Saham ”Gorengan” Menopang Prestasi IHSG, Apa Implikasinya?

Membeli saham "gorengan" dinilai bisa berimplikasi negatif karena tidak bisa untuk jangka panjang.

10 Okt 2025 18:16 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia, Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham dalam negeri tampak cerah dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang terus mencetak rekor terbaru sampai dengan Oktober 2025 ini. Namun, prestasi ini ditopang kenaikan saham ”gorengan” yang tidak memiliki kapitalisasi dan likuiditas yang cukup baik. Menteri Keuangan pun meminta persoalan ini untuk diperhatikan dan ditangani otoritas bursa.

Pada perdagangan Kamis (9/10/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level tertinggi baru di 8.200 dengan level tertinggi 8.272. Rekor tersebut tercipta dalam kenaikan cepat atau reli sejak IHSG menembus level 8.000 di akhir September. Sejak awal tahun, IHSG mengalami kenaikan sebanyak 17 persen.

Kenaikan IHSG memang ikut disertai arus masuk modal asing yang dalam sepekan mencatatkan pembelian bersih Rp 2,68 triliun. Namun, sejak awal tahun, asing banyak melakukan penjualan aset mereka di pasar saham RI dengan total nilai bersih Rp 54 miliar.

Pada perdagangan hari Jumat (10/10/2025), IHSG kembali ditutup menguat sebesar 6,92 poin atau 0,08 persen ke level 8.257. Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat, nilai transaksi yang terjadi pada perdagangan hari ini sebesar Rp 24,15 triliun dan dalam sepekan ini IHSG mengalami penguatan sebesar 1,72 persen.

Namun, mereka melaporkan, sepanjang hari ini Indeks LQ45, kumpulan saham dengan likuiditas tertinggi dan kapitalisasi pasar terbesar, bergerak melemah. Saham-saham yang mendominasi penurunan di antaranya PT Bank Tabungan Negara Persero Tbk (BBTN), PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BBNI), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).

Grafik Indeks Harga Saham Gabungan sepanjang Kamis (9/10/2025) yang ditutup di level 8.250. Ini menjadi level tertinggi sepanjang sejarah pada penutupan bursa sejauh ini.

Hal ini sejalan dengan pengamatan pemerhati pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy. Ia heran IHSG tetap cemerlang di tengah derasnya arus modal keluar dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang bertahan di atas Rp 16.000.

”Sangat jarang kita menyaksikan IHSG dapat menguat saat rupiah loyo dan investor asing marak keluar. Anehnya, indeks justru menembus all time high,” ujar Budi kepada Kompas, Jumat (10/10/2025).

Pengamatan itu masih sejalan dengan analisisnya pada triwulan ketiga 2025, yakni Juli-September. Pada triwulan kemarin, IHSG menguat 16,4 persen dari 6.928 menjadi 8.061. Pada periode tersebut, ia menemukan bahwa saham-saham dengan kapitalisasi besar yang selama ini likuid justru jadi pemberat IHSG. Ini dipimpin saham bank swasta BMRI dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Selama tiga bulan terakhir, BBCA merosot 21 persen dari Rp 9.675 menjadi Rp 7.625, sementara BMRI jatuh 23 persen dari Rp 5.700 ke Rp 4.400. Keduanya membebankan IHSG 197 poin per akhir September 2025.

Saham-saham pemberat berikutnya adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Bank Mega Tbk (MEGA), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Sepuluh saham tersebut, menurut catatan Budi, menyeret IHSG sebesar 386 poin ke bawah hingga 30 September 2025. Delapan dari 10 saham pemberat itu juga ada dalam indeks saham likuid, LQ45, dan 6 saham ada dalam indeks IDX30 sehingga menyeret dua indeks saham bluechip itu masih di zona minus dibanding level awal tahun.

Layar LED menampilkan indeks komposit di Bursa Efek Indonesia, Senin (1/9/2025).

Saham gorengan

Sebaliknya, saham-saham gorengan justru yang mendorong kenaikan IHSG. Saham gorengan menurut Budi adalah saham yang memiliki jumlah penawaran sangat minim alias tidak likuid dengan jumlah pemegang saham sedikit, sekitar ratusan orang atau beberapa ribu orang.

Selama triwulan III-2025, Budi mencatat tiga saham gorengan yang menjadi penggerak utama IHSG ini. Mereka adalah PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Saham-saham yang masing-masing milik konglomerat Toto Sugiri, Franky Oesman, dan Prajogo Pangestu itu menyumbang 721 poin atau 73 persen kenaikan indeks. IHSG sampai akhir September sejatinya hanya 7.340, tanpa menghitung kenaikan harga saham DCII, DSAA, dan BRPT.

Tidak hanya mereka, kenaikan saham-saham gorengan milik pengusaha besar lainnya, dari pantauan Budi, juga ikut mendongkrak IHSG. Ini antara lain dari saham bisnis milik pengusaha Happy Hapsoro. Sahamnya seperti PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), PT Pakuan Tbk (UANG), dan PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG), mengalami kenaikan drastis puluhan hingga ratusan setidaknya sejak Juli.

”Hasil investasi Anda akan di bawah pasar jika 10 saham di atas tidak ada sama sekali dalam portofolio Anda. Bahkan, mungkin saja Anda masih rugi karena memegang saham-saham penggerus indeks, yaitu saham-saham yang berkontribusi negatif paling besar terhadap IHSG,” kata Budi.

Salah satu peserta membuka aplikasi perusahaan sekuritas yang menawarkan saham saat mereka belajar berinvestasi di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (21/11/2022). Edukasi pasar modal ini diberikan bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan mereka tentang pengelolaan keuangan dan investasi. Mereka dikenalkan berbagai bentuk investasi keuangan berupa saham, reksadana, dan bentuk lainnya. Ini dilakukan untuk mencegah iming-iming penipuan berkedok investasi yang selama ini banyak terjadi melalui medium digital. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 21-11-2022

Sementara itu, investor ikut mengoleksi saham gorengan seperti yang dimaksud, keuntungan bisa saja didapat sejalan dengan pergerakan harga saham konglomerat. IHSG, menurut Budi, bisa saja terus melaju ke level 8.400 atau 8.500 sampai akhir tahun.

Namun, membeli saham gorengan dinilai bisa berimplikasi negatif karena tidak bisa untuk jangka panjang. ”Kalau digerakkan oleh para trader yang mau cari profit, terus kabur, harga bisa jatuh dalam setelah mereka keluar atau menjual saham,” kata Budi.

Tindak tegas

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta otoritas pasar modal menindak tegas para pelaku pasar modal yang melakukan praktik manipulatif untuk mengangkat harga saham sebuah emiten atau dikenal dengan istilah penggorengan saham.

”Saya mengamati pasar saham juga, ada yang menggoreng-goreng, sebagian juga saya kenal pemainnya. Mereka bukan market maker, melainkan ikut bermain,” ujar Purbaya dalam acara Media Gathering Kementerian Keuangan secara virtual, dari Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/10/2025).

”Goreng saham” adalah istilah populer di pasar modal Indonesia untuk menggambarkan manipulasi harga saham secara sengaja agar tampak naik tinggi dalam waktu singkat sehingga menarik minat investor lain untuk ikut membeli.

Setelah harga naik ke level tertentu, para pelaku kemudian menjual saham tersebut secara besar-besaran untuk meraup keuntungan, menyebabkan harga saham anjlok dan merugikan investor yang terlambat masuk.

Purbaya menilai, praktik ”menggoreng saham” menjadi akar dari sejumlah masalah ekonomi nasional, di antaranya kegagalan tata kelola investasi Asabri dan Jiwasraya.

Oleh karena itu, penertiban terhadap praktik tidak sehat di pasar modal penting untuk menjaga minat generasi muda dalam berinvestasi. Ia mengingatkan bahwa sekitar 50 persen investor pasar modal saat ini berasal dari kalangan muda.

”Kalau tidak dibersihkan, minat generasi muda bisa hilang. Padahal, mereka ini masa depan pasar modal. Kalau pasar modal rapi dan fair, mereka akan percaya diri untuk masuk,” ujarnya.

Purbaya menambahkan, pemerintah membuka peluang pemberian insentif fiskal apabila pasar modal berhasil meningkatkan integritasnya. Salah satu bentuk insentif yang dipertimbangkan adalah pengurangan beban pajak bagi pelaku pasar modal.

”Nanti kita lihat seperti apa. Tapi, saya bisa dukung kalau mereka bekerja lebih keras menjaga integritas pasar modal,” katanya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri secara virtual acara Media Gathering Kementerian Keuangan  di Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/10/2025).

Ia menuturkan, saat berkunjung ke Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis lalu, pihaknya telah menyampaikan gagasannya tersebut kepada para pemangku kebijakan dan kepentingan di pasar modal. Purbaya menegaskan, insentif pajak hanya akan diberikan jika otoritas pasar modal mampu menertibkan perilaku pelaku pasar yang merugikan investor kecil.

”Direktur bursa minta insentif terus. Saya bilang, insentif baru bisa diberikan kalau perilaku investor di pasar modal sudah dirapikan. Artinya, praktik goreng-gorengan harus dikendalikan agar investor kecil terlindungi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah telah lebih dulu menertibkan lingkungan internal, termasuk di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), untuk menjaga integritas fiskal. ”Kalau pasar modal bisa melakukan hal yang sama, pemerintah siap mempertimbangkan insentif guna mendukung ekosistem investasi yang sehat,” kata Purbaya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia, Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase