Hasil imbang kontra Real Betis jadi sinyal akhir pengejaran Real Madrid terhadap trofi liga. Barcelona bisa dinobatkan sebagai juara bahkan sebelum El Clasico.
25 Apr 2026 07:56 WIB · Olahraga
AFP/CRISTINA QUICLER
SEVILLA, SABTU — Real Madrid seakan menyerah memburu trofi Liga Spanyol. Di saat perlu konsisten menang agar bisa menekan Barcelona di puncak klasemen, Real justru kehabisan amunisi dengan hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan tuan rumah Real Betis yang tampil di bawah performa di Stadion de La Cartuja, Sevilla, Spanyol, Sabtu (25/4/2026) dini hari WIB. Tambahan satu poin tidak cukup untuk mengejar keunggulan delapan poin Barcelona di puncak klasemen.
Real semestinya memperlakukan laga melawan Betis selayaknya kesempatan ”memperpanjang napas”. Akan tetapi, apa yang mereka persembahkan di lapangan bukanlah kemampuan paling maksimal. Dengan total delapan tembakan ke gawang, hanya satu yang berhasil dikonversi menjadi gol lewat sontekan Vinicius Junior pada menit ke-17.
Pada babak pertama, Real tampil lebih intens dengan gencar menekan Betis saat mulai membangun serangan. Real banyak mengeksploitasi ruang di belakang Sofyan Amrabat. Berkat itu, Real sanggup menciptakan ancaman di lini pertahanan Betis. Hanya, Kylian Mbappe melewatkan dua peluang emas mencetak gol.
Walaupun punya banyak kans mencetak gol, cara Real membangun serangan terkesan tidak efisien dan terburu-buru. Kewajiban menang di tengah tekanan dalam kondisi Barca sudah di ambang gelar memengaruhi ketenangan para pemain Real. Mereka semestinya bisa menggandakan keunggulan lewat sepakan Mbappe setelah menerima umpan terukur dari Trent Alexander-Arnold. Namun, gol tersebut dianulir akibat offside.
Betis kesulitan mengimbangi permainan Real pada babak pertama. Tim arahan Pelatih Manuel Pellegrini itu benar-benar kehilangan arah. Mereka bingung karena dipaksa bermain lebih direct oleh Real. Di tengah serbuan dari Real, para pemain Betis mencoba bertahan dengan menutup area tengah, tetapi gagal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/25/18ff4821-044b-4af3-a3ed-be1df90d7b0c_jpg.jpg)
Upaya Betis untuk membalas serangan Real kerap kandas karena kurangnya dukungan di lini tengah. Pablo Fornals yang biasanya menjadi penghubung antara lini pertahanan dan serangan dibuat sibuk menghalau serangan.
Pendukung Betis bersorak pada menit-menit akhir berkat gol penyeimbang yang dilesakkan Hector Bellerin. Mantan bek Arsenal dan Barca itu menaklukkan kiper Andriy Lunin dari jarak dekat.
”Jelas bahwa kami kembali mengalami kekecewaan di menit-menit terakhir, seperti yang telah terjadi berkali-kali sebelumnya. Menurut saya, ini adalah hasil yang tidak pantas kami dapatkan karena kami memiliki peluang. Ada juga penalti yang sangat jelas di babak pertama yang menurut saya memungkinkan kami untuk mengakhiri pertandingan (dengan kemenangan),” kata Pelatih Real Alvaro Arbeloa dalam konferensi pers seusai pertandingan.
Selain gagal menang, Real juga merugi dengan potensi cedera Mbappe. Penyerang asal Perancis tersebut memegangi otot belakang kaki kirinya dan terpaksa ditarik keluar pada menit ke-80. Ada kekhawatiran Mbappe mengalami cedera yang cukup serius sehingga kemungkinan absen pada laga menentukan berikutnya melawan Espanyol.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/25/07f5ac30-33fe-4364-8d64-6fc29dfc4cff_jpg.jpg)
Setelah Real tertahan oleh Betis, Barca kemungkinan sudah bisa memastikan gelar dalam dua pertandingan ke depan. Barca dijadwalkan melawan Getafe dan Osasuna. Mereka wajib menyapu bersih dua laga itu dengan kemenangan untuk segera menyegel trofi. Barca bahkan bisa memastikan trofi lebih cepat jika Real kembali kehabisan amunisi dengan kalah saat melawan Espanyol.
Apabila skenario itu terwujud, laga El Clasico pada Mei mendatang akan jauh dari sengit mengingat tidak ada lagi hal yang dipertaruhkan di sana kecuali harga diri. Meski Real sedang terpuruk, bukan berarti tidak ada tantangan besar bagi Barca dalam misi mengamankan kemenangan dalam dua laga krusial berikutnya.
Laga melawan Getafe tidak pernah berjalan mudah bagi Barca. Cara bermain Getafe yang sangat pasif sekaligus pragmatis di bawah arahan Jose Bordalas senantiasa menjadi penghalang sepak bola menekan Hansi Flick.
Barca selalu kesulitan ketika bermain di markas Getafe. Terakhir kali ”Blaugrana” meraih kemenangan di Stadion Coliseum adalah pada 2019 atau tujuh tahun silam. Dalam lima pertemuan sebelumnya di sana, Barca sekali kalah dan empat kali imbang.
Setali tiga uang, mengalahkan Osasuna di markasnya juga bukan perkara mudah bagi Barca. Musim lalu, di stadion yang sama, Barca menelan kekalahan telak 2-4. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti