Penggerebekan geng narkoba terbesar dalam sejarah Brasil.
30 Okt 2025 10:35 WIB · Internasional
AFP/Mauro PIMENTEL
Penggerebekan besar-besaran terhadap geng pengedar narkoba di Brasil, tepatnya di Rio de Janeiro, dimulai pada Selasa (28/10/2025). Operasi ini menyebabkan banyak korban tewas. Setidaknya lebih dari 119 orang yang diduga bagian dari geng narkoba dan 4 polisi tewas dalam operasi ini.
Operasi ini melibatkan sekitar 2.500 polisi dan tentara dengan persenjataan lengkap dan didukung kendaraan lapis baja, drone, dan helikopter. Mereka menargetkan geng Komando Merah yang berbasis di Favela atau pemukiman kumuh dan padat penduduk di Complexo de Alemao dan Menha.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/30/f442f01f-1221-4856-a272-e7e433750788_jpg.jpg)
Operasi kali ini merupakan operasi paling besar dan paling banyak menimbulkan korban jiwa dalam sejarah perang narkoba di Brasil. Selain korban tewas, sekitar 113 tersangka juga ditangkap dengan barang bukti 93 senapan dan lebih dari 1 ton narkoba. Pemerintah negara bagian menyatakan bahwa mereka yang tewas adalah anggota geng yang melawan tindakan polisi.
Rekaman di media sosial menunjukkan api dan asap mengepul dari dua kawasan permukiman kumuh (favela) tersebut saat tembakan mulai terdengar. Departemen pendidikan kota mengatakan 46 sekolah di kedua lingkungan tersebut ditutup, dan Universitas Federal Rio de Janeiro yang terletak di dekatnya membatalkan kelas malam. Mereka juga mengimbau warga di sekitar kampus untuk mencari perlindungan.
Anggota geng memblokade jalan-jalan di Rio bagian utara dan tenggara dengan barikade mobil dan plat besi di semua ujung jalan menuju favela. Setidaknya 70 bus digunakan anggota geng untuk membuat barikade.
Rio telah lama menjadi lokasi penggerebekan mematikan oleh polisi selama beberapa dekade. Pada Maret 2005, sekitar 29 orang tewas di wilayah Baixada Fluminense, Rio. Sementara pada Mei 2021, 28 orang tewas di favela Jacarezinho. Dalam penggerebekan kali ini, polisi mendapat perlawanan sengit. Bunyi tembakan dari kedua pihak terus bersahutan seharian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/30/042e640f-5536-454d-87e0-f22a96465a90_jpg.jpg)
Saat penggerebekan selesai, penduduk mengumpulkan korban yang tewas. Media sosial segera dipenuhi foto puluhan mayat yang dijajarkan di jalanan favela. Ratap tangis terdengar dari keluarga korban.
Penduduk favela berkumpul di depan kantor pusat pemerintah negara bagian sambil meneriakkan ”pembunuh!” dan melambaikan bendera Brasil yang diwarnai cat merah. Mereka mempertanyakan penggunaan kekuatan berlebihan dan menyerukan Gubernur Rio Claudio Castro mengundurkan diri.
Kejadian ini segera mendapat reaksi dari pegiat HAM. Komisi Hak Asasi Manusia Brasil meminta klarifikasi dari pemerintah Negara Bagian Rio. Jaksa penuntut Rio meminta Castro untuk memberikan informasi detail tentang operasi tersebut dan bukti bahwa tidak ada cara yang lebih aman untuk mencapai tujuannya.
Sementara itu, Presiden Brasil Luiz Inacoa Lula da Silva dalam unggahan media sosialnya mengatakan bahwa negaranya tidak dapat menerima kejahatan terorganisasi yang menghancurkan penduduknya. Geng kriminal telah memperluas kehadiran mereka di seluruh Brasil dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di hutan Amazon. (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto