PEREKONOMIAN

Rupiah Tembus Rp 18.000, Siap-siap Harga Barang Makin Mahal!

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat harga barang impor, bahan baku impor, bahan antara, komoditas ekspor, dan ”input” produksi menjadi lebih mahaP

04 Jun 2026 16:14 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Oleh Budi Suwarna, Hendriyo Widi

Rupiah akhirnya menembus batas psikologis di level Rp 18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) ini. Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis pagi melemah ke level Rp 18.027.

Level Rp 18.000 per dolar AS sudah jauh di atas asumsi dasar ekonomi makro nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok pemerintah Rp 16.500-Rp 16.900 per dolar AS.

Apa dampaknya pada harga-harga kebutuhan sehari-hari dan akhirnya pada isi dompet warga?

Secara teori, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat harga barang impor, bahan baku impor, bahan antara, komoditas ekspor, dan input produksi menjadi lebih mahal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2 Juni 2026, tampak bahwa secara bulanan, inflasi Mei 2026 mencerminkan transmisi pelemahan rupiah ke dalam inflasi impor (imported inflation). Dengan kata lain, pelemahan nilai tukar rupiah telah membuat harga barang impor, bahan baku impor, bahan antara, komoditas ekspor, dan input produksi menjadi lebih mahal.

Sebagai catatan, berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sepanjang Mei 2026 berada di kisaran Rp 17.362-Rp 17.883 per dolar AS. Belum tembus Rp 18.000 per dolar.

Bagaimana tingkat inflasi Mei 2026?

BPS mengumumkan, tingkat inflasi nasional pada Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan, 3,08 persen secara tahunan, dan 1,35 persen secara tahun kalender. Tingkat inflasi ini masih di kisaran target inflasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pada 2026, yakni 1,5-3,5 persen.

Kendati begitu, inflasi pada Mei 2026 terjadi merata di seluruh komponen utama, yakni inti, pangan bergejolak (volatile food), dan harga yang diatur pemerintah (administered price).

Pada bulan tersebut, tingkat inflasi inti sebesar 0,22 persen secara bulanan dan 2,59 persen secara tahunan. Tingkat inflasi komponen pangan bergejolak sebesar 0,22 persen secara bulanan dan 6,24 persen secara tahunan. Sementara tingkat inflasi bulanan dan tahunan komponen harga yang diatur pemerintah masing-masing sebesar 0,52 persen dan 2,07 persen.

Barang apa saja yang memberikan andil besar pada inflasi?

BPS mencatat, sejumlah komoditas berandil besar pada inflasi komponen inti, antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop/notebook, dan pelumas/oli mesin. Kenaikan harga sejumlah komoditas itu tidak terlepas dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sejumlah komoditas berkontribusi pada inflasi komponen harga yang diatur pemerintah, yakni bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, avtur, dan pelumas/oli mesin. Hal itu tecermin dalam inflasi bulanan bensin yang sebesar 0,49 persen, tarif angkutan udara 2,75 persen, solar 4,72 persen, dan pelumas/oli mesin sebesar 3,85 persen.

Kenaikan harga komoditas ini menggambarkan transmisi kenaikan harga minyak mentah dunia melalui kenaikan harga bahan bakar.

Sementara itu, beberapa komoditas yang mendorong inflasi pangan bergejolak antara lain cabai merah, tomat, bawang merah, minyak goreng, dan beras. Cabai merah mengalami inflasi bulanan sebesar 25,64 persen, tomat 9,82 persen, bawang merah 6,65 persen, minyak goreng 2,87 persen, dan beras 0,38 persen.

Kenaikan harga komoditas pangan pada Mei 2026 itu dipicu sejumlah faktor. Pertama, peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan, seperti Idul Adha. Kedua, penurunan produksi pangan, terutama cabai merah, tomat, dan bawang merah, akibat cuaca ekstrem, serangan hama dan penyakit, serta kekeringan di sejumlah daerah.

Bagaimana pergerakan harga kebutuhan pokok?

Berdasarkan Data Sistem Pemantauan dan Infpormasi Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan, sejumlah komoditas pangan impor, seperti kedelai impor dan tepung terigu, terdampak depresiasi rupiah dalam rentang waktu 4 Mei-4 Juni 2026.

Dalam kurun waktu yang sama rupiah bergerak di kisaran Rp 17.300-Rp 17.900 per dolar AS. Level depresiasi tertinggi terjadi pada 4 Juni 2026, yakni Rp 18.039 per dolar AS.

Harga rerata kedelai impor dalam rentang waktu tersebut bergerak di kisaran Rp 13.500 per kilogram sampai Rp 13.700. Harga tertinggi terjadi pada 26 Mei 2026, yakni Rp 13.679 per kilogram. Pada 4 Juni 2026, harga kedelai impor Rp 13.655 per kilogram.

Sementara itu, rerata terigu dalam rentang waktu tersebut bergerak di kisaran Rp 12.400 per kilogram sampai Rp 12.550 per kilogram. Harga tertinggi terjadi pada 4 Juni 2026, yakni Rp 12.523 per kilogram.

Kapan inflasi harga-harga akan reda?

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menilai, inflasi pada Mei 2026 lebih tepat dibaca sebagai inflasi dari sisi biaya dan pasokan, bukan karena permintaan masyarakat yang terlalu kuat. Inflasi tidak lagi hanya berasal dari pangan atau energi, tetapi mulai menjalar ke biaya produksi serta harga barang dan jasa yang lebih luas (Kompas, 2/6/2026).

Apakah inflasi sana-sini itu bakal terhenti pada Mei 2026? Selama perang Iran versus Israel-Amerika Serikat belum tuntas dan jalur maritim Selat Hormuz di Teluk Persia belum dibuka sepenuhnya, inflasi yang dipicu gejolak harga minyak mentah masih berpotensi berlanjut.

Selama rupiah masih terdepresiasi atau belum kembali ke level minimal asumsi ekonomi makro APBN 2026, yakni Rp 16.500 per dolar AS, inflasi impor masih bakal menghantui.

Selain itu, selama pemerintah belum mampu menstabilkan harga sejumlah pangan pokok, inflasi pangan bisa terus membayangi. Padahal, jika inflasi sejumlah pangan pokok pada Mei 2026 dapat dikendalikan, tingkat inflasi nasional bisa lebih rendah.

Dengan dolar AS telah tembus di atas level psikologis Rp 18.000, siap-siaplah merogoh kocek lebih dalam untuk membeli berbagai kebutuhan primer dan sekunder.


Kerabat Kerja

Penulis:

Budi Suwarna, Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati