Rusia mendesak Ukraina untuk mengikuti langkah itu. Ukraina menyebut langkah Rusia sebagai ”jualan manis”.
28 Apr 2025 21:14 WIB · Internasional
Moskwa, Senin – Presiden Rusia Vladimir Putin, Senin (28/4/2025), mengumumkan gencatan senjata secara sepihak selama 72 jam di Ukraina. Ukraina menekankan gencatan senjata yang lebih lama dan segera.
Kremlin menyatakan, gencatan senjata diberlakukan dengan “alasan kemanusiaan” berlaku mulai 8 Mei hingga 10 Mei. Gencatan senjata ini disebut untuk menandai peringatan Hari Kemenangan pada Perang Dunia II.
Rusia mendesak Ukraina untuk mengikuti langkah itu. “Rusia yakin Ukraina akan mengikuti contoh ini,” sebut pernyataan Moskwa. Mereka memperingatkan “jika ada pelanggaran gencatan senjata oleh Ukraina, pasukan Rusia akan memberikan balasan yang cukup dan efisien”.
Sebelumnya Putin mengumumkan gencatan senjata selama 30 jam pada masa Paskah. Ukraina menyatakan kesiapan untuk membalas gencatan senjata yang nyata pada saat itu. Akan tetapi, Kyiv menyebut serangan Rusia tetap berlanjut saat gencatan senjata diberlakukan. Sebaliknya, Rusia balik menuding Ukraina gagal menghentikan serangannya.
Kali ini, Ukraina juga menyebut langkah Putin sebagai “jualan manis”. “Jika Rusia benar-benar menginginkan perdamaian, mereka harus melaksanakan gencatan senjata segera,” kata Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/28/4b5d993071e2351176f3d5f152161d2e-TOPSHOT_UKRAINE_RUSSIA_CONFLICT_WAR_129339652.jpg)
Dia menekankan, Kyiv siap untuk gencatan senjata yang abadi, dapat diandalkan, dan menyeluruh selama 30 hari penuh. “Kenapa menunggu sampai 8 Mei? Jika kita bisa melaksanakan gencatan senjata tanggal berapa pun sekarang dan selama 30 hari, sehingga nyata, tidak hanya untuk pameran,” ujarnya. Ia tidak secara spesifik menyebutkan apakah Ukraina menerima usulan gencatan senjata Rusia.
Upaya gencatan senjata menegaskan tantangan besar dalam kemungkinan penghentian pertempuran di garis depan sepanjang lebih dari 1.000 kilometer. Hingga saat ini, Putin menolak gencatan senjata tanpa syarat sepenuhnya. Ia mengajukan syarat penghentian pasokan senjata dari Barat untuk Ukraina dan upaya mobilisasi pasukan Ukraina.
Namun, Kremlin menyatakan kembali bahwa Rusia “siap berunding tanpa syarat yang bertujuan menghilangkan akar penyebab perang di Ukraina dan kerja sama konstruktif dengan mitra internasional”.
Tepat sebelum pengumuman gencatan senjata, Rusia dan Ukraina saling serang dengan serangan jarak jauh. Pada Senin dini hari, serangan pesawat nirawak Rusia menghancurkan fasilitas infrastruktur di Cherkasy, Ukraina bagian tengah. Menurut Wali Kota Anatolii Bondarenko, serangan itu mengganggu pasokan gas ke rumah-rumah warga di kota itu.
Di seluruh negeri, sirene serangan udara berbunyi pada Senin pagi. Tidak ada laporan tentang korban atau kerusakan.
Sementara Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, pasukannya menjatuhnya 119 pesawat nirawak Ukraina dalam semalam. Sebagian besar di antaranya berada di wilayah perbatasan di Bryansk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/ad3dcc48a2e6086473aaccabf4329d8a-APTOPIX_Trump_Vatican_Pope.jpg)
Hingga saat ini, desakan Pemerintah Amerika Serikat agar kedua negara segera mengakhiri pertempuran belum jelas. Perundingan yang terjadi dibayangi klaim-klaim yang saling bertentangan dan keraguan tentang sejauh mana setiap pihak bersedia berkompromi.
Namun, waktu terus berjalan bagi keterlibatan Washington dalam upaya menyelesaikan konflik Ukraina-Rusia. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Minggu, mengatakan, pekan ini akan menjadi sangat penting. “AS perlu membuat keputusan tentang apakah ini upaya yang ingin terus kami lakukan,” katanya dalam acara Meet the Press di NBC.
Rubio dan Menlu Rusia Sergey Lavrov membahas perang Ukraina-Rusia melalui panggilan telepon pada Minggu. Kedua diplomat itu fokus pada konsolidasi prasyarat untuk memulai negosiasi.
Presiden AS Donald Trump, pada akhir pekan, mengatakan, ia menyimpan keraguan tentang ketulusan Putin dalam mencapai kesepakatan. Alasannya, pasukan Rusia terus menyerang wilayah Ukraina saat perundingan berlanjut. Namun, Trump mengatakan, penyelesaian perang itu “hampir selesai”.
Bagi Ukraina, bantuan militer AS berperan penting. Bantuan lebih lanjut terancam jika pemerintahan Trump meninggalkan upaya untuk mengakhiri perang.
Para pejabat Eropa menuduh Rusia menunda-nunda perundingan damai supaya pasukan Rusia memiliki momentum di medan perang dan dapat merebut lebih banyak wilayah Ukraina.
Rusia menolak usulan AS untuk gencatan senjata penuh 30 hari dengan memberlakukan persyaratan yang lebih luas. Sementara, kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, telah menerimanya. (AP)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Retma Wati