Rupiah Terus Tertekan, Bankir Ancang-ancang Hadapi Risiko

Rupiah terhadap dollar AS terus tertekan hingga mendekati Rp 17.000. Situasi ini mulai diantisipasi oleh industri perbankan karena berisiko terhadap kredit dan DPK.

09 Apr 2025 18:38 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Industri perbankan terus mencermati perkembangan dinamika pasar dan mengantisipasi berbagai risiko yang muncul akibat depresiasi nilai tukar rupiah. Sejumlah langkah disiapkan, antara lain mengelola likuiditas secara prudent dan menempu uji stres.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus Rp 16.943 per dollar AS pada sesi penutupan perdagangan, Rabu (9/4/2025).

Rupiah yang mencatatkan koreksi terdalam sepanjang 2025 ini telah terdepresiasi 4,86 persen dibandingkan akhir 2024.

Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F Haryn menyampaikan, BCA senantiasa mencermati dinamika makro-ekonomi domestik dan global.

Terutama, seiring dampak dari kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat yang resmi berlaku mulai Rabu. Oleh Presiden AS Donald Trump, Indonesia dikenakan tarif bea masuk sebesar 32 persen, tertinggi ke-6 di antara negara anggota ASEAN lainnya.

”Kami meyakini pemerintah dan otoritas telah memiliki langkah strategis dalam mengantisipasi dinamika perekonomian global tersebut,” kata Hera dalam keterangan tertulis, Rabu.

Infografik Nilai Tukar Per Dollar AS

Dalam menghadapi dinamika makro-ekonomi terkini, BCA berfokus pada fundamental bisnis dan tetap bersikap prudent. Permodalan dan likuiditas yang solid akan terus dipertahankan guna mengantisipasi dampak ketidakpastian. Hal itu sekaligus sebagai landasan pertumbuhan kredit yang berkualitas ke depan.

Di tengah fluktuasi rupiah akibat tekanan ekonomi global, Hera melanjutkan, risiko keterpaparan valuta asing (valas) dikelola secara konservatif dengan menjaga rasio posisi devisa neto (PDN). Per Desember 2024, PDN BCA tercatat 0,3 persen, masih jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan sebesar 20 persen.

Quote

Kondisi pasar domestik saat ini membuat industri perbankan cukup kelabakan.

”BCA juga telah mempersiapkan berbagai langkah untuk mengantisipasi risiko pasar atas transaksi terkait risiko nilai tukar dan suku bunga, termasuk dengan melakukan penetapan dan kontrol limit risiko pasar. Tak hanya itu, BCA juga konsisten melakukan stress test (uji stres) dalam mengukur risiko,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Corporate Secretary Bank Mandiri M Ashidiq Iswara menyampaikan, penyaluran kredit valas perseroan terus meningkat. Per 31 Desember 2024, posisinya tumbuh 10,12 persen secara tahunan. Ini sejalan dengan upaya mendukung pembiayaan nasabah global, khususnya pelaku usaha yang membutuhkan mata uang asing.

Petugas memasukkan uang kertas yang baru tiba di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Selasa (25/2/2025). Bank Indonesia menyiapkan kebutuhan uang tunai sekitar Rp 180,9 triliun untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan uang tunai di masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri 2025 KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO 25-02-2025

Sementara itu, pada periode yang sama, dana pihak ketiga (DPK) valas juga tumbuh sebesar 5,92 persen secara tahunan. Transaksi tersebut sebagian besar berasal dari aktivitas trade finance dan treasury sebagai kebutuhan utama nasabah korporasi dengan jaringan internasional.

Ke depan, untuk menjaga likuiditas valas, Bank Mandiri memiliki sejumlah alternatif untuk melakukan pendanaan. ”Baik melalui strategi penghimpunan DPK valas maupun pendanaan non-DPK (wholesale funding) melalui transaksi bilateral, club deal, atau penerbitan surat utang,” kata Ashidiq.

Bank Mandiri juga akan menjaga likuiditas valas tetap stabil dan berkecukupan dengan pengelolaan secara prudent, fleksibel, serta dengan menggunakan strategi diversifikasi.

Selain itu, perseroan baru saja menerbitkan surat utang berupa Euro Medium Term Note (EMTN) senilai 800 juta dollar AS pada 24 Maret 2025, yang akan digunakan untuk pengembangan bisnis perseroan.

Risiko bagi perbankan

Statistik Sistem Keuangan Indonesia mencatat, kredit perbankan yang disalurkan dalam bentuk valas per Februari 2025 mencapai Rp 1.217 triliun, setara 15,33 persen dari total kredit perbankan. Porsi tersebut meningkat dalam setahun terakhir, yang sebesar Rp 1.037 triliun atau 14,43 persen dari total kredit perbankan per Februari 2024.

Dari sisi penghimpunan dana, DPK valas perbankan pada Februari 2025 tercatat Rp 1.438 triliun, setara 16,11 persen dari total DPK perbankan. Ini juga meningkat dibandingkan Februari 2024, yang sebesar Rp 1.343 triliun atau 15,91 persen dari total DPK perbankan.

Indikator Keaungan

Pengamat perbankan, Paul Sutaryono, berpendapat, kebijakan tarif Trump telah mengakibatkan gejolak pasar saham dan tekanan terhadap kurs rupiah. Semakin dalam rupiah terpuruk, perbankan harus semakin berhati-hati dalam mengelola transaksi treasury dan kredit valas.

”Apakah besar risikonya? Tampaknya tidak demikian. Namun, bank wajib terus meningkatkan penerapan manajemen risiko, terlebih risiko kredit (credit risk) dan risiko pasar (market risk), sebagai upaya antisipasi terhadap kondisi pasar saat ini,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Menurut Paul, kondisi pasar domestik saat ini membuat industri perbankan cukup kelabakan. Sebab, bank merupakan pemain utama dalam pengelolaan aset (treasury), yang meliputi transaksi valas (foreign exchange), penempatan aset (placement), serta pasar uang (money market) sehari-hari.

Quote

Bank Indonesia harus terus mengendalikan kurs rupiah terhadap dollar AS dengan intervensi pasar. Namun, ingat, intervensi pasar seperti itu dapat menggerus cadangan devisa.

Dengan demikian, depresiasi rupiah dapat berisiko memengaruhi kinerja kredit perbankan, terutama kredit valas dan kenaikan suku bunga kredit valas. Oleh sebab itu, bank wajib lebih waspada terhadap kondisi pasar dalam negeri.

”Selain itu, Bank Indonesia harus terus mengendalikan kurs rupiah terhadap dollar AS dengan intervensi pasar. Namun, ingat, intervensi pasar seperti itu dapat menggerus cadangan devisa,” ujar Paul.

Sementara itu, kajian Office of Chief Economist Bank Mandiri pada April 2025 mencatat, kebijakan tarif Pemerintah AS berdampak buruk bagi ekonomi global dan AS, seperti stagflasi dan perlambatan ekonomi.

Infografik Tarif Perdagangan Baru Trump terhadap Negara Mitra

Kondisi itu memengaruhi ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang mengakibatkan pasar keuangan bergejolak terimbas eskalasi perang dagang.

Bukan hanya sektor perdagangan dan investasi domestik yang akan terdampak akibat dinamika global tersebut. Sektor keuangan, termasuk industri perbankan, pun berisiko menghadapi tekanan yang dapat membatasi pertumbuhan DPK.

Salah satu risikonya, nasabah atau investor cenderung akan menempatkan dananya di luar negeri, apabila suku bunga dalam negeri lebih rendah dibandingkan suku bunga luar negeri. Adapun posisi likuiditas perbankan masih ketat. Itu tecermin dari rasio kredit terhadap simpanan (LDR) yang terus meningkat menjadi 87,7 persen pada Februari 2025.

”Kondisi likuiditas valas domestik berpotensi semakin tertekan. Dalam jangka pendek, risiko terjadinya capital outflow meningkat akibat perilaku risk reversal investor global. Dalam jangka menengah, risiko kinerja ekspor yang tertekan berpotensi mengurangi likuiditas valas domestik,” tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri dalam analisisnya.

Oleh sebab itu, dibutuhkan penguatan kebijakan, seperti meningkatkan sistem peringatan dini dan analisis risiko bisnis, menerapkan strategi pengelolaan risiko, serta menjaga ketahanan bisnis. Langkah itu dapat diinisiasi oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sebagai bagian dari strategi jangka pendek memitigasi risiko rambatan tarif Trump.

Dari sisi perbankan, pengelolaan risiko dilakukan dengan meningkatkan cadangan kerugian kredit (CKPN) untuk mengantisipasi potensi lonjakan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

Bank juga dapat menjaga ketahanan bisnis dengan mendiversifikasi portofolio kredit ke sektor noneksportir dan domestik, seperti konsumsi, infrastruktur, dan kesehatan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan