Diharapkan dalam 10-20 tahun mendatang, lulusan program Remaja Bernegara yang diinisiasi Nasdem akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan.
15 Feb 2025 12:39 WIB · Politik & Hukum
Selama ini, politik sering dipandang negatif oleh masyarakat. Citra politik yang penuh intrik dan kotor muncul antara lain karena masyarakat melihat politik dari sisi permukaan saja. Guna memberikan perspektif bahwa politik bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, Partai Nasdem meluncurkan program Remaja Bernegara.
Wakil Ketua Partai Nasdem Saan Mustopa menjelaskan, Remaja Bernegara merupakan sebuah inisiatif dari Partai Nasdem yang bertujuan untuk memperkenalkan politik kepada generasi muda secara edukatif dan inspiratif.
“Jangan sampai mereka hanya memahami politik dari sisi negatifnya. Kita ingin generasi muda memahami politik secara utuh dan mendalam,” kata Saan dalam peluncuran Remaja Bernegara di NasDem Tower, Menteng, Jakarta, Sabtu (15/2/2025).
Hadir pula dalam peluncuran kegiatan Ketua Dewan Pertimbangan Partai NasDem, sekaligus penggagas Merdeka Bernegara, Siti Nurbaya. Adapun Ketum Partai NasDem Surya Paloh tidak hadir karena sedang mengikuti acara HUT Gerindra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/15/4299776905cf3b3b4b1cb7d4f407ab49-WhatsApp_Image_2025_02_15_at_12.15.43_1_.jpeg)
Saan Mustopa mengatakan, kebijakan politik memengaruhi banyak aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga lapangan kerja. Sebagai contoh, ia menyoroti isu pemotongan anggaran pendidikan sebagai dampak dari efisiensi anggaran pemerintah.
Pemotongan anggaran ini bisa berdampak pada keberlanjutan program beasiswa seperti Kartu Indonesia Pintar. “Oleh karena itu, penting memahami bahwa keputusan politik yang dibuat hari ini akan berpengaruh pada kehidupan generasi muda di masa depan,” kata dia.
Selain membangun pemahaman politik, program Remaja Bernegara juga bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif dan kepedulian sosial di kalangan anak muda. Saan mengutip pesan Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, yang menyatakan bahwa kesadaran kolektif harus ditanamkan sejak dini demi kepentingan bangsa dan negara.
Saat ini, banyak label yang diberikan kepada generasi muda, seperti “generasi stroberi” dan “generasi sandwich”, yang kerap dianggap kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Namun, melalui program ini, Nasdem ingin menanamkan nilai kepedulian, keberanian berpendapat, serta sikap kritis yang konstruktif. “Melalui Remaja Bernegara, generasi muda akan terbiasa berdebat, berdialektika, dan menyampaikan pikiran-pikirannya. Ini penting agar mereka memiliki kesadaran, daya kritis, dan kepekaan sosial,” tambah Saan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/10/2808b8fd-f4cc-4636-8a8b-6e72c3113489_jpg.jpg)
Ia mengatakan, Remaja Bernegara bukan hanya sekadar kegiatan edukatif, tetapi juga menjadi ajang bagi generasi muda untuk membentuk karakter kepemimpinan mereka. Saan berharap bahwa dalam 10-20 tahun mendatang, lulusan program ini akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan, baik di parlemen, pemerintahan daerah, maupun di berbagai sektor lainnya.
Remaja Bernegara diselenggarakan setiap hari Sabtu dengan peserta 30 orang pada setiap sesinya.
Untuk gelombang pertama, yang akan diselenggarakan pada Februari-April 2025, sebanyak 210 pelajar dari Jakarta dan sekitarnya akan mengikuti kegiatan ini. Ditargetkan, sebanyak 1.035 peserta berusia 13 – 19 tahun berpartisipasi dalam kegiatan ini dalam satu tahun ke depan.
Program ini juga menghadirkan sesi pendidikan bersama mentor yang berasal dari pejabat politik tingkat nasional untuk membahas berbagai isu, seperti kemiskinan dan ketenagakerjaan; iklim dan lingkungan hidup.
Ketua Bidang Pemilih Pemula dan Milenial DPP Partai NasDem Lathifa Marina Al Anshori menjelaskan, Remaja Bernegara merupakan program edukatif untuk remaja Indonesia, di mana peserta bisa belajar tentang sistem demokrasi dan cara membuat kebijakan melalui permainan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/25/b377d722-6683-45e0-8bf3-1b7aa9506932_jpg.jpg)
Ia menjelaskan, terdapat tiga model simulasi permainan bernegara yang akan dimainkan oleh peserta dalam program ini, yaitu simulasi reses, yakni ketika anggota DPR turun ke lapangan untuk mengumpulkan aspirasi masyarakat; simulasi paripurna untuk membahas isu-isu relevan dalam sidang di DPR; serta simulasi badan musyawarah pimpinan.
“Selama satu hari, peserta akan merasakan bagaimana menjadi anggota DPR, pejabat, ataupun tokoh masyarakat. Ketika memainkan simulasi reses, misalnya, peserta akan menjadi anggota DPR yang bertemu dengan masyarakat,” ujarnya.
Peserta Remaja Bernegara, Farrel Arfagani dari SMAN 23 Kabupaten Tangerang menuturkan, dirinya tertarik ikut kegiatan ini karena ada simulasi menjadi pejabat. “Saya ingin dapat pengalaman jadi pejabat dan juga ingin sosialisasi,” katanya.
Farrel, bersama dua temannya, yaitu Habibi Ahmad Nur Santoso dan Abdul Jabar Prakoso, menyatakan sama sekali tidak tertarik menjadi politisi. Tetapi Farrel dan kawan-kawan menyadari bahwa kebijakan politik sangat mempengaruhi kehidupan “Kebijakan efisiensi anggaran pendidikan misalnya, bisa membuat turunnya fasilitas-fasilitas pendidikan baik di tingkat sekolah maupun universitas,” kata Farrel.
Penulis:
Denty Piawai NastitieEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari