Menang tiga gol lebih atas Madrid bukanlah hal mustahil bagi City karena itu sudah pernah terjadi sebelumnya. Masalahnya, banyak hal yang membebani City saat ini.
16 Mar 2026 18:29 WIB · Olahraga
AP
MANCHESTER, SENIN — Manchester City dan Real Madrid sama-sama akan memainkan 90 menit dalam duel penentu babak 16 besar Liga Champions Eropa. Namun, saat jumlah waktu itu akan terasa sangat cepat berlalu bagi City, Madrid akan merasakan satu setengah jam terpanjang di lapangan.
Teori relativitas waktu itu tidak terhindarkan di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, Rabu (18/3/2026) pukul 03.00 WIB. Tertinggal agregat 0-3, City membutuhkan kemenangan empat gol untuk lolos ke babak selanjutnya. Tim tuan rumah akan berpacu dengan jumlah waktu yang terus berkurang.
City pasti mengambil inisiatif untuk menyerang total sejak sepak mula. Tim tamu—yang hanya perlu menjaga keunggulan—akan lebih banyak bertahan di separuh lapangan sendiri. Namun, bagi tim yang diciptakan untuk bermain ofensif seperti Madrid, ujian tersebut akan terasa seperti tidak ada ujungnya.
Manajer City Pep Guardiola menyadari, misi itu nyaris mustahil. ”Di ruangan ini (konferensi pers), apakah ada yang akan bertaruh untuk kami bisa membalikkan keadaan? Tidak mungkin. Tetapi, kami harus mencobanya. Jika para pemain tidak percaya, mereka boleh pulang dan tinggal di rumah,” katanya.
Misi City pada laga nanti memang sangat sulit, tetapi sama sekali tidak mustahil. Mereka sudah pernah menang empat gol tanpa balas atas Madrid di kandang sendiri, tepatnya pada semifinal kedua Liga Champions musim 2022-2023. City berhasil mengeliminasi ”El Real” dan akhirnya menjadi juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/8d195de50462ec5ac0265e67c92d113b-cropped_image.jpg)
Meskipun begitu, situasi saat itu agak berbeda dibandingkan saat ini. City mampu membawa pulang hasil imbang 1-1 dari laga pertama ketika itu. Mereka tidak dibebani ekspektasi untuk menghasilkan tiga gol. Madrid juga bermain lebih terbuka karena masih harus mencari gol di kandang lawan.
Perbedaan terbesar adalah kondisi skuad. Pada musim 2022-2023, Guardiola berhasil menemukan formula terbaik yang berujung dengan raihan treble winner. City memainkan formasi 3-2-4-1 dengan peran hibrida John Stones sebagai bek tengah dan gelandang jangkar. Tim inti mereka sudah saklek.
Tidak seperti sekarang, Guardiola masih kebingungan menentukan komposisi terbaik. Di kandang Madrid, pekan lalu, sang manajer meninggalkan formula terbaik tim yang memfasilitasi Nico O’Reilly sebagai salah satu dari trio gelandang sejajar dalam formasi 4-1-3-2.
O’Reilly, sang mesin transisi tim, dikembalikan ke posisi bek sayap kiri. Guardiola juga memainkan tiga pemain sayap sekaligus, yaitu Antoine Semenyo, Jeremy Doku, dan Savinho. Alhasil, City tidak memiliki keseimbangan bermain yang sudah terbentuk dalam beberapa laga terakhir.
Uniknya, formula terbaik itu justru kembali saat City bertandang ke markas West Ham pada akhir pekan lalu. Padahal, City lebih memerlukan pemain ofensif yang bisa membongkar skema ”parkir bus” lawan. Adapun Guardiola mengakui kesalahannya dalam pemilihan pemain di laga yang berakhir imbang 1-1 tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/511deec2cdfcaddf15a29bb0d768a7f9-wires_photo_21_.jpg)
Tugas Guardiola semakin sulit karena sang penyerang andalan, Erling Haaland, sedang krisis percaya diri. Haaland baru mencetak empat gol sejak pergantian tahun, dua di antaranya berasal dari hadiah penalti. Ketika dia tidak tampil di laga Piala FA versus Newcastle United, City justru menampilkan efisiensi serangan terbaik.
Guardiola berkata, City kalah telak pada laga pertama karena kurang tajam dalam penyelesaian akhir. ”Kami sering mengalami itu musim ini, kesulitan mencetak gol seperti yang terjadi pada 20 menit pertama di (Stadion) Bernabeu. Kami melewatkan peluang mudah di kotak penalti,” ujarnya.
Gambaran laga kedua nanti sepertinya tidak akan jauh berbeda dengan paruh kedua di duel pertama. Ketika itu, Madrid bermain lebih pasif setelah unggul tiga gol sebelum turun minum. City mendominasi permainan dengan 65,3 persen penguasaan bola di 45 menit kedua, tetapi kesulitan menembus kotak penalti lawan.
Madrid memang akan dipaksa untuk lebih banyak bertahan. Namun, mereka berpotensi menghasilkan peluang-peluang yang lebih mengancam dibandingkan tuan rumah. Vinicius Junior dan rekan-rekan bisa memanfaatkan kelengahan City dengan serangan balik kilat.
Madrid sudah membuktikannya di Bernabeu. Saat City menyerang total di paruh kedua, mereka mengancam balik lewat transisi. Hasilnya, Vinicius mendapatkan hadiah penalti untuk semakin memperbesar keunggulan. Namun, Vinicius gagal mengonversi penalti tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/06f6d458832fafcf3625408fa7c95eb6-Spain_Champions_League_Soccer_2_.jpeg)
Pelatih Real Madrid Alvaro Arbeloa berkomitmen untuk mengincar kemenangan di Stadion Etihad, bukan hanya menjaga keunggulan. ”Mereka akan membuat kami sangat menderita. Kami tahu, ketika bermain agresif, mereka bisa mengalahkan siapa pun. Kami harus fokus untuk berusaha menang,” katanya.
Laga itu berpotensi menjadi momen kembalinya striker megabintang Madrid, yaitu Kylian Mbappe. Sang penyerang dikabarkan akan pulih tepat waktu untuk laga nanti setelah absen sejak akhir Februari. Jika bisa tampil, Mbappe akan membuat misi City terasa semakin sulit. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar