Pemprov Jakarta memulai siap siaga bencana, khususnya banjir sepanjang akhir tahun 2025 sampai Februari 2026.
04 Nov 2025 14:22 WIB · Metropolitan
JAKARTA, KOMPAS — Hujan lebat masih berpotensi mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Sabuk kewaspadaan bencana mulai dikencangkan. Meski masih jauh dari puncak musim hujan, lima tanggul roboh dan tiga lainnya telah longsor sehingga memperparah dampak banjir pada akhir Oktober 2025.
Pemerintah Provinsi Jakarta melakukan simulasi kesiapsiagaan bencana di Ruang Limpah Sungai Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, pada Selasa (4/11/2025). Simulasi bersama instansi atau lembaga terkait ini menandai kesiapan menghadapi potensi banjir sepanjang akhir tahun 2025 hingga Februari 2026.
”Jakarta perlu bersiap-siap sejak awal supaya tidak terjadi lagi penanganan yang terlambat. Apalagi ada tanggul jebol dan longsor saat hujan kemarin,” tutur Gubernur Jakarta Pramono Anung selepas simulasi.
Kesiapsiagaan ini sangat penting. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan hujan sedang hingga sangat lebat masih berpotensi mengguyur Jakarta dan sekitarnya hingga 6 November 2025.
Namun, kondisi tersebut belum menandai puncak musim hujan. Peningkatan intensitas hujan diperkirakan akan berlangsung pada November hingga Desember 2025.
Pramono berulang kali menekankan Jakarta menghadapi tiga potensi banjir, yaitu kiriman dari hulu di Bogor, Jawa Barat, banjir akibat hujan lokal, dan banjir rob di pesisir utara Jakarta.
Oleh sebab itu, pengerukan sungai dan waduk terus dilakukan. Sepanjang tahun 2025, pengerukan dilakukan di 1.803 titik. Volume sedimentasinya mencapai 721.243 meter kubik.
Keandalan sarana dan prasarana infrastruktur pengendalian juga dioptimalkan. Sejauh ini, disiapkan 560 pompa stasioner di 191 lokasi dan 627 pompa portabel. Selain itu, ada tujuh rumah pompa dan pintu air untuk antisipasi banjir rob, serta mengebut pembangunan waduk dan pemangkasan pohon-pohon.
Selain itu, Pemprov Jakarta dan pemerintah pusat bakal melanjutkan modifikasi cuaca. Menurut rencana, upaya ini berlangsung dalam kurun 25 hari.
”Mudah-mudahan kalau terjadi banjir, penanganannya enggak lebih dari satu hari. Banjir terakhir (Oktober) penanganannya sekitar enam jam,” kata Pramono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/31/e17db4cc2c4c2f6b7ebd30afd0aed40e-FAK_0270.jpg)
Sebelumnya, banjir dipicu hujan lebat terjadi pada Kamis (30/10/2025) dan merendam 55 rukun tetangga (RT) di Jakarta Selatan. Kondisinya semakin parah karena luapan Kali Mampang dan Kali Krukut merobohkan lima tanggul dan tiga tanggul lainnya longsor.
Panjang tanggul roboh bervariasi. Salah satunya tanggul sepanjang 13,5 meter pada aliran Kali Krukut di Kemang Village, Tanggul Jatipadang di Pasar Minggu.
Ada juga tanggul di Kali Krukut segmen Plaza Bisnis Kemang sepanjang 30 meter. Kemudian, tanggul di Jalan Kemang Utara IX, Mampang Prapatan dari aliran Kali Mampang sepanjang enam meter dan tanggul di Jalan Taman Kemang Bangka, sebelah Wisma Anugraha dari aliran Kali Krukut sepanjang 3 meter.
Sementara tiga tanggul lainnya longsor. Lokasinya di tanggul sepanjang 6 meter di Jalan Kemuning, Pejaten Timur, pada aliran Kali Ciliwung, tanggul 14 meter di Jalan Gunuk Raya, Pejaten Timur, dan tanggul 25 meter di Jalan Adityawarman, Selong, Kebayoran Baru.
Pramono sempat meninjau perbaikan Tanggul Jatipadang setelah simulasi kesiapsiagaan bencana. Sebagian permukiman warga dekat tanggul masih terendam air setinggi 10 sentimeter. Adapun area tanggul jebol sudah dibendung dengan cerucuk kayu dan karung berisi pasir.
Suriati (53), warga RT 003 RW 006 Jati Padang, meminta agar kali dekat permukiman dikeruk. Sebab, limpasan air sudah melampau tanggul dan merembes dari dasar sebelum jebol.
”Dua kali jebol tahun ini (2025). Juli lalu retak sebelum jebol. Harus diperbaiki dan dikeruk kalau tidak fatal,” tutur Suriati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/af63261a-eabc-37a1-8edf-d9d19c7b43fe_heic.jpg)
Ketinggian air saat banjir mencapai 1,5 meter. Sepeda motor, kasur, dan barang-barang warga sampai hanyut terbawa banjir. Untungnya tidak ada korban jiwa. Warga saling tolong menggunakan tali tambang.
Ici (67), warga lainnya, mengharapkan hal serupa. Aliran kali dangkal dan sempit. Jika tidak segera ditanggulangi, kejadian serupa akan berulang. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan menelan korban karena kewaspadaan kendur.
”Saya naik di atas meja, takut hanyut,” ujar Ici tentang situasi banjir lalu.
Pramono menjanjikan penanganan jangka pendek dan menengah. Keduanya agar penyelesaian masalah tak parsial.
Untuk jangka pendek, tanggul diperbaiki. Sementara jangka menengahnya dengan mengoptimalkan area tangkapan air seluas 7 hektar lebih pada lokasi tersebut.
”Nanti kami akan rumuskan apa yang akan dilakukan. Area 7 hektar itu bisa menjadi tangkapan air sekaligus rumah susun dan tempat rekreasi,” kata Pramono.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DanyEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan