TIMUR TENGAH

Sampai Berapa Lama Perang di Iran Bakal Berlangsung?

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda perang selesai. Para ahli kebijakan luar negeri menepis optimisme perang berakhir dengan cepat.

29 Mar 2026 11:00 WIB · Internasional

AP/Altaf Qadri

Oleh Fransisca Romana Ninik W

Agresi Amerika Serikat-Israel yang menyulut perang di Iran telah menyentuh marka satu bulan, Sabtu (28/3/2026). Memasuki bulan kedua, semakin banyak pertanyaan muncul tentang sampai berapa lama perang tersebut akan berlangsung dan mengguncang tatanan kehidupan global.

Sejak serangan gabungan AS-Israel diluncurkan ke Iran pada 28 Februari 2026, sudah ribuan orang tewas. Konflik juga melebar ke sejumlah negara Teluk karena Iran membalas serangan dengan menyasar target-target milik AS di Timur Tengah.

Perang meluas ke Lebanon setelah Hizbullah yang berbasis di negara itu turut menyerang sasaran di Israel, yang lantas dibalas Israel dengan serangan masif. Terbaru, kelompok Houthi yang berbasis di Yaman masuk ke arena pertempuran dan membuka front baru dalam perang AS-Israel terhadap Iran.

Akibat lamanya dan meluasnya perang, korban jiwa pun bertambah banyak. Kompilasi laporan yang dibuat kantor berita Reuters, Minggu (29/3/2026), menyebutkan, setidaknya 3.461 orang tewas di Iran. Reuters mengutip kelompok Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRANA) yang berbasis di AS yang mengungkapkan, di antara para korban tewas, sebanyak 1.551 orang adalah warga sipil, termasuk setidaknya 236 anak-anak.

Sementara laporan Federasi Internasional Palang Merah dan Masyarakat Bulan Sabit Merah mengatakan, setidaknya 1.900 orang tewas dan 20.000 orang terluka di Iran akibat serangan AS-Israel.

Tidak jelas apakah jumlah korban itu termasuk 104 orang yang disebut militer Iran tewas akibat serangan AS terhadap kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka pada 4 Maret.

Leaflets lie scattered among debris at a site where a projectile carrying them hit an apartment building in Beirut, Lebanon, Saturday, March 28, 2026. (AP Photo/Hassan Ammar)

Di Lebanon, otoritas mengatakan, sebanyak 1.189 orang, termasuk 124 anak-anak, tewas sejak serangan Israel pada 2 Maret. Dua sumber yang dekat dengan Hizbullah menyebut, 400 anggota mereka tewas.

Serangan balasan Iran ke negara-negara tetangga mengakibatkan 100 orang tewas di Irak, 10 orang tewas di Uni Emirat Arab, tujuh orang tewas di Qatar, enam orang tewas di Kuwait, serta masing-masing dua orang tewas di Bahrain, Oman, dan Arab Saudi.

Di pihak Israel, laporan layanan ambulans melaporkan 19 orang tewas akibat rudal yang diluncurkan dari Iran dan Lebanon. Militer Israel mengatakan, empat tentaranya tewas di Lebanon selatan.

Sementara di sisi AS, setidaknya 13 tentara tewas, enam di antaranya akibat pesawat yang jatuh saat mengisi bahan bakar di atas Irak. Serangan terbaru Iran di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi melukai 12 tentara.

A cargo ship sails in the Arabian Gulf towards Strait of Hormuz in United Arab Emirates, Sunday, March 15, 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)

Sebuah kapal kargo berlayar di Teluk Arab menuju Selat Hormuz, 15 Maret 2026.

Eskalasi atau de-eskalasi

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda perang selesai. Meski demikian, seiring pertempuran yang sengit, upaya penghentian perang terus dilakukan berbagai pihak.

Presiden AS Donald Trump menyatakan penundaan serangan ke infrastruktur energi Iran hingga beberapa hari ke depan. Washington juga telah menawarkan 15 poin kepada Iran untuk menuju penghentian pertempuran.

Sementara Iran bersikeras tidak akan menghentikan serangan apabila AS-Israel tidak melakukan hal yang sama. Iran menyatakan belum ada niat mereka bernegosiasi dengan AS.

Sama halnya dengan AS, Iran juga menyebutkan daftar tuntutan untuk mengakhiri perang. Seorang pejabat Iran, sebagaimana dikutip CNN, mengatakan, ada tambahan dalam daftar tuntutan itu: pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Sejumlah Kapal Tanker yang Bisa Melewati Selat Hormuz

“Prahara” di Selat Hormuz ini menjadi titik krusial dalam perang di Iran. Blokade Iran atas selat itu telah memicu gejolak energi global. Dampaknya sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari warga di berbagai negara yang mengandalkan minyak dan gas yang dikirimkan melalui Selat Hormuz.

“Iran agak terkejut dengan betapa suksesnya strategi (Hormuz) mereka, betapa murah dan relatif mudahnya menyandera ekonomi global,” kata Dinas Esfandiary, Kepala Bidang Timur Tengah di Bloomberg Economics, dikutip CNN edisi Minggu (29/3/2026).

Salah satu pelajaran yang dipetik Teheran dari perang ini, menurut dia, adalah mereka telah menemukan pengaruh baru dan kemungkinan akan menggunakannya lagi di masa depan. “Dan, saya pikir memonetisasinya adalah bagian dari pengaruh yang mereka miliki ini,” ujarnya.

Parlemen Iran sudah siap-siap mengeluarkan undang-undang baru untuk menerapkan tarif tol di Selat Hormuz. Seorang penasihat pemimpin tertinggi Iran telah berbicara tentang “rezim baru untuk Selat Hormuz” setelah perang. Ini akan memungkinkan Iran memberlakukan pembatasan maritim terhadap lawan-lawannya. Cara itu sekaligus akan membuat Iran bisa mengaitkan akses ke selat dengan perselisihan geopolitiknya.

Dilaporkan, biaya yang akan dikenakan sebesar 2 juta dolar AS (Rp 33,8 miliar) per kapal tanker. Iran bisa mendapatkan 20 juta dolar AS per hari atau 600 juta dolar AS per bulan dari pengiriman minyak saja. Ditambah gas alam cair, angkanya bisa menjadi 800 juta dolar AS per bulan.

Namun, sebagaimana dikatakan James Kraska, profesor hukum maritim internasional di US Naval War College, pengenaan biaya semacam itu melanggar aturan pelayaran transit. Tidak ada dasar hukum dalam hukum internasional untuk mengenakan biaya. Semua negara berhak melintasinya tanpa hambatan apa pun.

Sementara di medan tempur, AS telah mengirimkan pasukan tambahan ke Timur Tengah. Pasukan marinir tambahan telah tiba di kawasan, Jumat pekan lalu. Iran telah menyiagakan satu juta orang dalam pasukan semesta untuk menghadapi kemungkinan pertempuran darat.

People take photographs as a US Air Force (USAF) B-1 Lancer bomber jet takes off from RAF Fairford in south-west England on March 14, 2026. Fairford is one of two bases, along with the Diego Garcia facility in the Indian Ocean, that the UK has given the US permission to use for "specific defensive operations into Iran" to destroy Iranian missiles at source, the British defence minister said in a statement. (Photo by Henry Nicholls / AFP)
USAF military personnel work beneath a US Air Force (USAF) B-1 Lancer bomber jet takes at RAF Fairford in south-west England on March 14, 2026. Fairford is one of two bases, along with the Diego Garcia facility in the Indian Ocean, that the UK has given the US permission to use for "specific defensive operations into Iran" to destroy Iranian missiles at source, the British defence minister said in a statement. (Photo by Henry Nicholls / AFP)

Beberapa pekan

Melihat perkembangan di lapangan dan besarnya tekanan dari sekutunya, AS tampaknya akan melunak. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, operasi militer dapat dipercepat menjadi hanya beberapa pekan, bukan beberapa bulan seperti target sebelumnya.

Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff mengungkapkan, Iran mungkin akan berbicara dengan AS “dalam pekan ini” untuk mengakhiri perang. Namun, para ahli kebijakan luar negeri menepis optimisme itu. Mereka memperingatkan, kondisi saat ini, baik diplomatik maupun militer, tidak mendukung penyelesaian perang secara cepat.

Salah satu pendapat diutarakan mantan negosiator AS di Timur Tengah dan peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, Aaron David Miller. “Peluangnya sangat kecil,” katanya dalam wawancara dengan DW edisi Minggu.

Menurut dia, konflik Iran versus AS-Israel telah menjadi krisis internasional yang tidak dapat diselesaikan melalui diplomasi cepat atau komunikasi jalur belakang. “Kedua belah pihak tidak memiliki rasa urgensi bersama,  yang penting untuk negosiasi yang bermakna,” imbuhnya.

A woman waves an Iranian flag during a campaign in support of the government at the Enqelab-e-Eslami, or Islamic Revolution, square in downtown Tehran, Iran, Sunday, March 22, 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Iran dan AS sama-sama mengklaim kemenangan. AS telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah petinggi penting Iran, serta menghancurkan berbagai infrastruktur penting. Adapun Iran juga percaya mereka menang karena bisa bertahan dari gempuran AS serta membebankan dampak perang pada sekutu AS dan kepentingan Barat.

Israel, di sisi lain, menunjukkan sikap makin agresif. Pemerintah dan militer Israel bertekad akan mengintensifkan dan memperluas serangan terhadap Iran.

Dengan taruhan perekonomian global jika perang terus berlanjut, belum terlihat adanya terobosan signifikan dalam konflik ini. Sampai adanya rencana yang jelas untuk mengakhiri perang, dunia mesti bersiap menghadapi kesulitan. (Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji