Kehilangan kepercayaan diri menggiring Amorim bertindak pengecut saat adu penalti kontra Grimsby. Memori kelam yang disandingkan dengan aib Steve McClaren.
29 Agt 2025 11:08 WIB · Olahraga
Siapa sangka, kekalahan Manchester United dari Grimsby Town pada putaran kedua Piala Liga Inggris berdampak begitu besar bagi manajer Ruben Amorim. Kekalahan memalukan dari tim divisi keempat Inggris itu sampai membuat kepercayaan diri Amorim hancur berkeping-keping. Amorim bahkan disebut mulai mempertimbangkan opsi mengundurkan diri dari jabatannya.
Tidak ada aib yang lebih buruk bagi manajer mana pun selain tersingkir oleh klub yang berkompetisi tiga divisi di bawahnya. Pertemuan MU dan Grimsby bak bumi dan langit mengingat sedemikian besarnya jurang perbedaan materi pemain kedua tim.
MU, juara 20 kali Liga Inggris dengan pengeluaran lebih dari 200 juta pound sterling musim ini, justru takluk dalam drama adu penalti dari Grimsby yang punya nilai skuad ratusan kali lebih kecil dari mereka. Hal yang lebih menyakitkan lagi, dua pemain anyar mahal rekrutan MU, Bryan Mbeumo dan Matheus Cunha, gagal mengeksekusi penalti.
Ini merupakan kali pertama MU takluk dari tim divisi empat. Dengan demikian, lengkap sudah penderitaan Amorim dan MU yang musim ini belum sekali pun merasakan kemenangan. Dalam dua laga di Liga Inggris, MU baru melesakkan satu gol, itu pun hasil dari aksi bunuh diri penyerang Fulham, Rodrigo Muniz.
Direktur sepak bola Jason Wilcox menyadari situasi ini. Situasi ini mungkin akan mencapai puncaknya pekan depan selama jeda internasional karena Amorim akan mengadakan pembicaraan dengan petinggi klub.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/5cb6010baa2c450cd32056bc221559d5-FBL_ENG_PR_FULHAM_MAN_UTD_132049960.jpg)
Rentetan catatan negatif di awal musim tersebut dikabarkan membuat Amorim sampai kehilangan kepercayaan dirinya. Semua itu tergambar jelas pada sesi wawancara seusai laga, Amorim terus tertunduk lesu. Nada bicaranya bergetar menahan kesedihan dan kekecewaan saat menjawab pertanyaan reporter.
Hal ini selaras dengan laporan The Guardian, Jumat (29/8/2025) dini hari WIB, yang mengatakan bahwa mulai muncul desas-desus di internal MU terkait Amorim. Ia dipercaya akan mengambil keputusan besar untuk mundur apabila tidak kunjung meraih hasil positif dalam waktu dekat.
Pelatih asal Portugal itu disebut-sebut sedang berada di bawah tekanan berat. Keteguhannya terhadap formasi 3-4-3 memicu ketidakpuasan dari beberapa pemain yang mempertanyakan taktik dan manajemen kepelatihannya.
”Direktur sepak bola Jason Wilcox menyadari situasi ini. Situasi ini mungkin akan mencapai puncaknya pekan depan selama jeda internasional karena Amorim akan mengadakan pembicaraan dengan petinggi klub,” tulis The Guardian.
Waktu pekan depan yang dianggap krusial itu juga bertepatan setelah laga MU menghadapi Burnley dalam lanjutan Liga Inggris. Laga itu wajib dimenangi ”Setan Merah” demi memutus rentetan hasil negatif pada awal musim yang bakal semakin memperkeruh suasana. Jika MU kembali meraih hasil negatif, peluang Amorim untuk mundur semakin besar kendati petinggi klub sudah menyatakan dukungannya kepada sang manajer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/28/c2ee6814af33ef995c38b8e78caaedb2-1000003016.jpg)
Di luar dari hasil akhir yang mengecewakan, air muka serta tindak-tanduk Amorim pada laga menghadapi Grimsby turut membuatnya dicibir para penggemar. Tayangan kamera menangkap momen saat Amorim tidak berani menyaksikan drama adu penalti. Manajer asal Portugal itu justru meringkuk di bangku cadangan seakan sudah kalah lebih dulu.
Beberapa orang menilai gerak-gerik Amorim sebagai tindakan pengecut. Sebagian lainnya bahkan menyandingkannya dengan tindakan mantan Pelatih Timnas Inggris Steve McClaren saat kalah dari Kroasia di Stadion Wembley pada kualifikasi Piala Eropa 2008.
Saat itu, McClaren tertangkap kamera sedang memayungi diri sambil menggenggam segelas kopi panas di tengah gerimis yang mengguyur Wembley. Tindakan McClaren dinilai tidak pantas di saat para pemainnya berjibaku di tengah badai menghadapi Kroasia. Inggris pada akhirnya kalah 2-3 dan gagal lolos ke Piala Eropa.
Saking jengkelnya, harian Inggris, Daily Mail, memuat foto McClaren yang tengah memayungi diri di halaman pertama. Judul artikel yang diberikan pun sangat menohok, ”A Wally with a Brolly” atau ”Si Bodoh dengan Payungnya”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/aee09be489d7690b8886f74dd36816b5-Britain_Soccer_Premier_League_131918727.jpg)
Sedemikian kerasnya kritik terhadap McClaren, cibiran itu terus membayanginya bahkan setelah tidak lagi menukangi Inggris. Selama beberapa pekan setelahnya, McClaren terus dihujat. Catatan hebatnya sebagai ahli taktik Inggris seketika luntur akibat tindakan memayungi diri sendiri yang dinilai pengecut.
Setelah insiden ”A Wally with a Brolly” itu, karier McClaren terjun bebas. Dari menangani timnas Inggris, ia berpindah-pindah pekerjaan sebagai pelatih klub semenjana sampai akhirnya menjadi asisten di MU era Erik ten Hag.
Tindakan Amorim yang memilih tidak menyemangati timnya saat adu penalti memang tergolong fatal. Semua akibat runtuhnya kepercayaan diri Amorim yang merasa kalah bahkan sebelum waktunya.
Jika tidak segera mengembalikan kepercayaan dirinya sekaligus mendengar masukan untuk tidak keras kepala terhadap sistem 3-4-3 yang terbukti belum cocok dengan para pemain, MU hampir dipastikan akan kembali terjerumus ke jurang yang lebih dalam.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan