Rice dan Anderson, Duo Gelandang Inggris Menuju Piala Dunia

Cukup tiga laga bagi Rice dan Anderson untuk meyakinkan Tuchel soal pilihan utama lini tengah di Piala Dunia nanti. Duo itu membawa stabilitas untuk ”Tiga Singa”.

13 Okt 2025 18:35 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

RIGA, SENIN — Tim nasional Inggris hanya butuh satu kemenangan lagi untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Mereka menyongsong ajang empat tahunan itu tanpa rasa khawatir lagi, sebab sudah mendapatkan duet terbaik di posisi gelandang. Tepatnya menemukan pendamping untuk Declan Rice.

Inggris akan otomatis lolos ke putaran final Piala Dunia jika menang atas tuan rumah Latvia dalam laga kualifikasi babak grup di Stadion Daugava, Riga, Rabu (15/10/2025) pukul 01.45 WIB. Kekalahan Serbia dari Albania melapangkan jalan tim asuhan Pelatih Thomas Tuchel itu di Grup K.

”Tiga Singa”, julukan mereka, berada di puncak klasemen dengan 15 poin dari lima laga. Pesaing terdekat hanyalah Albania (11 poin) yang sudah memainkan enam laga. Dengan jumlah total delapan laga di babak grup, Inggris hanya perlu tiga poin tambahan untuk memastikan status juara grup.

Piala Dunia Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sudah di depan mata Inggris. Terlepas dari kelolosan, ada hal lebih penting. Kurang dari setahun menjelang Piala Dunia, Tuchel mulai menemukan gambaran utuh skuad. Khususnya di lini tengah dengan duet gelandang Rice dan Elliot Anderson.

Quote

Pelatih sangat menyukai permainan kami dalam tiga pertandingan terakhir. Dia tetap mempertahankan (kombinasi) itu.

Dari tiga turnamen terakhir, ada kesamaan di skuad Inggris. Mereka selalu mengandalkan Rice di tengah. Namun, pasangan dari gelandang asal Arsenal itu selalu berbeda. Mulai dari Kalvin Phillips (Piala Eropa 2020), Jordan Henderson (Piala Dunia 2022), sampai Kobbie Mainoo (Piala Eropa 2024).

England's Declan Rice, right, is challenged by Wales's Ethan Ampadu during an international friendly soccer match between England and Wales at Wembley stadium in London, Thursday, Oct. 9, 2025. (AP Photo/Frank Augstein)

Pencarian berlanjut untuk ajang selanjutnya. Phillips dan Mainoo tidak dipanggil oleh Tuchel karena minim jam terbang di level tertinggi. Henderson, 35 tahun, diragukan sebagai starter karena sudah melewati fase emas. Dilema Tuchel masih terasa sampai pertengahan tahun.

Tuchel bahkan sempat mencoba gelandang Atletico Madrid, Conor Gallagher, dalam laga uji coba versus Senegal, Juni 2025. Namun, hasilnya antiklimaks dan Inggris takluk 1-3. Siapa sangka, jawaban datang dari Anderson yang baru dipercaya debut pada jeda internasional bulan lalu.

”Pelatih sangat menyukai permainan kami dalam tiga pertandingan terakhir. Dia tetap mempertahankan (kombinasi) itu,” kata Rice tentang duet dengan Anderson. ”Saya bisa lebih banyak maju (membantu serangan) berkatnya. Kami membangun kerja sama dan hubungan yang baik di tengah,” lanjutnya.

Sejak debut versus Andorra, September, Anderson selalu dipasang sejak menit awal dalam tiga laga beruntun. Tuchel enggan mengistirahatkannya. Dia selalu berpasangan dengan Rice sebagai pivot dalam formasi 4-2-3-1. Termasuk terakhir kali saat Inggris menang 3-0 atas Wales di laga uji coba pada Jumat.

Gelandang Nottingham Forest itu selalu tampil memukau. Dalam dua laga pertamanya, di kualifikasi Piala Dunia, Anderson terpilih sebagai pemain terbaik laga. Dia mampu menjembati serangan, menjaga ancaman transisi lawan, dan terpenting adalah melengkapi sosok Rice yang lebih ofensif.

Di atas kertas, Anderson bertugas menjadi gelandang jangkar yang lebih defensif. Dia menjaga keseimbangan di lini tengah saat penguasaan, tidak ikut maju saat Rice menjelajahi sepertiga akhir lawan. Adapun Rice berperan sebagai gelandang ”nomor 8” yang kerap naik untuk membantu serangan.

England's Elliot Anderson is challenged by Wales's Kieffer Moore, left, during an international friendly soccer match between England and Wales at Wembley stadium in London, Thursday, Oct. 9, 2025. (AP Photo/Frank Augstein)

Anderson berkata, tidak masalah bermain lebih defensif selama bisa memaksimalkan potensi terbaik tim. ”Dia (Rice) sangat baik dalam peran ’nomor 8’. Dia bisa mendapatkan gol dan asis yang bisa membantu tim saat bermain lebih tinggi. Harapannya kami bisa melanjutkan momentum ini,” ujarnya.

Menariknya, duet itu bisa berganti peran seketika saat dibutuhkan. Anderson lebih sering memainkan peran ”nomor 8” di klubnya sehingga dia tidak kesulitan ketika harus maju membantu serangan. Sementara itu, Rice diberikan kebebasan peran oleh Manajer Mikel Arteta di Arsenal musim ini.

Terbukti, Anderson berkali-kali terlibat dalam kreasi peluang Inggris dalam laga versus Wales. Dia menghasilkan dua umpan kunci untuk rekan-rekannya, salah satu di antaranya menjadi peluang besar. Gelandang 22 tahun tersebut berhasil mencuri hati Tuchel.

Bersama duet Anderson dan Rice, Inggris mencatat tiga kemenangan beruntun yang sangat meyakinkan. Mereka mencetak total sepuluh gol dan belum kemasukan. Salah satu laga di antaranya menghadapi Serbia yang cukup diperhitungkan di level Eropa. Inggris menang 5-0.

Alhasil, laga versus Latvia nanti bisa semakin mematenkan duet Anderson dan Rice untuk Piala Dunia. Satu-satunya yang bisa mencuri posisi Anderson nanti adalah gelandang Crystal Palace, Adam Wharton. Wharton sedang naik daun di Liga Inggris, tetapi belum dilirik kembali oleh Tuchel setelah mengundurkan diri akibat cedera di jeda internasional sebelumnya. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto