PERDAGANGAN

Rencana Pertemuan Trump-Xi Dibayangi Penyelidikan Perdagangan AS

Penyelidikan itu menjadi cara Trump agar bisa memberlakukan tarif lagi terhadap mitra-mitra dagangnya setelah tarif lama dibatalkan Mahkamah Agung.

16 Mar 2026 19:15 WIB · Internasional

AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

Oleh Elsa Emiria Leba

BEIJING, SENIN — China berkeberatan atas sejumlah penyelidikan perdagangan Amerika Serikat terhadap mitra-mitra dagangnya. Pertikaian ini menambah gangguan terhadap rencana Presiden AS Donald Trump mengunjungi Presiden China Xi Jinping selain isu perang di Timur Tengah.

Kementerian Perdagangan China, Senin (16/3/2026), mengajukan keberatan serta mendesak Washington untuk memperbaiki cara dalam menyikapi isu perdagangan. Langkah AS dinilai justru membangun hambatan perdagangan.

”Kami mendesak pihak AS untuk segera memperbaiki kesalahan mereka, berkompromi dengan China, serta menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi. Putaran penyelidikan terbaru itu sangat sepihak, sewenang-wenang, dan diskriminatif,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan China.

Keberatan itu keluar setelah Washington menggelar penyelidikan mengenai kelebihan kapasitas industri terhadap 16 negara, pekan lalu. China dan Indonesia masuk dalam daftar penyelidikan.

Presiden China Xi Jinping mendengarkan pidato dalam sidang pleno Kongres Rakyat Nasional China di Aula Besar Rakyat, Beijing, China, Senin (9/3/2026).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan dari West Palm Beach, Florida, menuju Joint Base Andrews, Maryland, Minggu (15/3/2026).

Tak lama, Perwakilan Dagang AS (USTR) meluncurkan penyelidikan perdagangan terpisah. Penyelidikan ini menyasar 60 negara yang diduga gagal mengambil tindakan terhadap praktik kerja paksa dalam rantai perdagangan serta jika hal ini mengganggu perdagangan AS. China dan Indonesia lagi-lagi tersangkut.

”Kami akan memantau dengan cermat perkembangan penyelidikan AS dan berhak untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk secara tegas melindungi hak dan kepentingan sah kami,” ujar jubir itu menambahkan, menurut China Daily.

Kedua rangkaian penyelidikan itu terjadi sementara negosiator kedua negara bertemu di markas besar Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Paris, Perancis, Minggu (15/3/2026), untuk membahas perang tarif yang sedang ditunda. Menurut Washington, pembicaraan berlangsung selama dua hari.

Penyelidikan AS terhadap mitra-mitra dagangnya kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan. Namun, jika terbukti, hasil penyelidikan itu dapat membenarkan pemberlakuan tarif baru Trump setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif besar-besaran Trump, bulan lalu.

Bisa ditunda

Prospek AS dan China untuk mencapai terobosan dalam isu perdagangan sangat terbatas. Menurut Gedung Putih, Trump akan melawat ke China selama 31 Maret-2 April 2026. Beijing belum mengonfirmasi tanggal tersebut.

Namun, pertemuan itu kini terancam karena perhatian AS sedang teralihkan oleh perang di Timur Tengah. Bahkan, Trump menyebut nama China saat menuntut negara-negara sekutu untuk membantu membuka blokade Selat Hormuz dengan mengirim kapal perang. Sejauh ini, Australia sudah menolak.

Iran menutup jalur perdagangan minyak global itu setelah AS-Israel menyerang Teheran pada 28 Februari 2026. Harga minyak dan gas melonjak, sedangkan negara-negara yang bergantung pada impor kelimpungan. China merupakan salah satu pembeli utama minyak Iran yang sudah mendapat sanksi ekonomi AS selama bertahun-tahun.

”Kita mungkin akan menunda,” ujar Trump tentang perjalanan ke China kepada Financial Times, Minggu.

Lawatan Trump ke China akan menjadi kunjungan perdananya setelah tahun 2017. Trump dan Xi sebetulnya sudah bertemu di Busan, Korea Selatan, Oktober 2025. Pertemuan berakhir tanpa hasil berarti, tetapi mereka menyepakati untuk gencatan senjata dalam perang dagang selama setahun.

Infografik AFP aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Pembatalan kunjungan tatap muka dengan Presiden Xi dapat memiliki konsekuensi ekonomi besar tersendiri. Apalagi, perdagangan tetap menjadi sumber ketegangan utama di antara kedua negara dalam setahun terakhir. Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Selain pertemuan bilateral, Trump dan Xi berpotensi bertemu dalam tiga agenda lain pada tahun ini. Mereka kemungkinan bertemu dalam kunjungan balasan Xi ke Washington, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di China, dan KTT G20 di AS.

Sebelum Trump berbicara tentang kemungkinan pembatalan kunjungan ke China, seorang juru bicara Kedutaan Besar China di Washington tidak memberikan jawaban pasti atas seruan Trump untuk memberi bantuan di selat tersebut. Menurut dia, semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil.

”Sebagai mitra strategis negara-negara Timur Tengah, China akan terus memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, dan memainkan peran konstruktif untuk deeskalasi dan pemulihan perdamaian,” ujar jubir itu.

Negosiasi China-AS

Dalam pertemuan di Paris, sejumlah sumber mengatakan kepada Reuters, pembicaraan yang ”sangat stabil” dipimpin oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Kedua pihak diproyeksikan mencapai hasil di bidang pertanian, mineral penting, dan perdagangan yang terkelola, Senin.

”Namun, para pemimpin akan memiliki keputusan akhir,” ujar para sumber.

Pihak China masih berkomitmen membeli 25 juta metrik ton kedelai AS untuk masing-masing tiga tahun ke depan sesuai kesepakatan gencatan senjata perang tarif Trump-Xi pada Oktober 2025. Di samping itu, Beijing terbuka pada potensi pembelian tambahan produk pertanian AS, khususnya unggas, daging sapi, dan tanaman pangan nonkedelai, menurut salah satu sumber.

Menurut sumber itu, kedua pihak membahas pula pembentukan mekanisme baru untuk membantu mengelola perdagangan dan investasi di antara dua negara tersebut. Pembicaraan teknis tentang usulan ”Dewan Perdagangan” dan ”Dewan Investasi” AS-China bakal berlangsung pada Senin waktu setempat.

Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menghadiri pertemuan bilateral antara China dan Swiss, di Geneva, Swiss, Jumat (9/5/2025).
Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice (tengah) dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent menghadiri diskusi meja bundar tentang olahraga perguruan tinggi di White House, Washington, D.C., Jumat (6/3/2026). Pemerintahan Donald Trump menggelar diskusi bertajuk “Saving College Sports” bersama pemimpin konferensi Power Four, eksekutif media, dan mantan pelatih.

Sejauh ini, pembentukan Dewan Perdagangan adalah usulan yang lebih matang. Dewan ini akan bertujuan untuk menemukan produk dan sektor agar AS dan China dapat meningkatkan perdagangan secara seimbang tanpa mengorbankan keamanan nasional atau rantai pasok penting masing-masing negara.

China-AS membahas pula isu aliran mineral kritis dari China. AS, khususnya, khawatir atas kurangnya akses industri kedirgantaraan AS terhadap itrium yang dipakai dalam turbin mesin jet.

Juru bicara Departemen Keuangan AS dan USTR menolak untuk mengomentari pembicaraan tersebut. Para pejabat China juga pergi tanpa berbicara kepada wartawan. Akan tetapi, waktu yang terbatas dan perang di Timur Tengah membuat terobosan dalam negosiasi sulit tercapai.

”Isu kunci dalam pertemuan AS-China adalah apakah China dan AS dapat menyepakati apa yang telah disepakati dan mengelola perbedaan pendapat. Iran adalah faktor baru, tetapi Beijing lebih khawatir tentang perubahan kebijakan AS yang tidak menentu,” tutur Gary Ng, ekonom senior di bank Perancis, Natixis. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar