TENIS

Saatnya Beradu Kecepatan di Lapangan Rumput

Musim persaingan tenis beralih dari lapangan tanah liat ke rumput pada pertengahan tahun. Puncaknya, mereka akan bersaing di Wimbledon, 29 Juni-12 Juli.

15 Jun 2026 18:44 WIB · Olahraga

AFP/HENRY NICHOLLS

Oleh Yulia Sapthiani

Juni hingga Juli, bersamaan dengan musim panas di Eropa, petenis-petenis profesional bersaing di lapangan rumput. Mereka beradu kecepatan dalam berpikir dan bergerak di hijaunya lapangan rumput yang elegan, tetapi berbahaya.

Seusai bersaing di lapangan tanah liat, April-Juni, petenis-petenis profesional beralih ke lapangan rumput. Juara Perancis Terbuka, Alexander Zverev, Aryna Sabalenka, Elena Rybakina, hingga Serena Williams yang come back ke turnamen sejak pensiun pada 2022 bertanding di sejumlah kota di Inggris dan Jerman sejak pekan kedua Juni. Mereka punya target utama yang sama, Wimbledon pada 29 Juni-12 Juli.

Lapangan rumput adalah jenis lapangan tempat lahirnya tenis. Permainan modern yang kita kenal saat ini pada awalnya dimainkan di lapangan kriket di Inggris.

Tenis sering dikaitkan dengan Mayor Walter Clopton Wingfield, tokoh renaisans Wales yang dikenal sebagai pencipta tenis lapangan modern. Dia mematenkan permainan ini di Inggris Raya pada 1874.

Foto ini memperlihatkan bagian dari Lapangan Utama All England Club, London, Inggris. Tempat ini menjadi penyelenggaraan Wimbledon sejak 1877.

Sebelumnya, orang lain menggabungkan olahraga seperti tenis lapangan dan raket untuk memainkan permainan yang mirip dengan apa yang disebut Wingfield sebagai sphairistiké, bahasa Yunani untuk permainan bola.

Sebagai pencipta tenis rumput modern, Wingfield membayangkan permainan itu bisa menjadi olahraga yang sehat dan hiburan sosial bagi masyarakat. Lalu, tenis dalam bentuk olahraga kompetitif menyebar dengan cepat, dimulai dengan kejuaraan besar resmi pertama pada 1877 di Wimbledon.

Sebagai turnamen tenis tertua, Wimbledon menjadi ajang paling bergengsi dan selalu dimainkan di lapangan rumput sejak awal penyelenggaraannya. Salah satu dari empat turnamen berlevel Grand Slam ini berlangsung di All England Lawn Tennis and Croquet Club, klub privat di London, yang berdiri sejak 1868.

Faktor iklim

Lapangan rumput, dengan warna hijau segar, dulu tersebar luas di Inggris, Australia, dan sebagian Amerika Serikat. Namun, iklim akhirnya menjadi faktor kunci penyebaran lapangan rumput. Lapangan yang sangat tergantung pada faktor alam ini lebih banyak terdapat di Inggris, negara yang terkenal sering hujan.

Petenis Italia, Jannik Sinner, saat tampil pada babak kedua Wimbledon 2025. Wimbledon menjadi puncak persaingan di lapangan rumput.

Lapangan rumput menghadirkan pedang bermata dua. Meskipun elegan, rumput membutuhkan perawatan yang tinggi. Kualitas permainan dapat berubah dengan cepat karena keausan, cuaca, dan pola pemotongan rumput.

Sebagai lapangan alam, tidak ada dua lapangan rumput yang sama, bahkan di kompleks lapangan dengan fasilitas elite. Faktor-faktor seperti ketinggian pemotongan, retensi kelembaban, paparan sinar matahari, dan lalu lintas pejalan kaki dapat membuat satu lapangan berkarakter lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan lapangan lain.

Quote

Lapangan rumput bisa sangat licin sehingga memaksa banyak pemain untuk berhati-hati. Banyak petenis kesulitan bergerak, bahkan terjatuh.

Seiring berjalannya turnamen, rumput semakin menipis dan ini menambah ketidakpastian pantulan bola. Hal ini sangat kontras dengan keseragaman lapangan keras dan pola keausan yang stabil pada lapangan tanah liat.

Lapangan rumput berpermukaan lembut sehingga bisa menyerap benturan lebih kuat dibandingkan permukaan lainnya. Hal ini mengurangi ketegangan sendi pada atlet. Namun, risiko tergelincir lebih tinggi, terutama pada kondisi lembab.

Tanda dilarang menginjak rumput dipasang di Lapangan Utama All England Club, London, Inggris, menjelang dimulainya Wimbledon, 30 Juni-13 Juli.

Permukaan lapangan sering menjadi licin saat lembab dan tidak rata saat aus. Lapangan rumput yang kian botak dari hari ke hari sepanjang turnamen terjadi terutama karena reli semakin panjang. Sepatu yang dibuat khusus dengan daya cengkeram tinggi memberikan tekanan yang lebih besar pada rumput.

Oleh karena itu, mempertahankan kualitas tinggi tenis lapangan rumput bagaikan seni yang dipadukan dengan ilmu. Butuh waktu lama dan, tentu saja, biaya mahal. Maka, diperlukan perawatan harian, seperti dipotong setinggi 8 milimeter pada musim pertandingan Wimbledon di All England Club.

Penyiraman diperlukan untuk memastikan ketahanan dan kelenturan, tetapi tidak boleh berlebih karena bisa membuat lapangan menjadi licin. Tahap rolling diperlukan untuk meratakan permukaan dan mempertahankan pantulan yang sesungguhnya. Selain itu, ada pengecatan ulang pada garis lapangan setiap beberapa hari.

Proses lain ada aerasi dan pembibitan. Rumput perlu diangin-anginkan dan disemai kembali secara berkala untuk menjaga cakupan rumput dan menghindari kebotakan.

Investasi besar

Di Wimbledon, lebih dari 15 penjaga lapangan penuh waktu dipekerjakan sepanjang tahun untuk memelihara 18 lapangan pertandingan dan banyak lapangan latihan. Hanya sedikit klub yang mampu melakukan investasi sebesar itu.

Pekerja perawatan lapangan menyiram lapangan rumput di All England Club, London, Inggris, menjelang Wimbledon 2025.

Oleh karena berjenis lapangan alam dan tergantung cuaca, lapangan rumput umumnya memiliki waktu bermain yang pendek, sering kali hanya beberapa bulan dalam setahun di daerah beriklim sedang. Di luar musim pertandingan, lapangan dibiarkan beristirahat atau menjalani perawatan.

Meski bergantung pada iklim, cuaca juga bisa menjadi ancaman. Periode kemarau yang berkepanjangan dapat merusak rumput. Bahkan, dengan pemanas bawah tanah dan penutup terpal, mengelola lapangan rumput adalah perjuangan melawan alam.

Karena memerlukan perawatan yang berat, lapangan rumput alami sangat jarang ditemukan dan biasanya ditemukan di klub swasta daripada di taman umum.

Roger Federer terbaik

Masalah traksi, dikombinasikan dengan pantulan yang tidak konsisten, membuat lapangan rumput berbahaya bagi yang tidak menguasainya. Jangan heran, banyak petenis terpeleset, terutama pada awal-awal penampilan di Wimbledon.

Petenis putri Polandia, Iga Swiatek, mengejar bola pada perempat final tunggal putri Wimbledon 2025. Lapangan rumput yang berkarakter cepat menuntut pergerakan cepat dari petenis.

Lapangan rumput mempunyai karakter yang sangat berbeda dengan lapangan tanah liat yang lambat dan lapangan keras meski sama-sama berkarakter cepat. Rumput adalah permukaan tercepat dalam tenis. Bola meluncur rendah dan cepat setelah memantul karena permukaannya yang licin dan bantalan alami dari bilah rumput.

Dibandingkan dengan lapangan tanah liat (yang memperlambat bola dan menyebabkannya melambung tinggi), lapangan rumput menuntut reaksi cepat, servis agresif, dan permainan net.

Kondisi itu membuat margin kesalahan yang lebih kecil. Bola yang memantul begitu rendah dan cepat membuat petenis sulit untuk bersiap menghadapi reli panjang atau pukulan ground stroke yang berat.

Karakter permainan

Pemain dengan karakter servis dan voli adalah yang paling cocok di jenis lapangan rumput meski permainan tenis modern tetap didominasi permainan baseline.

Petugas lapangan menutup Lapangan Utama All England Club, London, Inggris karena hujan pada Wimbledon 2025.

Lapangan rumput memberikan gesekan rendah pada bola sehingga bola akan tergelincir (memantul) dengan cepat. Alhasil, petenis harus memiliki reaksi yang cepat dan selalu siap memukul bola yang memantul di bawah lutut.

Daripada melakukan top spin yang berat dan kurang efektif, pemain mengandalkan pukulan datar, presisi, dan slice. Memukul dengan teknik slice, seperti mengiris, membuat bola akan sulit diantisipasi lawan, apalagi dengan pantulan rendah dan arah tak menentu.

Ketika ritme tak dibutuhkan dalam permainan di lapangan rumput, petenis akan diuntungkan jika bisa bermain lebih agresif dan dengan servis kencang dan powerful. Petenis harus berusaha meraih poin secepat mungkin sebelum lebih sulit dalam mengontrol permainan karena pantulan bola yang akan semakin tak menentu.

Dengan karakteristik tersebut, Roger Federer memiliki kemampuan terbaik untuk menguasai lapangan rumput. Seperti disebutkan dalam laman International Hall of Fame, ajang Wimbledon menjadi tolok ukur kemampuan petenis di lapangan rumput.

Serena Williams saat bermain ganda putri dalam turnamen lapangan rumput di London, Inggris, 9 Juni. Serena memiliki tujuh gelar juara tunggal putri Wimbledon.

Federer memegang rekor tunggal putra dengan meraih delapan gelar Wimbledon. Di putri, gelar terbanyak pada era Terbuka dipegang Martina Navratilova dengan sembilan gelar, lalu ada Steffi Graf dan Serena Williams, masing-masing dengan tujuh gelar juara.

Permainan Federer sempurna untuk menetralisasi keunikan lapangan. Servis, gerak kaki yang alami, dan backhand slice tajam menciptakan keunggulan taktis yang tak dapat disaingi petenis lain.

Lapangan rumput bisa sangat licin sehingga memaksa banyak pemain untuk berhati-hati. Banyak petenis kesulitan bergerak, bahkan terjatuh. Namun, Federer bergerak dengan mudah.

Langkahnya ringan. Dia juga bisa meluncur, yang memungkinkannya menjaga keseimbangan dan mengubah arah secara instan.

Lapangan rumput membuat bola memantul rendah dan Federer bisa membuatnya lebih rendah dengan backhand slice. Bola dari pukulan ini menyulitkan lawan untuk menyerang dan memaksa mereka untuk memukul dari bawah lutut.

FILE PHOTO: Tennis - Wimbledon - London, Britain - July 16, 2017   Switzerland’s Roger Federer poses with the trophy as he celebrates winning the final against Croatia’s Marin Cilic

Variasi jenis dan arah pukulan Federer menjadi kesempurnaan lain. Federer menggabungkan akurasi tepat dengan pukulan keras, salah satunya pada servis dengan sudut lebar. Servis ini bisa menarik lawannya ke luar lapangan, kesulitan mengembalikannya, hingga Federer bisa mendapat poin dengan mudah.

Permainan agresif berupa servis dan voli menjadi kemampuan lain yang menguntungkan Federer. Apalagi, dia begitu nyaman bermain di net. Cara ini memungkinkan dia mendikte permainan dan mempersingkat permainan sebelum lawan mengembangkan permainan menjadi reli.

Cara bermain seperti ini yang dia terapkan saat mengalahkan Rafael Nadal pada final 2006 dan 2007. ”Rafa suka bermain dengan ritme, saya mencoba menghilangkan ritme itu,” kata Federer dalam serial dokumenter Rafa yang disiarkan Netflix.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti