Ukraina yakin Rusia sebenarnya ingin menolak usulan gencatan senjata AS, tetapi tidak berani mengatakannya secara langsung kepada Washington.
14 Mar 2025 08:59 WIB · Internasional
KYIV, KAMIS — Rusia pada prinsipnya setuju dengan usulan Amerika Serikat untuk gencatan senjata selama 30 hari di Ukraina. Namun, gencatan senjata apa pun bentuknya harus bisa mengatasi akar penyebab konflik dan masih banyak hal detail penting yang perlu diselesaikan. Di sisi lain, Ukraina yakin Rusia bakal menolak usulan gencatan senjata tersebut, tetapi Moskwa dinilainya tidak berani berterus terang pada Amerika Serikat, khususnya pada Presiden AS, Donald Trump.
Menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Kamis (13/3/2025), Presiden Rusia Vladimir Putin sedang mempersiapkan diri menolak usulan gencatan senjata tetapi takut mengatakannya secara langsung kepada Trump. Rusia membuat syarat-syarat gencatan senjata hanya untuk menundanya atau membuatnya tidak akan terjadi sama sekali.
Putin disebut Zelenskyy sering berperilaku seperti itu. Putin tidak akan mengatakan ”tidak” secara langsung tetapi memastikan bahwa semuanya berlarut-larut sehingga tidak ada lagi peluang untuk penyelesaian.
”Putin tentu saja takut untuk memberi tahu Presiden Trump bahwa dia ingin melanjutkan perang ini dan membunuh warga Ukraina. Itu sebabnya Rusia memaksakan gagasan gencatan senjata dengan syarat-syarat,” kata Zelenskyy.
Saat ini, kata Zelenskyy, Washington sudah siap mengatur kontrol dan verifikasi gencatan senjata. Gencatan senjata itu akan memberi waktu untuk mempersiapkan keamanan jangka panjang dan perdamaian nyata serta menyusun rencana untuk mengakhiri perang.
Sebelumnya, Putin menyatakan dirinya setuju secara prinsip dan mendukung usulan AS. Hanya saja, masih ada beberapa masalah yang masih perlu dibicarakan dengan AS. Putin mengingatkan gencatan senjata hendaknya mengarah pada perdamaian abadi dan menghilangkan akar penyebab krisis.
Putin mengatakan, pasukan Rusia bergerak maju di sepanjang garis depan dan gencatan senjata harus memastikan bahwa Ukraina tidak berusaha menggunakannya hanya untuk mengonsolidasikan kembali kekuatan mereka.
”Bagaimana kita bisa dan bagaimana kita akan dijamin bahwa hal seperti ini tidak akan terjadi? Bagaimana pengendalian (gencatan senjata) akan diatur? Ini semua pertanyaan serius. Mungkin nanti saya akan menelepon Presiden Trump dan membahas masalah ini dengannya,” kata Putin.
Di Washington, Trump mengatakan ada ”sinyal baik” dan menjanjikan dari Rusia. Setidaknya itu kesan yang ditangkap dari pernyataan Putin. Trump juga siap berbicara dengan Putin. Ia menekankan bahwa sudah waktunya perang diakhiri.
”Tetapi, pernyataan dari Putin saja belum lengkap. Sekarang kita akan lihat apakah Rusia betul-betul mau gencatan senjata atau tidak. Jika tidak, itu akan mengecewakan dunia,” kata Trump di awal pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte di Gedung Putih.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/14/a81698505a83c8c0ce3fffe192ee0c02-Russia_Ukraine_War.jpg)
Sebelumnya, Rusia sudah mengesampingkan kehadiran pasukan penjaga perdamaian asing di Ukraina sebagai bagian dari gencatan senjata atau jaminan keamanan jangka panjang untuk Ukraina. Sikap itu bertentangan dengan permintaan Ukraina kepada sekutu Eropa untuk mengerahkan ”kontingen” militer di wilayahnya setelah konflik berakhir untuk melindungi Ukraina dari serangan Rusia di masa mendatang.
”Bagi kami, sama sekali tidak dapat diterima ada unit militer negara lain yang ditempatkan di Ukraina di bawah bendera apa pun. Baik itu kontingen asing maupun pangkalan militer, semua itu berarti keterlibatan negara lain dalam konflik bersenjata langsung dengan Rusia,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.
Seiring dengan perkembangan terbaru upaya damai untuk Ukraina, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sudah menelepon Putin. Ia mengatakan, Arab Saudi tetap berkomitmen memfasilitasi dialog dan mendukung resolusi politik terhadap krisis Ukraina. Arab Saudi baru-baru ini menyelenggarakan pertemuan terpisah antara pejabat AS dan Rusia, serta pejabat AS dan Ukraina.
Di sisi lain, AS setuju melanjutkan memberikan pasokan senjata dan berbagi informasi intelijen dengan Ukraina setelah Kyiv siap mendukung usulan gencatan senjata. Ini dikatakan Ukraina saat berbicara dengan Arab Saudi.
Sementara itu, dari palagan perang dikabarkan, dalam beberapa hari terakhir, Rusia menekan Ukraina dengan serangan kilat di wilayah Kursk. Rusia mengklaim meraih kemajuan pesat di Kursk. Putin dengan mengenakan seragam bercorak kamuflasejuga mengunjungi pos komando di wilayah itu, Rabu lalu. Kunjungan seperti ini sangat jarang dilakukan oleh Putin.
Ketika berada di pos komando Kursk, Putin mempertanyakan jika konflik dihentikan selama 30 hari, apa artinya. Apakah semua orang yang berada di garis pertempuran akan pergi tanpa perlawanan? Menurut militer Rusia, Ukraina kini menguasai wilayah seluas kurang dari 200 kilometer persegi di Kursk. Semula, Ukraina menguasai wilayah seluas 1.300 km persegi tapi dipukul balik oleh Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/14/dd1b6d5368075d7e4ecab11431ff3636-000_37229TX.jpg)
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan telah merebut kembali permukiman Sudzha dan dua dua permukiman lain di wilayah perbatasan. Panglima militer tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi, mengatakan, pesawat Rusia melancarkan begitu banyak serangan terhadap Kursk sehingga Sudzha hampir hancur total.
Ia tidak mengomentari apakah Ukraina masih menguasai permukiman itu, tetapi mengatakan Rusia ”mengarahkan (pasukan) ke garis yang lebih menguntungkan”. Sudzha, yang dihuni sekitar 5.000 orang sebelum pertempuran, adalah permukiman terbesar yang direbut Kyiv setelah melancarkan serangan mendadak ke Kursk.
Wilayah Kursk adalah salah satu dari sedikit alat tawar-menawar Kyiv dalam pertukaran wilayah dengan Rusia. Ukraina kini berisiko kehilangan cengkeramannya di wilayah perbatasan sepenuhnya setelah kehilangan puluhan kilometer persegi dalam seminggu terakhir.
Didukung pasukan dari Korea Utara, tentara Rusia mampu memberi tekanan kuat kepada tentara Ukraina di wilayah Rusia itu.
Sementara itu, saat Trump berupaya mengakhiri perang secara diplomatik, ia membuat ancaman terselubung untuk menjatuhkan sanksi baru kepada Rusia. Ancaman itu bakal diwujudkan jika Rusia tidak mau terlibat dalam upaya perdamaian.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, Trump akan memberikan tekanan maksimum kepada kedua belah pihak, termasuk sanksi yang mencapai skala paling tinggi terhadap Rusia. AS masih memiliki sekitar 3,85 miliar dollar AS dana yang disahkan oleh Kongres untuk pengiriman senjata ke Ukraina di masa mendatang.
Namun, pemerintahan Trump sejauh ini tidak menunjukkan minat untuk menggunakan kewenangan tersebut guna mengirim senjata tambahan sembari menunggu hasil dari pendekatan perdamaian.
Di sisi lain, dengan mengisyaratkan keterbukaannya terhadap gencatan senjata di saat Rusia tengah unggul di medan perang, Ukraina membuat Rusia berada dalam posisi dilematis. Jika Rusia menerima gencatan senjata, harapan akan bisa menang perang tak akan tercapai. Sebaliknya, jika menolak usulan gencatan senjata, ada risiko hubungannya dengan AS rusak lagi. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari