Benfica lolos dari lubang jarum dengan memastikan satu tempat pada ”playoff” Liga Champions. Kelolosan mereka diawali serangan panik di bangku cadangan.
29 Jan 2026 14:33 WIB · Olahraga
AFP
Ketidakcermatan mengamati aturan fase liga di Liga Champions Eropa nyaris mengubur harapan Benfica melaju ke 16 besar. Tim besutan Pelatih Jose Mourinho itu sudah cukup nyaman saat unggul atas Real Madrid jelang laga usai. Namun, seorang staf Mourinho menyadari sesuatu yang berbahaya. Kesadaran itu memancing kepanikan dan pada akhirnya membuka jalan Benfica untuk lolos playoff.
Semua berjalan sesuai rencana bagi Benfica saat laga melawan Real memasuki menit ke-96. Wasit Davide Massa memberikan delapan menit waktu tambahan babak kedua dan Benfica sedang berada dalam posisi unggul 3-2 berkat sepasang gol Andreas Schjelderup dan Vangelis Pavlidis. Adapun Real membalas lewat aksi Kylian Mbappe (dua gol). Merasa sudah pasti menggenggam tiket playoff, para pemain dan staf kepelatihan Benfica merasa tenang.
Namun, rasa tenang itu ternyata melenakan. Salah seorang staf Mourinho menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia melihat tabel klasemen fase liga yang belum mendapati Benfica pada posisi aman.
Benfica dan Marseille bersaing memperebutkan satu tempat terakhir playoff. Kedua tim itu punya perolehan poin dan selisih gol yang sama. Hal penting yang nyaris luput dari pengamatan Mourinho dan stafnya adalah Benfica ternyata kalah dari sisi produktivitas gol.
Itu berarti keunggulan 3-2 tidak cukup membantu Benfica menggeser Marseille dari peringkat 24 klasemen sementara. Benfica setidaknya butuh satu gol tambahan untuk menyingkirkan Marseille. Belum terlambat bagi Benfica untuk sadar, waktu tambahan masih tersisa dua menit saat sang staf segera memberi tahu Mourinho untuk lebih agresif menyerang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/29/2a4c486967810bc1f6add638c6efa084-wires_photo_86_.jpg)
”Saat saya melakukan pergantian pemain terakhir, saya diberi tahu bahwa kami sudah cukup (untuk lolos). Lalu beberapa detik kemudian, mereka (staf) memberi tahu saya bahwa kami membutuhkan satu gol lagi. Namun, saya tidak bisa melakukan pergantian pemain lagi,” kata Mourinho dalam wawancara bersama CBS seusai laga di Stadion Da Luz, Lisabon, Portugal, Kamis (29/1/2026) dini hari WIB.
Fakta keunggulan 3-2 tidak cukup untuk lolos membuat bangku cadangan Benfica yang semula tenang tiba-tiba diselimuti kepanikan. Para staf kepelatihan dan beberapa pemain yang semula duduk seketika berdiri.
Mourinho yang tidak punya kesempatan memasukkan pemain pengganti sebagai pengubah hasil akhir laga seakan kehilangan akal. Dia hanya berharap para pemainnya bisa menemukan cara mencetak gol tambahan.
Ketika waktu makin menipis, Benfica mendapat tendangan bebas di sisi kiri pertahanan Real. Mourinho, dengan pengalamannya, seketika mendapat ide berani. Dia segera memerintahkan kiper Anatoliy Trubin untuk maju ke kotak penalti Real.
Pada momen itu Mourinho mempertaruhkan segalanya. Bisa mencetak gol tambahan yang berarti satu tiket playoff atau kebobolan serangan balik cepat Real karena seluruh pemain sudah menumpuk di kotak penalti lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/29/fd76cad323f30f5358a94ecb1ee8e52a-wires_photo_84_.jpg)
Perjudian itu pada akhirnya dimenangi Mourinho. Trubin yang bertinggi nyaris 2 meter memenangi duel udara melawan David Alaba dan Federico Valverde. Thibaut Courtois takluk lewat sundulan jarak dekat Trubin. Seisi stadion bergemuruh menyambut gol mahapenting Trubin. Kemenangan 4-2 memastikan Benfica menempati peringkat ke-24, posisi paling akhir tim yang lolos playoff 16 besar.
Saking senyapnya bahaya yang mengintai Benfica, Trubin dan rekan-rekannya pun mengaku tidak tahu mengapa Mourinho meminta mereka tetap mengejar satu gol lagi meski sudah unggul. Bahkan, Trubin sempat dengan sengaja mengulur waktu saat mengambil tendangan bebas, mengira timnya sudah dipastikan lolos dengan keunggulan tipis 3-2.
”Saya tidak menyadari apa yang kami butuhkan (untuk lolos). Tomás (Araujo) dan Antonio (Silva) mengatakan ’satu, satu’ dan saya bilang, ’Apa?’. Tetapi kemudian saya melihat semua orang menyuruh saya maju. Saya juga melihat pelatih (memerintahkan maju), jadi saya maju, masuk ke kotak penalti dan saya tidak tahu. Saya tidak tahu harus berkata apa. Itu momen yang gila. Saya tidak terbiasa mencetak gol. Saya berusia 24 tahun dan ini pertama kalinya. Luar biasa,” kata Trubin.
Mourinho yang setengah percaya timnya mampu mencetak gol tambahan berteriak gembira. Dia mengakui Benfica tidak unggul dalam duel-duel udara. Oleh sebab itulah, Mourinho terpikir untuk mendorong Trubin maju menyambut umpan tendangan bebas Fredrik Aursnes.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/29/0249a32db6d0326fdb297046850f22f4-wires_photo_83_.jpg)
Keberuntungan atau nasib baik mengambil peran di sini. Benfica diuntungkan setelah Real hanya bermain dengan sembilan orang akibat Rodrygo dan Raul Asencio terkena kartu merah pada masa tambahan waktu. Unggul jumlah pemain, Benfica bisa memenangi duel udara yang bukan jadi keunggulan mereka musim ini.
Gol Trubin jadi nyawa tambahan bagi Benfica yang musim ini menjalani masa sulit. Keberhasilan menjaga asa melaju ke 16 besar Liga Champions mengobati kegagalan mereka pada dua turnamen piala domestik. Benfica saat ini masih melanjutkan persaingan di Liga Portugal dan Liga Champions.
Keajaiban itu tidak akan terjadi jika bangku cadangan Benfica tetap diliputi kealpaan hingga laga usai. Benfica memang sudah digariskan untuk terus melaju. Dewi fortuna masih memeluk mereka sehingga dengan sisa dua menit krusial, perjuangan ke 16 besar masih tetap bisa dijaga.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan