Penghasilan pas-pasan tak menghalangi pemijat bayi dan pedagang kelontong di Jatim meraih mimpi berangkat ibadah haji. Tekad kuat dan ketekunan menabung jadi kunci.
05 Mei 2025 16:10 WIB · Nusantara
Supinah Rusmini (91) tersenyum semringah saat berada di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (4/5/2025) malam. Calon jemaah haji asal Gresik, Jatim, itu terdaftar sebagai anggota Kelompok Terbang 10 Embarkasi Surabaya pada musim haji 2025.
Anggota tertua calon jemaah haji di kelompok terbang (kloter) 10 ini sehari-hari bekerja sebagai tukang pijit bayi. Anak keenam Supinah, Ghufron, mengatakan, ibunya sudah lebih dari 50 tahun menjadi pemijat bayi. Dulu, ibunya merupakan dukun bayi yang membantu proses kelahiran para ibu di desa.
Pekerjaan memijat bayi masih dilakukan hingga sekarang di usianya yang hampir memasuki satu abad. Dalam sehari, Supinah mampu memijat lima bayi dengan durasi pijatan rata-rata sekitar 10 menit.
Dari hasil memijat bayi itulah, Supinah menabung untuk keperluan berangkat haji. Bahkan, untuk biaya pendaftaran haji sebesar Rp 25 juta, ibu dengan sembilan anak ini harus mengumpulkan tabungan selama 20 tahun.
”Ibu mendaftar haji tahun 2019 dengan kakak perempuan saya. Kakak meninggal karena Covid-19, kemudian ibu meminta saya menemani beliau,” ujar Ghufron.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/a74878b8-5f86-4c15-ba7d-cdd070618b76_jpg.jpg)
Ghufron sangat bersyukur ibunya bisa berangkat haji lebih awal dari perkiraan keberangkatan sekitar tahun 2030. Hal itu tak lepas dari kondisi Supinah yang sudah berusia lanjut sehingga kemampuan pendengarannya sudah menurun.
Secara keseluruhan, kondisi kesehatan Supinah sangat baik dan stabil. Namun, untuk berbicara dengannya, orang lain harus lebih mendekat. Selain itu, seiring bertambahnya usia, Supinah memiliki penyakit darah tinggi sehingga perlu pendampingan keluarga.
Supinah mengaku ingin menunaikan ibadah haji sejak masih muda. Namun, kondisi ekonominya saat itu belum memungkinkan karena harus menghidupi sembilan anak yang memerlukan berbagai biaya.
”Alhamdulillah, sekarang anak-anak sudah mandiri semua sehingga saya bisa daftar dan berangkat haji,” kata Supinah yang terbang ke Tanah Suci pada Minggu pukul 23.00 WIB.
Menurut Supinah, setiap orang yang memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji harus yakin dan tidak boleh ragu. Selain itu, senantiasa memohon atau berdoa kepada Allah SWT agar keinginannya dikabulkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/867b8746-cb9d-4295-8b90-63d4a438c0d4_jpg.jpg)
Selain Supinah, kisah inspiratif juga datang dari Sri Dewi Sudarwati, calon jemaah haji kloter 5 asal Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jatim. Nenek berusia 66 tahun ini tekun menabung setiap hari demi mewujudkan keinginannya menunaikan ibadah haji.
”Alhamdulillah, dari hasil menabung rutin sebesar Rp 20.000 yang saya simpan dalam suatu kotak, saya dapat mendaftar haji pada tahun 2012 setelah terkumpul Rp 25 juta,” ujar perempuan yang mulai menabung sejak tahun 2009 ini.
Sudarwati mengatakan, keinginan untuk menunaikan rukun Islam kelima sebenarnya sudah tebersit sejak lama. Namun, karena keterbatasan ekonomi, dia lebih memilih mendahulukan kepentingan anak-anaknya.
”Saya nabung-nya di rumah saja, tidak ke bank. Saya ini orang desa, ya disimpan di kotak saja,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/ff4af53c-cb37-4404-b597-3f4cbda5b083_jpg.jpg)
Kendati berusia lanjut, Sudarwati berangkat sendiri ke Tanah Suci tanpa ada yang menemani. Hal ini karena suaminya sudah meninggal dunia. Dia bersyukur karena suaminya sempat menunaikan ibadah haji.
”Kami daftarnya tidak bareng karena uang yang kami punya hanya cukup buat daftar satu orang. Jadi, ya, gantian,” ucapnya.
Suami Sudarwati dulu bekerja sebagai tukang tambal ban dan berjualan bensin eceran. Adapun Sudarwati berjualan aneka keperluan rumah tangga atau barang kelontong di rumah sejak tahun 1995.
”Sekarang warung saya lebih lengkap jualannya daripada dulu. Di Tanah Suci nanti saya akan berdoa semoga anak-anak saya, cucu-cucu juga dapat melaksanakan ibadah haji,” ujarnya.
Alhamdulillah, dari hasil menabung rutin sebesar Rp 20.000 yang saya simpan dalam suatu kotak, saya dapat mendaftar haji pada tahun 2012 setelah terkumpul Rp 25 juta.
Nenek Supinah dan Sudarwati adalah sebagian kecil dari calon jemaah haji Embarkasi Surabaya yang mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji pada musim haji 2025 ini.
Sampai Minggu (4/5/2025) malam, Embarkasi Surabaya telah memberangkatkan 11 kloter dengan jumlah 4.171 orang calon jemaah haji atau sekitar 11 persen dari kuota yang ditetapkan. Kloter 11 yang berasal dari Kabupaten Sidoarjo berangkat pukul 21.00 WIB.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/02/e73cc172-9089-47c1-b718-527b80f7effa_jpg.jpg)
Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya Akhmad Sruji Bahtiar meminta calon jemaah haji yang telah tiba di kota Madinah agar mewaspadai cuaca panas ekstrem. Suhu udara pada siang hari diperkirakan mencapai kisaran 36-41 derajat celsius.
”Para anggota jemaah sebaiknya lebih sering minum air agar tidak mengalami dehidrasi. Minum air zamzam untuk membantu menjaga kondisi tubuh tetap sehat,” ujar Sruji.
Selain menjaga kesehatan, jemaah haji juga diimbau memanfaatkan waktu ibadah di Masjid Nabawi secara bijak. Sebab, inti ibadah haji akan dilaksanakan di kota Mekkah sehingga para anggota jemaah diimbau tidak memaksakan diri beribadah di luar kemampuannya selama berada di Madinah.
”Persiapkan kondisi lahir batin untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji di Mekah,” ucap Sruji.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/80671cce-0dfd-449d-a913-392aea7ee180_jpg.jpg)
Sruji menambahkan, hingga Senin (5/5/2025), terdapat seorang calon jemaah haji yang meninggal dunia. Calon jemaah haji tersebut bernama Isdiyono Taslim Atmo Suwito (60) yang meninggal pada Minggu (4/5/2025) pukul 08.18 WIB di RS Haji Surabaya.
”Kami turut berbelasungkawa. Semoga beliau ditempatkan di surga dan keluarga diberi ketabahan,” ujarnya.
Jenazah Isdiyono telah dipulangkan ke rumahnya di Desa Gebang, Kecamatan Pakel, Tulungagung, untuk dimakamkan. Isdiyono berangkat haji bersama istrinya, Sunarmi Mrakih (57). Mereka tergabung dalam kloter 3 yang terdiri dari jemaah asal Tulungagung dan Kediri.
Kloter tersebut masuk asrama haji pada Kamis (1/5/2025) pukul 11.00 WIB dan terbang ke Madinah pada Jumat (2/5/2025) pukul 11.40 WIB. Namun, karena kondisi kesehatan Isdiyono yang kurang bagus, dia dinyatakan tidak layak terbang dan harus menjalani perawatan di RS Haji Surabaya.
Penulis:
Runik Sri AstutiEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto