Persiapan fisik, mental, dan doa terbaik dilakukan jemaah untuk menyambut fase penting dalam ibadah haji, yakni hari Arafah. Di fase ini, doa-doa diyakini mustajab.
01 Jun 2025 18:40 WIB · Dikbud
Puncak pelaksanaan ibadah haji menjadi bagian paling dinanti oleh jemaah. Tak heran fisik dan mental disiapkan secara sungguh-sungguh untuk tahapan ini. Tak ketinggalan pula doa-doa terbaik.
Puncak pelaksanaan ibadah haji ini dikenal dengan fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). Fase ini akan diawali dengan wukuf di Arafah dan dilanjutkan mabit atau bermalam di Muzdalifah. Setelah itu, jemaah akan lanjut ke Mina untuk melakukan lontar jumrah.
Wukuf dijadwalkan pada Kamis (5/6/2025). Seluruh jemaah, termasuk 221.000 orang dari Indonesia, mulai Rabu (4/6/2025), akan berangsur bergerak ke kawasan Arafah, 25-31 kilometer dari kota Mekkah.
Menjelang keberangkatan ke Arafah tersebut, suasana di pemondokan jemaah mulai terasa hening dan khusyuk. Pasangan suami-istri Supangat (60) dan Sumiati (55) duduk bersantai di lobi Hotel 312 di Sektor 3 wilayah Syisyah Raudah. Walau terlihat santai, keduanya tak henti berzikir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/31/15eeb67cd59fe4f55352b388fb876081-IMG_1972.jpeg)
”Kami perbanyak zikir, membersihkan hati, menenangkan pikiran sekaligus memulihkan stamina. Kami ingin saat wukuf nanti kondisi tubuh, jiwa, dan pikiran dalam keadaan prima agar kami bisa khusyuk berdoa. Dari semua rangkaian perjalanan ibadah, wukuflah yang paling kami tunggu,” tutur Sumiati.
Keduanya mengaku telah enam kali umrah sejak tiba di Mekkah. Satu adalah umrah wajib dan lima lainnya adalah umrah sunah. Shalat lima waktu hingga shalat malam juga kerap dilakukan di Masjidil Haram.
”Salah satu yang kami minta saat ibadah di Masjidil Haram agar dikuatkan dan sehat hingga melewati fase wukuf, mabit, dan melontar jumrah. Ibadah sunahnya sudah banyak, saatnya bersiap menyambut puncak ibadah haji,” kata Supangat.
Kesungguhan menyambut puncak ibadah haji juga dilakukan keduanya dengan mendatangi langsung daerah Mina, lokasi ritual melontar jumrah akan dilakukan. Lokasi hotel pemondokan mereka memang tak terlalu jauh dari lokasi lontar jumrah.
Begitu pentingnya fase puncak ibadah haji ini membuat para jemaah mempersiapkan diri. Mereka berolahraga ringan agar tubuh lebih prima. Ini misalnya dilakukan jemaah lansia di hotel pemondokan tempat Supangat dan Sumiati tinggal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/31/e509d174fb82798dd0cc39a8f85b1737-1c608912_711c_48c4_933a_87e254e20452.jpeg)
”Lebih segar, lebih enakan. Biar sehat saat Armuzna nanti. Kemarin karena pernah stroke, tangan agak susah digerakin, tetapi ini enakan. Intinya sudah siap untuk wukuf. Barang-barang juga sudah disiapkan. Topi, payung, semprotan, kacamata hitam, sampai makanan ringan yang mau dibawa,” kata Supriyati Sudarmi (62), jemaah asal Bandar Lampung yang tergabung dalam kloter 12 JKG.
Di hotel lain, jemaah menghabiskan waktu berkumpul di mushala untuk berzikir dan mengaji bersama. Sebagian jemaah memperbanyak manasik untuk memastikan tahapan ibadah di Armuzna dilakukan dengan baik dan sesuai rukun.
Dari semua persiapan itu, ada satu hal yang tak kalah serius disiapkan, yakni doa. Keyakinan bahwa doa-doa lebih mustajab dilafalkan di Arafah membuat jemaah mempersiapkan doa-doa terbaiknya. Tak hanya itu, sederet doa titipan keluarga dan kerabat juga akan dipanjatkan.
Herni Lasahi (31), jemaah asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menyebut sederet doa yang telah dituliskan sahabatnya. Ada yang menuliskannya dalam secarik kertas, ada pula yang mengirim naskah doa melalui pesan Whatsapp.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/23/fea90e2e97a30fef6d7a1c0bd7cf569a-IMG_1399.jpeg)
”Ada yang minta didoakan lancar jodoh, ada yang minta cepat dapat kerja, sampai minta supaya bisa segera menikah. Semuanya juga minta dilancarkan rezeki. Doanya sudah saya simpan di HP semua, ada catatan, ada foto. Tinggal dibacakan nanti. Makanya, sekarang banyak istirahat biar sehat dan nanti lebih fokus berdoa,” katanya.
Keyakinan perihal begitu mustajabnya doa-doa di Arafah banyak diriwayatkan dalam hadis. Salah satunya terdapat dalam hadis yang berbunyi, ”Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah” (Tirmidzi, 3585).
Sehari jelang wukuf, petugas haji juga akan melakukan penyisiran dan memastikan tak ada lagi jemaah yang tertinggal.
Begitu pentingnya hari Arafah ini, Petugas Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melakukan berbagai persiapan untuk kenyamanan jemaah. Tenda-tenda, kasur, makanan, dan transportasi dicek serta dipastikan nyaman.
Upaya agar tak satu pun jemaah yang tertinggal di momen penting ini juga dilakukan dengan melakukan validasi data. Hal ini untuk memastikan keberadaan jemaah agar bisa digerakkan ke Arafah. Biasanya sehari jelang wukuf petugas haji juga akan melakukan penyisiran dan memastikan tak ada lagi jemaah yang tertinggal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/3edf9b7937a87f853c2a72d5d6670a42-IMG_1630.jpeg)
Saat mengecek kesiapan Armuzna pada pekan lalu, Direktur Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Hilman Latief mengatakan, sejauh ini persiapan cukup matang. ”Kita memastikan tenda yang akan digunakan oleh jemaah sudah tersedia dan baik, termasuk fasilitasnya, seperti kasur, air conditioner, air bersih, toilet, dan lainnya,” kata Hilman.
Kesiapan lain juga dilakukan terkait mitigasi dan pengaturan strategi untuk menghadapi berbagai kemungkinan insiden. Di Mina, yang menjadi lokasi lontar jumrah, disiapkan sejumlah posko; di antaranya Mobile Cirisis Rescue (MCR).
Setiap posko terdiri dari gabungan beberapa layanan, seperti perlindungan jemaah, tim kesehatan, layanan lansia, disabilitas, dan penanganan krisis serta pertolongan pertama kepada jemaah haji. Bahkan, tim Media Center Haji juga dikerahkan untuk bertugas di semua posko, terutama pos MCR.
”Kami menetapkan titik yang menjadi posko penjagaan. Selain titik penjagaan, nanti akan ada pos Mobile Crisis Rescue. Tim yang akan ditempatkan sudah melalui orientasi lapangan untuk memahami lokasi dan alur pergerakan jemaah,” kata Kepala Bidang Perlindungan Jemaah PPIH Arab Saudi Harun Arrasyid.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/25/6d3dce22b24d909787bcb693e593b7be-IMG_1572.jpeg)
Pemerintah Arab Saudi tak ketinggalan mengeluarkan imbauan demi kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan jemaah. Di antara imbauan ini adalah meminta jemaah mewaspadai potensi cuaca ekstrem dengan suhu mencapai 50 derajat celsius. Jemaah diminta tak meninggalkan tenda sejak pagi hingga sore hari.
Mereka juga menyediakan layanan pengaduan untuk komplain terkait layanan. Arus pergerakan juga diatur dan diminta ditaati untuk keselamatan jemaah.
Kini semua jemaah tengah dan telah mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Petugas dan syarikah juga telah melakukan berbagai persiapan. Harapannya tentu saja semua berjalan lancar, jemaah bisa nyaman dan khusyuk melangitkan doa dari Arafah.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra