Bukan hanya karena nuklir, alasan mendasar AS dan Israel menyerang Iran ialah kemampuan militer Iran yang telah menyamai kekuatan persenjataan Barat.
20 Jul 2025 06:30 WIB · Internasional
Kemampuan rudal balistik dan hipersonik Iran menembus sistem pertahanan udara Israel dalam perang 12 hari sepanjang 13-24 Juni 2025, membuat perimbangan kekuatan militer di Timur Tengah menjadi relatif setara dengan Israel. Israel unggul dengan kemampuan jet tempur, Iran unggul dengan rudal hipersoniknya.
Iran menembakkan paling tidak 500 rudal dan meluncurkan 1.100 pesawat nirawak (drone) ke Israel dalam perang 12 hari yang bertajuk operasi True Promise III. Dari antara jumlah itu, Times of Israel mencatat, lima pangkalan militer Israel dihajar oleh enam misil Iran. Selain itu, terdapat 36 rudal dan satu drone yang menghantam wilayah berpenduduk di Israel.
Lolosnya sebanyak 42 rudal Iran tersebut merupakan kenaikan kemampuan penetrasi misil Iran dibandingkan dalam serangan operasi True Promise II pada Oktober 2024, yang tercatat meloloskan sekitar 20 hingga 35 misil.
Pada operasi Oktober 2024 tersebut, area Pangkalan Udara Nevatim di Negev dihantam oleh 20 hingga 32 rudal, yang merusak hanggar dan landasan pacu sebagaimana dipantau oleh The Observer, NPR, dan The Washington Post. Selebihnya adalah area warga sipil di sekitar markas Mossad di Tel Aviv.
Jumlah yang secara aktual diperoleh media dari pengamatan terhadap dampak kerusakan masif dalam citra-citra satelit itu menunjukkan bahwa klaim Israel bahwa mereka hanya mengalami ”sedikit kerusakan” adalah upaya menutupi tingkat kerugian yang diderita di depan publik.
Hal itu antara lain dibuktikan dengan upaya Pemerintah Israel untuk menutupi kerusakan yang terjadi dan perintah untuk menangkap warga Israel yang menyebarkan tanpa izin gambar-gambar kerusakan akibat rudal Iran.
Dengan jumlah rudal yang mengenai sasaran pada operasi True Promise III tersebut, proporsi keberhasilan sasaran mencapai 8,5 persen yang merupakan angka yang signifikan. Terlepas dari kemampuan Israel mengebom wilayah Iran berulang kali, kerusakan yang ditimbulkan oleh rudal Iran tampaknya jelas menjadi salah satu ”pendorong penting” bagi kesediaan Israel untuk melakukan gencatan senjata.
Di sisi lain, secara tidak disengaja kini Iran memiliki senjata andalan penggentar non-nuklir yang sudah cukup untuk membuat Israel berpikir dua kali saat akan menyerang Iran. Seperti diketahui, Israel sudah berkali-kali melakukan pre-emptive strike atau serangan pendahuluan terhadap negara yang dianggap bermusuhan.
Serangan seperti yang terjadi pada perang Arab-Israel tahun 1967, penyerangan reaktor Osirak Irak 1981, berbagai serangan ke Suriah dan dalam menyerang fasilitas pengayaan nuklir Iran Juni 2025, merupakan taktik Israel untuk melumpuhkan negara-negara yang dalam keadaan damai, memiliki kekuatan militer total yang jauh lebih besar daripada Israel.
Dalam berbagai serangan pendahuluan pada masa lalu, negara-negara tersebut tak memiliki sumber daya alutsista cadangan jika serangan itu melumpuhkan kemampuan militer mereka. Dalam kasus serangan ke Iran, terbukti hingga hari terakhir perang pada 24 Juni 2025, Iran masih mampu mengirim rudal-rudal balistik yang berkemampuan tinggi sehingga membuat Israel kerepotan.
Hanya karena bantuan Amerika Serikat dengan pengeboman oleh pesawat Stealth B-2 Spirit, akhirnya Israel mampu menghentikan keberingasan rudal-rudal balistik dan hipersonik Iran melalui perjanjian gencatan senjata. Namun, kemampuan rudal Iran yang luar biasa itu tampaknya akan terus menjadi bayang-bayang ancaman kepada Israel di masa depan.
Lantas, dari mana Iran memperoleh kemampuan membuat rudal-rudal itu?
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/19/081ccd0a-df2c-4a84-92a4-ce1c9ee6aabf_jpg.jpg)
Pengembangan industri militer domestik Iran sebagian besar didorong oleh kebutuhan, terutama setelah Revolusi Islam 1979 dan Perang Iran-Irak (1980–1988). Setelah revolusi, Iran menghadapi isolasi internasional yang meluas, termasuk embargo senjata dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat.
Pembatasan ini, ditambah dengan tuntutan perang yang intens selama delapan tahun, memaksa Iran untuk mulai membangun basis industri militer yang mandiri dengan menerapkan strategi reverse engineering atau menguasai teknologi lalu melaksanakan riset ilmu dasar untuk mengembangkannya. Cara sederhana yang dilakukan dalam strategi reverse engineering ialah membongkar sebuah sistem atau perangkat lunak kemudian memahami cara kerjanya.
Awalnya, Iran sangat bergantung pada rekayasa balik peralatan Barat dan Soviet yang tersisa dari era sebelum Revolusi Islam 1979. Para insinyur dan teknisi Iran mulai mempelajari, memperbaiki, dan akhirnya mereplikasi sistem-sistem ini. Selama Perang Iran-Irak, urgensi untuk memelihara dan mengganti peralatan yang rusak mempercepat produksi amunisi, suku cadang, dan senjata dasar dalam negeri.
Iran juga beralih ke negara-negara seperti Korea Utara, China, dan Rusia untuk mendapatkan bantuan teknis, transfer teknologi, dan bahan baku. Seiring waktu, hubungan ini membantu Iran membangun kemampuan domestik dalam produksi rudal, drone, dan kendaraan lapis baja. Lembaga-lembaga seperti Organisasi Industri Pertahanan (DIO) dan Organisasi Industri Dirgantara (AIO) dibentuk untuk mengawasi penelitian, pengembangan, dan manufaktur.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/16/888df456-af6d-4c0e-9dcb-1fddf2a63b53_jpg.jpg)
Pada era 1990-an dan 2000-an, Iran mulai memproduksi tank (seperti Zulfiqar), rudal (seperti seri Shahab), dan kendaraan udara nirawak (UAV) sendiri. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memainkan peran kunci dalam membimbing dan melindungi industri ini, mengintegrasikan kebutuhan militer dengan perencanaan industri. Terlepas dari sanksi dan tekanan internasional, Iran terus mengembangkan industri militer yang beragam yang mendukung strategi perang konvensional ataupun asimetris.
Selama konflik Iran-Irak 1980-1988, penggunaan rudal balistik yang ekstensif oleh Irak, terutama rudal Scud dari Uni Soviet, membuat banyak divisi perang Iran porak poranda yang menunjukkan kerentanan Iran karena tidak memiliki kecanggihan rudal yang sebanding. Sebagai tanggapan, Iran berupaya membangun kemampuan rudalnya sendiri sebagai alat pencegahan dan pertahanan. Bukan ke arah membuat pesawat tempur, tetapi ke arah penguasaan teknologi rudal.
Namun, sanksi internasional dan embargo senjata membatasi akses Iran ke teknologi senjata canggih, mendorongnya untuk bergantung pada mitra asing dan melakukan rekayasa balik. Korea Utara tampaknya menjadi ”sponsor tidak langsung” teknologi rudal Iran, di mana Iran memperoleh rudal Hwasong yang juga mencontek rudal Scud-B Uni Soviet, menghasilkan rudal balistik jarak pendek Shahab-1 dan Shahab-2 antara tahun 1987 dan 1994.
Shahab-1 adalah salinan dari Scud-B, dengan jangkauan sekitar 300 km, muatan 770 kg, sementara Shahab-2 adalah versi yang ditingkatkan, berdasarkan Scud-C, dengan jangkauan masing-masing sekitar 500 km. Pada akhir 1990-an, Iran sudah berkembang lagi membuat rudal Shahab-3 yang mirip dengan rudal Nodong 1/A dari Korea Utara, dan memperluas jangkauan serang rudal Iran dari yang semula hanya jarak pendek menjadi sejauh 1.300 kilometer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/20/8cc855d9606785c1393e62eda404bb6b-figure_1_iran_missiles_IISS.png)
Kemampuan Iran membuat rudal berkecepatan hipersonik dan mempunyai kemampuan bermanuver saat peluncuran sesungguhnya merupakan karya agung yang bahkan belum dimiliki negara-negara anggota NATO sekalipun. Amerika Serikat pun belum memiliki rudal hipersonik yang andal dan teruji dalam peperangan sebagaimana rudal-rudal milik Iran, ataupun Rusia dalam perang dengan Ukraina.
China juga dikenal memiliki seri rudal hipersonik yang canggih, tetapi belum pernah diuji dalam medan perang yang penuh dengan hambatan lawan dan peperangan elektronik. Dengan kemampuan Iran membangun rudal berkecepatan hipersonik, khususnya saat menumbuk sasaran, Iran masuk dalam elite negara di dunia selain Rusia dan China yang menguasai teknologi hipersonik secara kokoh.
Upaya Iran dalam mengembangkan teknologi rudal hipersonik mencerminkan strateginya untuk melawan kekuatan militer Barat dengan model perang asimetris. Iran menunjukkan rudal hipersoniknya beroperasi cukup efektif pada operasi True Promise II dan True Promise III dan mengklaim telah mencapai tujuan-tujuan militernya.
Perjalanan Iran menuju teknologi hipersonik dimulai dengan meningkatnya keahliannya dalam propulsi berbahan bakar padat, aerodinamika rudal, dan sistem pemandu, yang dikembangkan selama beberapa dekade pengembangan rudal balistik. Program-program pengembangan rudal seri Shahab dan Sejjil diarahkan pada kecepatan dan kemampuan manuver untuk mengatasi sistem pertahanan antirudal Barat dan Israel.
Senjata hipersonik, yang melaju dengan kecepatan di atas Mach 5 dan mampu menempuh jalur penerbangan yang tak terduga, terbukti mampu menghindari intersep oleh sistem Arrow, David Sling, apalagi Iron Dome Israel, atau bahkan rudal Patriot milik AS. Meski demikian, patut tetap dicatat bahwa kemampuan berlapis Israel mencegat rudal Iran tetap masih dominan.
Iran kemungkinan besar diuntungkan oleh transfer teknologi dan rekayasa balik, dari teknologi hipersonik Rusia dan China meskipun kerja sama langsung tidak pernah diakui terbuka. Biasanya, transfer teknologi persenjataan sensitif semacam ini tidak dilakukan di tingkat resmi, tetapi melibatkan pasar gelap senjata dan para mafia senjata.
Rudal hipersonik utama Iran, Fattah, menggunakan propulsi berbahan bakar padat, mesin roket dengan nosel bergerak untuk meningkatkan kemampuan manuver pada kecepatan tinggi dan mampu mencapai kecepatan di atas Mach 13–15.
Sistem propulsinya dirancang untuk mempertahankan kecepatan tinggi dan memberikan koreksi di tengah lintasan menggunakan kendaraan luncur hipersonik atau hipersonic glide Vehicle HGV. Fattah memiliki nosel vektor dorong yang membantu memandu rudal saat memasuki kembali atmosfer dan memungkinkan manuver terbatas untuk menghindari pertahanan rudal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/02/05/a365992a-e993-401c-ad36-64bbe3d38beb_jpg.jpg)
Setelah bertransformasi dan membangun sistem persenjataan rudal secara mandiri, kini diakui persenjataan rudal Iran adalah yang terbesar dan paling beragam di Timur Tengah. Jenderal Kenneth McKenzie dari Komando Pusat AS kepada laman Iranwatch menyatakan bahwa Iran memiliki ”lebih dari 3.000” rudal balistik, belum termasuk rudal jelajah serang darat.
Iran telah membuat peningkatan pesat dalam presisi dan akurasi rudal, disertai dengan jangkauan rudal yang semakin jauh mencapai 2.000 km, yang dicapai pada tahun 2015. Iran juga memiliki rudal jenis Khorramshahr, yang mencapai jangkauan lebih jauh lagi jika dilengkapi dengan hulu ledak yang lebih ringan.
Banyak rudal Iran yang secara teknis mampu membawa muatan hulu ledak nuklir, yang telah lama menjadi perhatian internasional. Iran telah lama menguji keandalan rudal mereka dalam pertempuran sejak 2017, dan serangan rudal balistik terhadap pangkalan Irak yang menampung pasukan AS pada tahun 2020.
Iran juga telah mentransfer rudal ke proksi seperti pemberontak Houthi Yaman, yang telah menggunakannya untuk menyerang sasaran sipil di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dan kapal-kapal komersial yang melintasi Laut Merah.
Lembaga Iranwatch merangkum, kini Iran sudah memiliki 25 jenis rudal berbagai jenis, dari jenis rudal balistik jarak pendek, seperti seri Shahab, Qiam, Fatteh, Raad, Zolfaghar, Dezful; jarak menengah dari seri Shahab, Ghadr, Emad, Khoraamshahr, Fattah, Kheibar Shekan, Sejjil; rudal jelajah dari seri Soumar, Hoveizeh, Ya Ali, Paveh; hingga jenis rudal peluncur satelit, seperti Simorg, Qased, Zuljanah, Ghaem.
Mayoritas rudal-rudal itu sudah beroperasi dan sebagian diturunkan dalam peperangan melawan Israel, Juni 2025. Terbukti bahwa jarak ribuan kilometer sudah mampu ditempuh rudal-rudal itu dengan hulu ledak konvensional yang mengerikan. Kerusakan yang terjadi tak hanya berupa satu gedung, tetapi satu blok terdampak, sedangkan gedung yang terkena langsung hancur luluh.
Keterbatasan jumlah rudal balistik yang diperkirakan berada di angka 3.000-an unit, dan masih terbatasnya jumlah rudal hipersonik Fattah-1, agaknya membuat daya juang Iran tak sekuat napas perang Israel yang didukung Amerika Serikat dan sebagian pesawat NATO. Belum lagi keterlibatan Presiden Trump dalam bersilat lidah dan masuk dalam strategi pengalihan perhatian serangan militer.
Kesemuanya itu membuat Iran akhirnya terdesak untuk menerima tekanan gencatan senjata yang diinginkan Amerika Serikat di tengah belum berimbangnya kerugian materi dan imateri yang dialami Iran.
Namun, satu hal yang pasti, negara mana pun di Timur Tengah saat ini mengetahui bahwa Iran memiliki sumber daya rudal yang luar biasa, yakni hipersonik, dan membuatnya menjadi pengimbang dominasi kekuatan militer Israel. Inilah yang menjadi alasan mendasar AS dan Israel untuk menyerang Iran.
(Litbang Kompas)
Penulis:
M Toto SuryaningtyasEditor:
Andreas Yoga PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji