Pertemuan dengan Presiden Prabowo dan Presiden ke-7 RI Jokowi diyakini cagub Jakarta, Ridwan Kamil, sebagai bentuk dukungan dari keduanya.
03 Nov 2024 17:57 WIB · Politik & Hukum
Oleh Nikolaus Harbowo - [email protected]
JAKARTA, KOMPAS — Calon gubernur Jakarta, Ridwan Kamil, membantah anggapan bahwa pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo lantaran elektabilitasnya yang turun. Meski demikian, menurut dia, pertemuan jelas menandakan adanya dukungan dari kedua tokoh tersebut kepada dirinya.
Ridwan Kamil saat ditemui di Telaga Senayan, Jakarta, Minggu (3/11/2024), menepis spekulasi yang menyebut bahwa pertemuannya dengan Prabowo dan Jokowi lantaran elektabilitasnya yang turun. Ia pun mengklaim, saat ini elektabilitasnya masih lebih tinggi dibandingkan dengan kompetitornya, Pramono Anung-Rano Karno. ”Tidak, elektabilitas saya, kan, lebih tinggi dari Mas Pram,” ujar Kamil.
Pada Kamis (31/10/2024), Kamil bertemu dan makan malam bersama Presiden Prabowo di sebuah restoran di Sabang, Jakarta Pusat. Melalui akun Instagram miliknya, Kamil menyebut berdiskusi banyak hal, termasuk mengenai Ibu Kota Nusantara (IKN), dengan Prabowo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/02/3fcc919028a55598518891b1d880b0d0-Prabowo_RK1.jpg)
Sehari kemudian, Kamil bersilaturahmi ke Jokowi di kediamannya di Surakarta, Jawa Tengah. Melalui akun Instagram miliknya, Kamil menyampaikan, dalam pertemuan banyak diberi nasihat dan gagasan-gagasan untuk membangun Jakarta oleh Jokowi.
Lebih lanjut, Kamil meminta kepada publik agar tidak menafsirkan hal yang macam-macam atas kedua pertemuan itu. Menurut dia, kedua pertemuan sudah jelas menandakan bahwa Prabowo dan Jokowi mendukung pasangan nomor urut 1, Ridwan Kamil-Suswono, atau biasa disingkat ”Rido” di Pilkada Jakarta 2024.
”Pertemuan itu artinya, dua presiden itu mendukung pasangan Rido. Kalau tidak mendukung, ngapain diterima, diberi waktu eksklusif. Ngapain di-posting di Instagram milik masing-masing, kan. Maaf ya, kalau ibarat tidak istimewa, kan datang tuh, ya sudah diterima, gitu saja. Saya, kan, di-posting di Instagram miliknya Pak Jokowi, di-posting di Instagram miliknya Pak Prabowo,” ucapnya.
Pada 15 Oktober 2024, Pramono Anung juga pernah mendatangi kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan. Kedatangan Pramono tersebut bertepatan dengan pemanggilan calon menteri, wakil menteri, hingga calon kepala badan, oleh Prabowo. Pramono juga pernah mengaku didukung Prabowo untuk maju di Pilkada Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/28/da043aa3-e839-4dff-af96-95e7fa28d74c_jpg.jpg)
Namun, menurut Kamil, seharusnya tidak ada pihak yang mengklaim telah mendapat dukungan dari dua tokoh tersebut, baik Prabowo maupun Jokowi. Sebab, secara tersirat, ia meyakini keduanya mendukung pasangan Kamil-Suswono.
”Ya kira-kira begitu. Kenapa (saya tegaskan ini)? Untuk menutupi seolah-olah ada klaim dari yang lain-lain bahwa yang didukung adalah yang lain-lain gitu. Makanya, saya balikin, jangan suka ngeklaim. Buktinya adalah itu, dua pertemuan itu,” tegas Kamil.
Secara terpisah, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai, pertemuan Kamil dengan Prabowo karena Kamil mulai merasa khawatir akibat elektabilitasnya yang kian menurun secara drastis.
”Suatu kekhawatiran, kekhawatiran yang sangat dari RK (Ridwan Kamil) karena surveinya menurun. Kemudian Pak RK datang ke Pak Jokowi, itu menunjukkan mentalitas kalah,” ujar Hasto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/10/01/1f2aafc9-3f14-4331-bfb4-cba9d3fdc1d1.jpg)
Untuk itu, lanjut Hasto, pertemuan Kamil dengan Jokowi ialah upaya Kamil untuk meminta restu dan pertolongan agar mantan gubernur Jawa Barat itu menang dalam Pilkada Jakarta 2024.
Namun, menurut Hasto, mental seperti itu justru mengembalikan Indonesia ke budaya Orde Baru. Anak muda sebenarnya tidak suka langkah meminta pertolongan dan restu dalam kontestasi politik. Para generasi Z lebih suka kandidat menawarkan gagasan dan mempertontonkan prestasi.
”Budaya restu-restuan itu adalah budaya lama, budaya Orde Baru. Berbeda dengan budaya anak muda, generasi milenial, gen Z ya mengedepankan prestasi, itu bedanya. Harus turun ke bawah, dengan menampilkan gagasan yang baik sehingga ketika RK datang ke Pak Jokowi itu menunjukkan sekali lagi mentalitet kalah, mentalitet bukan pejuang,” kata Hasto.
Langkah Kamil tersebut tidak akan diambil oleh Pramono-Rano Karno. Sebab, pasangan tersebut meyakini bahwa kemenangan di Pilkada Jakarta hanya dapat diraih jika pasangan tersebut rajin turun ke bawah dan menyapa rakyat dengan gagasan-gagasan yang membangun Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/08/05/07a7837d-f90e-45bb-85ee-6428313fea74_jpeg.jpg)
Hasto menegaskan, langkah Kamil yang meminta pertolongan Jokowi sudah tak berlaku karena Presiden Prabowo sudah menekankan pentingnya aparat netral pada Pilkada 2024.
”Cawe-cawe Jokowi sudah enggak bisa lagi meskipun kita lihat ada berbagai elemen-elemen aparatur negara yang masih mencoba dikerahkan. Oleh karena itu, jangan takut terhadap intervensi dari aparat negara karena Presiden Prabowo sudah mengatakan komitmennya untuk netral. Kalau ada aparatur negara, termasuk oknum polisi, yang bergerak untuk memenangkan pasangan calon tertentu, itu artinya berseberangan dengan garis kebijakan Presiden Prabowo,” katanya.
Mengacu hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dilaksanakan pada 21-25 Oktober 2024, elektabilitas Ridwan Kamil-Suswono sebesar 47,8 persen. Kemudian elektabilitas Pramono-Rano 38 persen, dan Dharma Pongrekun-Kun Wardana sebesar 4,3 persen. Survei melibatkan 1.200 responden.
Sementara mengacu hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Suswono sebesar 37,4 persen atau hanya unggul sekitar 0,3 persen dengan pasangan yang diusung PDI-P, Pramono Anung-Rano Karno, sebesar 37,1 persen. Posisi ketiga pasangan Dharma-Kun dengan elektabilitas 4 persen. Adapun 21,5 persen lainnya menyatakan belum menentukan pilihan atau tidak menjawab. Survei digelar pada 16-22 Oktober 2024 dan melibatkan 800 responden yang dipilih dari multistage random sampling.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/06/6b4d95a0-c739-490c-bbda-b10ad59da5ac_jpg.jpg)
Hasil survei Poltracking Indonesia sebelumnya, pada 10-16 Oktober 2024, juga memerlihatkan keunggulan Kamil-Suswono. Elektabilitas pasangan ini mencapai 51,6 persen. Selanjutnya, elektabilitas Pramono-Rano 36,4 persen, kemudian pasangan Dharma-Kun 3,9 persen.
Di luar itu, ada pula yang hasil survei lembaganya menunjukkan keunggulan Pramono-Rano. Hal ini seperti terlihat dari hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI).
Berkaca pada hasil survei pada 10-17 Oktober 2024, elektabilitas Pramono-Rano sebesar 41,6 persen, sedangkan Ridwan Kamil-Suswono di urutan kedua dengan elektabilitas 37,4 persen. Adapun Dharma-Kun di posisi ketiga dengan elektabilitas 6,6 persen.
Penulis:
Nikolaus HarbowoEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi undefined