AS dan Rusia sepakat untuk menghentikan perang sementara. Namun, Rusia mensyaratkan keringanan sanksi ekonomi sebelum menghentikan perang sementara.
26 Mar 2025 10:17 WIB · Internasional
WASHINGTON, RABU — Pemerintah Amerika Serikat dan Rusia menyepakati jeda pertempuran sementara antara militer Rusia dan Ukraina. Kesepakatan itu mencakup tidak saling serang instalasi yang berkaitan dengan energi, seperti kilang minyak, jaringan pipa minyak dan gas, hingga pembangkit listrik tenaga nuklir, serta memastikan keamanan jalur pelayaran di Laut Hitam.
Sebagai kompensasi, AS disebut bersedia memberikan jaminan pencabutan sanksi ekonomi negara-negara Barat terhadap Rusia. ”Kami membuat banyak kemajuan,” kata Presiden AS Donald Trump, Selasa (25/3/2025). Akan tetapi, Trump tidak mau menjelaskan detail kesepakatan sementara itu. ”Hanya itu yang bisa disampaikan,” katanya singkat.
Sementara itu, meski Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut hal itu sebagai langkah awal, dia tidak sepakat soal keringanan sanksi ekonomi terhadap Rusia sebagai syarat pelaksanaan kesepakatan tersebut. Dia mengatakan Rusia telah memanipulasi kesepakatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/18/8961493b7d068483d70b31e3666641b0-SAUDI_US_RUSSIA_UKRAINE_CONFLICT_POLITICS_DIPLOMACY_127573464.jpg)
”Sayangnya, bahkan sekarang, bahkan hari ini, tepat pada hari perundingan, kita melihat bagaimana Rusia sudah mulai memanipulasi,” kata Zelenskyy, dalam pernyataannya yang disiarkan secara nasional Selasa malam. ”Mereka sudah mencoba mendistorsi kesepakatan dan, pada kenyataannya, menipu perantara kita dan seluruh dunia,” ujarnya.
Para pihak sejauh ini tidak merilis isi kesepakatan sementara itu meski ada kesepahaman bahwa Rusia dan Ukraina tidak akan menyerang infrastruktur energi milik keduanya. Para pihak juga menyepakati jeda pertempuran itu berlangsung selama 30 hari dan berlaku surut, yakni disebut telah mulai berlangsung sejak 18 Maret dan berlaku hingga 18 April mendatang. Para pihak memperingatkan bahwa mereka berhak untuk tidak mematuhi kesepakatan jika salah satu melakukan pelanggaran.
Komplikasi muncul setelah Kremlin menyatakan bahwa kesepakatan itu tidak berlaku jika sejumlah sanksi terhadap perekonomian mereka dicabut. Rusia menuntut bank-bank besar Rusia yang terlibat dalam perdagangan bahan pangan dan pupuk harus terhubung kembali dengan jaringan pembayaran Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT). Kremlin menyatakan, tidak hanya Rosselkhozbank, bank milik negara, yang harus dipulihkan aksesnya, tapi juga bank-bank lain di Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/01/18c3a5da-ddd3-4e72-82b2-012be434d990.jpg)
Kesepakatan tersebut juga mensyaratkan pencabutan sanksi terhadap eksportir makanan dan pupuk, kapal yang membawa ekspor makanan Rusia, serta mencabut pembatasan ekspor peralatan pertanian ke Rusia. Kremlin juga menekankan soal inspeksi kapal komersial diperlukan untuk memastikan kapal tersebut tidak digunakan untuk tujuan militer, seperti kesepakatan Black Sea Grain Initiative atau Prakarsa Laut Hitam sebelumya.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, Rusia menilai keringanan sanksi sebagai bentuk jaminan dari Barat agar jeda pertempuran bisa terjadi. ”Kami membutuhkan jaminan yang jelas,” kata Lavrov. ”Dan mengingat pengalaman menyedihkan, jaminan itu hanya terwujud saat Washington memerintahkan Zelenskyy dan timnya untuk melakukannya, dan tidak melakukan yang lain,” ujarnya.
Zelenskyy marah atas permintaan Rusia untuk mencabut sanksi dan menyebutnya sebagai pelemahan posisi Ukraina dan bahkan negara-negara Barat. Seorang pejabat senior pemerintahan Ukraina mengatakan, delegasi Kyiv tidak setuju pencabutan sanksi dicantumkan sebagai syarat gencatan senjata. Pejabat tersebut juga mengatakan negara-negara Eropa tidak terlibat dalam pembahasan sanksi meskipun sanksi tersebut merupakan tanggung jawab Uni Eropa (UE).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/02/20/3c1e7208-ec40-4de6-9b3b-add5f540df10_png.png)
Zelenskyy menyatakan, dirinya tidak memercayai Rusia. Meski begitu, Ukraina akan tetap konstruktif dan melaksanakan kesepakatan itu. Namun, dia juga meminta Trump untuk menyediakan lebih banyak persenjataan bagi militernya, terutama jika Rusia melanggar kesepakatan tersebut.
”Kami tidak percaya kepada Rusia, tetapi kami akan bersikap konstruktif,” katanya.
Komisi Eropa yang menjadi penanggung jawab pelaksanaan sanksi terhadap Rusia pascainvasi menolak berkomentar. Seorang pejabat senior UE, menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), mengatakan bahwa Eropa tetap bertekad terus menekan ekonomi Rusia. UE perlu setuju untuk mengembalikan bank-bank Rusia ke SWIFT, yang berkantor pusat di Belgia.
Kremlin telah lama berupaya mengurangi tekanan ekonomi akibat sanksi yang dijatuhkan AS dan Uni Eropa. Bahkan, Rusia meradang setelah keuntungan aset Bank Sentral Rusia di Eropa dan AS senilai lebih kurang 325 miliar dollar AS dipinjamkan ke Ukraina oleh negara-negara G7.
Oleh karena itu, kesepakatan terbaru ini dinilai akan sangat menguntungkan Rusia. Sejak awal, Presiden Rusia Vladimir Putin memang membutuhkan dana segar untuk mendukung kebijakannya, termasuk perang.
”Tujuan akhir Putin jelas, dia ingin membujuk Trump agar mencabut sanksi terhadap bank dan perusahaan energi Rusia agar Kremlin dapat menarik mata uang keras yang sangat dibutuhkannya,” kata Edward Fishman, peneliti senior di Universitas Columbia dan mantan pejabat senior AS, seperti dilansir dari laman WSJ. ”Namun, tampaknya ada perbedaan pendapat antara Moskwa dan Washington. Pernyataan Rusia lebih jauh tentang keringanan sanksi daripada pernyataan AS,” ujarnya.
Laman resmi Gedung Putih tidak menyatakan apa pun soal persyaratan yang diajukan Kremlin agar kesepatan bisa berjalan. Walau begitu, Trump mengindikasikan, AS sedang mempertimbangkan persyaratan Kremlin. (AP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji