya disambut sebagai simbol kredibilitas Danantara, kini justru memberi sinyal peringatan tentang urgensi tata kelola yang berbasis meritokrasi dan profesionalisme.

Informasi mengenai mundurnya Dalio dari Danantara pertama kali disiarkan oleh Bloomberg pada Rabu (28/5/2025) pagi waktu Indonesia. Dalam laporan eksklusifnya, Bloomberg mengungkap, pendiri firma manajemen investasi ternama Bridgewater Associates tersebut memilih untuk tidak melanjutkan perannya di Danantara.

Narasumber yang mengungkapkan informasi tersebut, menurut Bloomberg, tidak bersedia disebut namanya. Di sisi lain, Dalio melalui juru bicaranya juga menolak memberikan komentar sehingga belum diketahui alasan di balik keputusan tersebut.

Dalam peluncuran sekaligus pengumuman struktur resmi BPI Danantara di Jakarta, 24 Maret 2025, Dalio telah diumumkan menjadi satu dari lima tokoh yang tergabung dalam Dewan Penasihat Danantara.

Keempat tokoh lainnya adalah mantan CEO Asia Pasifik Credit Suisse Helman Sitohang, ekonom Columbia University Jeffrey Sachs, Equity Portfolio Manager Capital Group F Chapman Taylor, serta mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra.

Namun, dalam paparan presentasi terbaru Danantara kepada sekelompok eksekutif bisnis asing di Jakarta pada Mei 2025, nama Dalio tak lagi tercantum sebagai anggota Dewan Penasihat. Sebagai figur penting dalam dunia manajemen investasi global, kabar mundurnya Dalio memberi sentimen negatif terhadap tata kelola lembaga dan kredibilitas komunikasi pemerintah.

Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan dengan konglomerat Amerika Serikat, Ray Dalio, serta menteri Kabinet Merah Putih dan pengusaha besar nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (7/3/2025).

Dalio adalah tokoh terkemuka dalam dunia manajemen investasi. Ia melahirkan dan membangun Bridgewater Associates, firma manajemen investasi yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Perusahaan ini melayani klien institusional seperti dana pensiun, dana abadi, yayasan, pemerintah asing, dan bank sentral.

Bridgewater Associates pada 2024 dinobatkan sebagai pengelola hedge fund (dana investasi yang dikumpulkan dari berbagai investor untuk kemudian diinvestasikan guna menghasilkan keuntungan tinggi) terbesar di dunia. Total kelolaan aset perusahaan ini mencapai 124 miliar dollar AS, setara dengan sekitar Rp 1.984 triliun.

Di tengah kabar mundurnya Dalio, CEO Danantara Rosan Roeslani memberikan pernyataan yang berbeda. Ia memastikan bahwa Dalio masih berada di Danantara. Ia pun mengklaim komunikasi antara dirinya dengan tim Dalio masih berjalan intens dan lancar.

Quote

”Don’t use your pull to get someone a job”. Artinya, jangan gunakan pengaruhmu untuk membantu seseorang mendapatkan pekerjaan. - Ray Dalio

”Kemarin baru ketemu sama timnya, baru Zoom juga. Enggak ada itu (pengunduran diri),” ujar Rosan saat dikonfirmasi di Istana Negara, Rabu (28/5/2025).

Pentingnya meritokrasi

Alih-alih meluruskan informasi mengenai statusnya di Danantara, melalui akun Instagram resminya, @raydalio, miliarder berusia 75 tahun itu, justru menyinggung pentingnya meritokrasi.

Dalam unggahan bertema principle of the day atau ”prinsip hari ini”, yang diunggahnya pada 28 Mei 2025, ia memposting banner bertuliskan: ”Don’t use your pull to get someone a job”. Artinya, jangan gunakan pengaruhmu untuk membantu seseorang mendapatkan pekerjaan.

CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Rosan Perkasa Roeslani, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, Chief Operating Officer (COO) Dony Oskaria, Chief Investment Officer (CIO) Pandu Patria Sjahrir dan Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Muliaman Hadad (kanan ke kiri) hadir di Gedung Graha CIMB Niaga, Jakarta, Senin (24/3/2025). Danantara Indonesia (Senin 24/3) resmi menunjuk sejumlah managing directors sebagai garda terdepan kepemimpinan badan, dewan komite, dan sejumlah tokoh internasional sebagai dewan penasihat. Setelah dipilih, para managing director langsung bergerak menyusun program kerja dan rencana eksekusi guna mencapai target dan tujuan Danantara Indonesia. Dengan struktur kepemimpinan dan organisasi yang diisi dengan sosok-sosok profesional dengan rekam jejak global, Danantara Indonesia akan memainkan peran signifikan dalam memaksimalkan investasi dan mengakselerasi transformasi ekonomi. Menurut Roslan Roesani, tim yang telah terpilih tidak hanya memiliki pengalaman, profesionalisme, dan kompetensi tinggi, tetapi juga kesiapan untuk menghadapi tantangan dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Menurut COO Danantara Dony Oskaria, proses penunjukkan ini dilakukan dengan prinsip tata kelola yang baik dan tanpa intervensi kepentingan tertentu. Pemilihan para eksekutif dilakukan secara objektif, sesuai dengan kualifikasi dan kebutuhan perusahaan. Pada 2025, investasi strategis akan dialokasikan ke sejumlah proyek strategis antara lain sektor prioritas yang meliputi hilirisasi industri, digitalisasi ekonomi, energi baru terbarukan (EBT), layanan kesehatan, serta ketahanan pangan yang meliputi pertanian, peternakan, dan perikanan. Bersamaan dengan pengumuman para pimpinan, Danantara Indonesia juga mengumumkan bahwa kepemilikan dan pengelolaan seluruh BUMN hari ini telah resmi pindah ke Danantara Indonesia, menggunakan mekanisme inbreng. Hal ini dilaksanakan sesuai amanah Undang-Undang BUMN N

Unggahan tersebut disertai keterangan yang berbunyi: tidak dapat diterima jika seseorang menggunakan pengaruh pribadinya untuk membantu orang lain mendapatkan pekerjaan. Sebab, hal itu akan merusak prinsip meritokrasi. Tindakan semacam ini tidak baik bagi pencari kerja karena menciptakan kesan bahwa posisi tersebut tidak diperoleh atas dasar kemampuan.

Hal itu tidak baik pula bagi pihak yang merekrut karena melemahkan otoritas dan integritas proses seleksi. Dalio menegaskan, tindakan seperti itu juga tidak baik bagi pihak yang bersangkutan. Sebab, itu menunjukkan bahwa seseorang bersedia mengorbankan prinsip merit demi kepentingan pribadi atau relasi.

”Ini adalah bentuk korupsi yang halus, tetapi berbahaya dan tidak boleh ditoleransi,” tulis Dalio.

Unggahan Ray Dalio tersebut menunjukkan bahwa prinsip yang ingin ia soroti adalah pentingnya menjaga meritokrasi dan menolak penyalahgunaan pengaruh pribadi.

Pengajar Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, melihat unggahan Dalio sebagai bentuk sindiran keras terhadap proses perekrutan di tubuh Danantara. Penggunaan nama besar, seperti Dalio tanpa landasan dokumen resmi mencerminkan pendekatan yang lebih berfokus pada pencitraan dibanding pembangunan kelembagaan yang kokoh.

”Pemerintah menempatkan Dalio sebagai simbol untuk membangun kepercayaan, bukan bagian dari sistem yang utuh," kata Syafruddin.

Infografik-Susunan Pengurus Danantara *** Local Caption *** Infografik-Susunan Pengurus Danantara

Menurut dia, agar dapat beroperasi secara berkelanjutan, Danantara lebih memerlukan kematangan sistem daripada sekadar simbol. ”Ketika komunikasi dibangun di atas harapan, bukan fakta, maka risiko yang timbul adalah hilangnya kredibilitas. Apalagi ketika pernyataan antara pejabat pemerintah dan tokoh dunia tak sinkron, publik tentu bingung siapa yang harus dipercaya,” ujarnya.

Kritik serupa datang dari Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios). Ia memandang pernyataan Dalio sebagai sinyal keras akan adanya masalah tata kelola yang serius.

”Dalio yang sebelumnya antusias, bahkan hadir di Istana, kini justru dikabarkan mundur. Pasti ada alasan kuat di balik itu. Dan itu patut menjadi alarm bagi pemerintah,” ujarnya.

Quote

Jika sosok sekelas Dalio saja meragukan integritas Danantara, tidak tertutup kemungkinan investor lain akan berpikir dua kali.

Bhima juga mengingatkan, jika sosok sekelas Dalio saja meragukan integritas Danantara, tidak tertutup kemungkinan investor lain akan berpikir dua kali. ”Padahal, kita butuh Danantara untuk menutupi keterbatasan fiskal dan memacu pertumbuhan ekonomi. Namun, jika tata kelolanya saja tidak meyakinkan, bagaimana mungkin investor global percaya?” katanya.

Ia pun menekankan pentingnya reformasi tata kelola di tubuh Danantara. ”Kita perlu transparansi dalam perekrutan, akuntabilitas dalam pengambilan keputusan, serta komunikasi yang solid antara institusi dan publik. Tanpa itu semua, Danantara akan kesulitan menjadi mesin pertumbuhan yang diharapkan,” ujar Bhima.

Bagaimanapun status Ray Dalio di tubuh Danantara nanti, ia telah memberikan pelajaran penting mengenai urgensi meritokrasi dalam lembaga investasi strategis. Kepercayaan investor global tidak dibangun hanya berdasarkan simbol, tetapi atas sistem yang menjunjung tinggi transparansi, komunikasi jujur, dan tata kelola yang profesional.

Tanpa hal-hal mendasar itu, Danantara akan kesulitan menjelma menjadi jangkar investasi yang kredibel, baik di mata dalam negeri maupun dunia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase