Skuad Jerman telah mematahkan kutukan yang membelenggu mereka dalam dua edisi terakhir. Namun, mereka belum benar-benar meyakinkan jelang laga besar versus Paraguay.
28 Jun 2026 17:53 WIB · Olahraga
AP Photo/Michael Wyke
FOXBOROUGH, MINGGU — Pelangi selalu datang setelah badai. Itulah yang dirasakan skuad Jerman di Piala Dunia 2026. Setelah kegagalan beruntun di babak grup dalam dua edisi terakhir, mereka menemukan harapan di tengah keraguan. Masalahnya, pelangi itu masih terlihat samar.
Sudah terlalu lama sejak Jerman tampil di babak gugur Piala Dunia. Terakhir kali adalah pada edisi Brasil 2014 saat mereka merengkuh titel juara keempat kalinya. Sejak itu, tim spesialis turnamen tersebut seperti kehilangan jati diri. Mereka tersingkir di babak grup pada edisi Rusia 2018 dan Qatar 2022.
Penantian panjang ”Die Mannschaft” akan berakhir di Stadion Gillette, Foxborough, Massachusetts, Amerika Serikat, Selasa (30/6/2026) pukul 03.30 WIB. Jerman berhadapan dengan Paraguay dalam laga 32 besar. Pelatih Julian Nagelsmann perlahan mengembalikan aura kompetitif Jerman.
Untuk mencapai tujuan besar, kami tahu para pemain yang sudah berkembang jadi kelas dunia, mereka harus menunjukkan itu. Anda bisa merasakan mereka akan segera bersinar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/f49a605be3bfdcbe5655bcf5fd432e48-428087a5f0ef49bdae42107ae019aa89_0_f709d1f29ff741de9b96a6935147dfcf.jpg)
Meskipun begitu, keraguan masih menyelimuti kamp skuad Jerman. Kai Havertz dan rekan-rekan memang mampu menghasilkan kemenangan terbesar di turnamen sejauh ini, saat menumbangkan Curacao 7-1 di laga pertama. Namun, kualitas penampilan mereka terus merosot setelah itu.
Di laga terakhir grup sebelum babak gugur, Jerman yang bermain dengan kekuatan penuh sempat takluk dari Ekuador 1-2. Momentum 11 kemenangan beruntun mereka sejak September 2025 pun terputus. Itu menjadi alarm bahaya bagi tim asuhan Nagelsmann menjelang babak gugur.
Sorotan tertuju kepada trio bintang Jerman di lini serang, yaitu Havertz, Florian Wirtz, dan Jamal Musiala. Performa ketiganya masih jauh dari ekspektasi, terutama di dua laga terakhir. Beruntung, Jerman memiliki supersub dalam diri Deniz Undav yang sudah mencetak tiga gol.
Direktur tim Jerman Rudi Voller mengatakan, saatnya para pemain bintang unjuk gigi. ”Untuk mencapai tujuan besar, kami tahu para pemain yang sudah berkembang jadi kelas dunia, mereka harus menunjukkan itu. Anda bisa merasakan mereka akan segera bersinar,” ucap pemenang Piala Dunia Italia 1990 itu.
Trio penyerang dalam formasi 3-4-2-1 itu sangat dibutuhkan Jerman di laga nanti. Sebab, Paraguay sudah menemukan bentuk pertahanan terbaik. Sama seperti Ekuador yang berasal dari Amerika Selatan, Paraguay juga tidak segan meladeni pertarungan fisik intens di pertahanan yang cenderung ”keras”.
Paraguay sempat diragukan seusai takluk 1-4 dari tuan rumah AS di laga pembuka. Namun, mereka berhasil menunjukkan kualitas pertahanan di dua laga terakhir dengan mencatat nirbobol versus Turki dan Australia. Mereka bahkan mengalahkan Turki 1-0 hanya dengan 10 pemain sejak turun minum.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/20/bf7a7f2707cb948df86c2fba3c76769c-APTOPIX_Paraguay_Turkey_WCup_Soccer_139214606.jpg)
”Memulihkan diri dari hasil yang begitu berat (melawan tim AS) benar-benar sulit bagi kami. Meskipun demikian, tim kami sangat solid dalam dua pertandingan terakhir. Sekarang, kami akan memulihkan diri agar semua pemain siap untuk pertandingan berikutnya,” kata Pelatih Paraguay Gustavo Alfaro.
Paraguay bermain dengan formasi tradisional 4-4-2. Mereka selalu menggunakan pendekatan pragmatis, lebih banyak bertahan dalam dan membalas dengan serangan balik. Pertahanan kokoh ”Los Guaraníes” dipimpin oleh bek asal klub Inggris Sunderland, Omar Alderete.
Jerman patut waspada. Sebab, gaya main pragmatis merupakan antitesis dari permainan berbasis penguasaan bola ala Nagelsmann. Statistik memperlihatkan perbedaan mutlak kedua tim. Saat Paraguay berstatus tim dengan rerata penguasaan bola ketiga terendah di turnamen, yakni 33,6 persen, Jerman merupakan salah satu yang tebaik dengan 61,7persen.
Layaknya tim-tim Amerika Latin, Paraguay memiliki banyak pemain dengan keterampilan tinggi yang bisa menjadi pembeda lewat aksi individu. Mereka memiliki pemain yang masih aktif dan pernah bermain di Liga Inggris, seperti Julio Enciso, Miguel Almiron, dan Diego Gomez.
Kebetulan, Jerman belum menunjukkan soliditas di lini pertahanan sejak awal turnamen. Gawang mereka yang diisi kiper veteran Manuel Neuer selalu kemasukan dalam tiga laga babak grup. ”Die Mannschaft” sangat rentan dengan serangan balik kilat.
Adapun karena format baru Piala Dunia yang bisa meloloskan delapan peringkat ketiga terbaik, Jerman baru bisa mengetahui calon lawan hanya 48 jam sebelum sepak mula. Bagi Nagelsmann, itu tidak ideal dan seperti hukuman bagi juara grup. Mereka hanya memiliki dua hari untuk menganalisis lawan. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto