Sebanyak 625 laga harus dijalani Son Heung-min untuk memenangi gelar juara. Tak terbantahkan, ia adalah salah satu kapten terbaik dalam sejarah Tottenham Hotspur.
22 Mei 2025 12:48 WIB · Olahraga
Ketika wasit asal Jerman, Felix Zwayer, meniupkan peluit akhir duel final Liga Europa antara Tottenham Hotspur dan Manchester United, Kamis (22/5/2025) dini hari WIB, di Stadion San Mames, Spanyol, Son Heung-min terduduk dengan mengepalkan kedua tangan serta menundukkan kepalanya. Satu per satu pemain Spurs, dimulai gelandang Rodrigo Bentancur, menghampiri kapten mereka untuk merayakan gelar juara Eropa.
Son adalah pemain utama paling senior yang ada di skuad Spurs musim ini. Tidak ada lagi pemain-pemain senior Si Lili Putih yang juga menjadi sahabatnya, seperti Harry Kane, Eric Dier, dan Hugo Lloris. Mereka telah pergi dari London utara untuk merengkuh trofi juara di liga berbeda.
Lloris telah merasakan gelar Piala Amerika Serikat bersama Los Angeles FC, tahun lalu. Sementara itu, Kane dan Dier berperan penting bagi Bayern Muenchen untuk trofi juara Liga Jerman pada musim ini.
Ia menjadi wajah lama yang tersisa di era Ange Postecoglou. Selama satu dekade di Spurs, Son telah merasakan pelatih-pelatih kelas dunia, misalnya Jose Mourinho dan Antonio Conte. Akan tetapi, trofi juara tidak juga datang ke Stadion Tottenham Hotspur.
Musim ini Son sejatinya tidak memberikan banyak kontribusi meskipun masih mampu menghadirkan dobel digit gol dan asis. Tepatnya, ia menyumbang 11 gol dan 12 asis. Jumlah itu menurun drastis dari 17 gol yang dihasilkannya musim lalu.
Penurunan gol itu tidak lepas dari masalah cedera yang menghampiri. Hamstring, pangkal paha, dan kaki menjadi tiga problem fisik yang menyebabkan Son melewatkan 17 pertandingan Spurs. Jumlah itu belum termasuk laga-laga yang dilalui dengan hanya duduk di bangku cadangan karena kondisi fisik yang belum cukup bugar.
Di tengah kondisi yang tidak terlalu baik, tentu gelar Liga Europa menjadi balasan setimpal dari perjuangannya melawan rasa sakit dan penderitaan tidak bisa membantu timnya. Son menjadi kapten Spurs yang meruntuhkan ”kutukan” Spurs nirgelar dalam 17 tahun di semua ajang atau 41 tahun di kancah Eropa.
Gestur emosional Son di akhir laga final itu juga setimpal dengan hari-hari penuh kerja keras yang dilaluinya sejak hijrah dari Bayer Levekusen ke Spurs pada musim panas 2015. Ia butuh menjalani 454 laga berseragam ”Si Lili Putih” hingga akhirnya bisa mengangkat trofi juara setinggi-tingginya di udara.
”Saya merasakan tekanan. Saya sangat menginginkan (trofi) ini. Tujuh hari terakhir, saya memimpikan gim ini setiap malam. Akhirnya, momen ini terjadi dan saya bisa tidur nyenyak sekarang,” ucap Son sembari tersenyum kepada TNT Sports di hadapan legenda Spurs, Gareth Bale, dan eks bek MU, Rio Ferdinand.
”Selama 17 tahun tidak ada yang bisa melakukan (juara) itu. Jadi, kami adalah pemain luar biasa mungkin bisa disebut legenda klub. Ini yang selalu saya impikan. Saya adalah manusia paling bahagia di dunia saat ini,” lanjut Son yang masuk sebagai pengganti Richarlison di menit ke-67.
Ketika disinggung dirinya layak disebut legenda Spurs, Son menjawab sembari tersenyum semringah. ”Bisa katakan saya legenda sekarang. Mengapa tidak? Setidaknya untuk hari ini”.
Dalam 10 tahun di Spurs, Son adalah pemain yang tidak memiliki pembenci. Mulai dari CEO Spurs Daniel Levy hingga para suporter sangat mencintai kapten tim nasional Korea Selatan itu.
Anak-anak pemain Spurs, seperti James Maddison dan sahabatnya, Kane, memanggil Son dengan sebutan ”Uncle Sonny”. Keakraban Son dengan putra-putri rekan setimnya tidak terbantahkan. Ia kerap menghabiskan waktu untuk bermain dengan anak-anak sahabatnya itu.
”Son adalah karakter yang paling dicintai di sepak bola. Seorang pelayan luar biasa untuk klub Tottenham,” ucap Bale.
Son adalah peraih tiga gelar Pemain Terbaik Spurs. Ia menyabet pula trofi pencetak gol terbanyak Liga Inggris 2021-2022. Tak ketingalan, FIFA Puskas Award yang menganugerahi gol terbaik disabet pemain berusia 32 tahun itu pada 2020.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/5ec9b234d337fd68ace10d8dc85b64a2-wires_photo_2025_05_22T123551.313.jpg)
Setelah meraih trofi pertama dalam karier profesionalnya yang telah berlangsung selama 15 tahun dan menjalani 625 pertandingan, Son pun sudah semakin layak disebut sebagai salah satu legenda hidup sepak bola Korea Selatan. Ia pantas dianggap pesepak bola terbaik Korsel di abad ke-21.
Son mengikuti jejak tiga pendahulunya, yaitu Cha Bum-kun, Kim Dong-jin, dan Lee Ho, yang pernah juara Piala UEFA atau Liga Europa. Cha memenangi trofi itu dua kali masing-masing bersama Einctracht Frankfurt di edisi 1979-1980 serta Bayer Leverkusen pada 1987-1988. Adapun Kim dan Lee juara bersama Zenit Saint-Petersburg pada musim 2007-2008.
Berbeda dengan tiga legenda Korsel itu, Son mengangkat trofi dengan predikat kapten Spurs. Tak ayal, ia merupakan kapten Spurs non-Inggris pertama yang mengangkat trofi Eropa.
Manajer Ange Postecoglou mengakui bahwa gelar juara Liga Europa adalah ikhtiarnya untuk membantu Son, salah satu legenda hidup Spurs, untuk merasakan indahnya menjadi juara. Postecoglou pun menjadi juru taktik Asia pertama yang membantu klub Inggris juara kompetisi kontinental.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/36e181a27ada4aef8fae052096753049-wires_photo_2025_05_22T123616.903.jpg)
”Saya menginginkan hadirnya hari seperti ini untuk Sonny. Hal ini belum terjadi sebelumnya,” kata Postecoglou dilansir BBC.
”Di luar ruang ganti (Stadion Tottenham Hotspur) ada gambar tim-tim juara, dan saya katakan kepada Sonny, ’kami harus mencantumkan fotomu di sana’,” tambahnya.
Setelah menangis di akhir final Liga Champions 2019 dan Piala Liga Inggris 2021, senyum akhirnya merekah untuk Son di Bilbao. Chukahamnida, kapten Son!
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto