Reka ulang kasus penembakan bos rental mobil mengungkap adanya dua todongan pistol dan empat tembakan. TNI AL berjanji transparan mengusut kasus itu.
11 Jan 2025 07:47 WIB · Metro
TANGERANG, KOMPAS — Pusat Polisi Militer Angkatan Laut menggelar rekonstruksi atau reka ulang adegan penembakan bos rental mobil di Rest Area Kilometer 45 Tol Tangerang-Merak, Kabupaten Tangerang, Banten. Reka ulang itu mengungkap adanya dua kali penodongan pistol dan empat tembakan dalam peristiwa tersebut.
Korban dalam peristiwa itu adalah pemilik rental mobil bernama Ilyas Abdurrahman (48). Dia tewas ditembak oleh pelaku pada Kamis (2/1/2024) dini hari di Rest Area Kilometer 45 Tol Tangerang-Merak. Korban ditembak saat ingin mengambil mobil miliknya yang dibawa pelaku.
Dalam peristiwa tersebut, rekan Ilyas bernama Ramli Abu Bakar (60) juga ditembak dan hingga kini masih dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Empat pelaku yang diduga terlibat dalam penembakan itu sudah ditangkap aparat penegak hukum. Tiga dari empat pelaku merupakan anggota TNI Angkatan Laut, yakni Sersan Satu (Sertu) AA, Sertu RH, dan Kelasi Kepala berinisial BA.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/11/7c09db3a-8350-4560-a9b1-3feafea4a8d6_jpg.jpg)
Sembilan hari setelah peristiwa penembakan itu, Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Puspomal) menggelar reka ulang atau rekonstruksi. Reka ulang tersebut dimulai pada Sabtu (11/1/2025) pukul 00.23.
Setidaknya terdapat 36 adegan dalam reka ulang tersebut. Reka ulang hanya dilaksanakan di tempat penembakan, yakni di Rest Area Kilometer 45 Tol Tangerang-Merak. Meskipun demikian, reka ulang itu juga menunjukkan kejadian sebelum dan setelah penembakan.
Dalam undangan kegiatan yang diterima Kompas, kegiatan itu seharusnya dilaksanakan pada Jumat (10/1/2025) pukul 23.00. Namun, hujan deras mengguyur wilayah tersebut sehingga rekonstruksi tertunda. Saat rekonstruksi akhirnya dimulai, hujan rintik masih mengguyur lokasi.
Dalam reka ulang tersebut, tiga tersangka tampak dibawa menggunakan mobil tahanan. Mereka mengenakan baju tahanan militer oranye. Wajah mereka ditutupi penutup kepala sehingga ratusan orang yang menonton kegiatan itu tidak mengenali wajah pelaku.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/11/5b92ec3d-5e7a-442b-8cf9-d9badbc302a3_jpg.jpg)
Saat reka ulang, ketiga pelaku mengenakan name tag dengan tulisan tersangka 1, tersangka 2, dan tersangka 3. Begitu juga para saksi yang berjumlah tujuh orang. Awak media dan warga yang menonton tidak mengetahui siapa di balik penutup wajah para tersangka sehingga tidak diketahui juga peran mereka.
Adegan dimulai dengan penodongan pistol salah satu tersangka kepada para saksi dan korban yang diperankan petugas. Dua di antara saksi adalah Agam Muhammad (26) dan Rizky Agam (24) yang merupakan anak Ilyas Abdurrahman yang menjadi korban penembakan.
Reka ulang itu berakhir dengan adegan salah satu tersangka membuang kunci mobil milik Ilyas yang mereka gelapkan, lalu meninggalkan mobil itu dan masuk ke dalam mobil yang digunakan dua tersangka lainnya, yakni mobil Sigra berwarna hitam. Adegan terakhir diperagakan pada pukul 02.20 Sabtu dini hari.
Tak ada komentar apa pun dari aparat kepolisian ataupun pejabat Puspomal yang hadir seusai reka ulang itu. Beberapa pejabat bahkan meninggalkan lokasi sebelum reka ulang berakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/11/76488f16-dfa3-4ac5-b27d-a696f17537a9_jpg.jpg)
Rekonstruksi tersebut sempat diwarnai sejumlah kejadian mengharukan. Salah satunya saat Agam Muhammad dan Rizky Agam saling berpelukan di tengah-tengah reka ulang, tepatnya saat adegan penembakan ayah mereka. Keduanya tidak kuasa menahan tangis sehingga berupaya saling menguatkan.
Meski begitu, Agam dan Rizky tetap mengikuti reka ulang itu. Selama reka ulang, keduanya beberapa kali membenarkan atau mengarahkan para petugas. Bahkan, posisi mobil pun mereka arahkan agar sesuai dengan kejadian sebenarnya. Mereka ingin semua orang tahu bagaimana nyawa ayah mereka direnggut.
”Rekan-rekan (media) bisa membayangkan bagaimana perasaan kami ketika melihat pembunuh ayah kami ada di situ,” kata Rizky yang membuat suasana hening sejenak.
Rizky mengungkapkan, dirinya baru menyadari ada dua kali todongan pistol ke arah dirinya dan saksi-saksi lainnya. ”Saya baru sadar pas reka ulang ini. Kalau tembakan seingat saya ada empat kali,” katanya.
Rizky menambahkan, semua adegan yang diperagakan dalam rekonstruksi itu sudah sesuai dengan apa yang ia alami dan lihat. Ia juga kembali menegaskan bahwa tidak ada pengeroyokan oleh kelompoknya terhadap pelaku.
Yang mereka lakukan adalah menahan, memiting, dan memegangi tangan pelaku karena mereka tahu pelaku memiliki senjata api. ”Tidak ada pengeroyokan, sesuai juga di reka adegan tadi. Tapi, kami percaya Polri dan TNI akan mengusut tuntas kasus ini,” ucap Rizky.
Rekan-rekan (media) bisa membayangkan bagaimana perasaan kami ketika melihat pembunuh ayah kami ada di situ.
Sepanjang kegiatan, Rizky dan Agam ditemani belasan teman-teman mereka dari Asosiasi Rental Mobil Indonesia (ARMI). Selama lebih kurang 2,5 jam, anggota ARMI menyaksikan reka adegan itu. Mereka merekam adegan yang terjadi lalu memublikasikannya di media sosial dengan tujuan agar ada keadilan dalam kasus itu.
Bahkan, setelah rekonstruksi selesai, saat semua petugas meninggalkan lokasi, mereka masih bertahan dan sempat menyesap kopi di sebelah lokasi kejadian dan saling berdiskusi untuk menguatkan kedua anak korban.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/11/eae10f9f-b350-4972-85e3-d0d66c8d6a4f_jpg.jpg)
Azri, saksi sekaligus anggota ARMI, mengungkapkan, ARMI mengambil peran penting dalam peristiwa ini lantaran informasi cepat yang mereka terima. Bahkan, selain membantu mengejar pelaku penggelapan mobil, mereka juga mengurus korban dan mendapati mobil korban yang ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan.
”Kami semua berkoordinasi di grup yang anggotanya ribuan dari seluruh Indonesia. Kami juga yang saling bantu untuk melacak mobil, untung saja ada GPS (global positioning system) yang tersisa karena dari tiga GPS, ada dua yang dibuang pelaku,” kata Azri.
Dalam siaran pers yang diterima Kompas, Puspomal menyatakan, pihaknya berupaya transparan dalam reka ulang yang digelar terbuka tersebut. Mereka juga mengambil langkah cepat untuk mengungkap kasus ini.
Menurut mereka, reka ulang dilakukan secara terbuka dan sesuai dengan fakta kejadian. Pelaku dihadapkan ke para saksi dengan mencontohkan apa yang dilakukan pada saat kejadian berlangsung. Puspomal memeriksa 13 saksi, tetapi hanya tujuh yang dihadirkan dalam reka ulang peristiwa.
TNI AL juga menyatakan terus berupaya menegakan hukum seadil-adilnya dengan melakukan penyelidikan, rekonstruksi, penyerahan tersangka, dan barang bukti hingga nantinya persidangan berlangsung transparan. TNI AL juga mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban.
Penulis:
Dionisius Reynaldo Triwibowo, Emanuel Edi SaputraEditor:
Haris FirdausFoto:
Fakhri Fadlurrohman