Sari Pati dari Sisi Muria yang Lain

Pergolakan masyarakat Pati menentang kedegilan pemimpinnya menggaung ke Jepara, sisi utara Pegunungan Muria. Keresahan mewujud dalam kesenian, juga percakapan.

24 Agt 2025 06:41 WIB · Seni

Oleh Herlambang Jaluardi

Kisah itu dimulai dari Kabupaten Pati yang terletak di sabuk Gunung Muria, sisi utara Jawa Tengah. Warga bergerak serempak mengguncang kesewenangan pejabat daerah. Masyarakat bersolidaritas. Solidaritas itu pula yang menyeruak di Festival Muria Raya ke-5 di lereng utara Gunung Muria. Percik perlawanan terjaga dalam rupa seni dan budaya.

Wowox Artha, seniman warga Pati, adalah yang salah seorang yang terlihat di arena festival ini pada Sabtu (16/8/2025) menjelang sore. Ketika aksi demonstrasi berlangsung, Wowox mengaku ada di episentrumnya. Dia adalah salah satu pegawai kantor di sekitar Alun-alun Kabupaten Pati.

”Aku bantu ibu-ibu dan anak-anak cari tempat aman waktu polisi mulai nembaki gas air mata. Kasihan itu. Nggak nyangka ada gas air mata, itu perih banget,” kata Wowox yang berbadan tegap, beranting dan berkalung, serta bertato di kakinya itu.

Obrolan tentang peristiwa demonstrasi di Pati pada Rabu (13/8/2025) itu masih jadi percakapan hangat. Beberapa warga Pati lainnya ikut menimpali. Rata-rata yang terlontar adalah betapa arogannya sang bupati menantang warganya sendiri. Perilaku itu mereka sebut kelewatan, dan nirempati di tengah kondisi ekonomi sulit. ”Warga Pati pantang (diperlakukan) begitu,” lanjut Wowox.

Bagi masyarakat yang hidup di bawah naungan Gunung Muria, wilayah Pati, Jepara, dan Kudus, ketiganya adalah satu rumah budaya. Ada jalinan sejarah, bahasa, dan nilai-nilai yang membentuk identitas budaya bersama.

Sore itu terlalu indah untuk dirusak obrolan tentang pejabat yang menyebalkan. Alih-alih melanjutkan topik itu, Wowox meminta temannya menyeduhkan kopi. Tak lama, tiga gelas tersaji, tanpa gula. Asap tipis kopi robusta menguarkan harum di teras rumah yang dijadikan galeri pameran. Kopi itu berasal dari kebun warga Dusun Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, tempat berlangsungnya Festival Muria Raya (FMR) ke-5.

Bocah-bocah bermain layangan di pelataran samping rumah yang di pagi hari biasa dipakai untuk menjemur biji kopi. Langit biru berpadu dengan rerimbunan hijau lereng Gunung Muria. Pucuk gunung, yang disebut Puncak Songolikur (29), terlihat jelas dari desa. Warga setempat menyebut, Dusun Duplak adalah dusun tertinggi sebelum puncak. Sekitar 120 keluarga tinggal di dusun berketinggian hampir 1.000 meter di atas permukaan laut. Wajar hawanya segar meski matahari masih terik bersinar.

Anak-anak bermain layang-layang di halaman rumah warga bersamaan dengan penyelenggaraan Festival Muria Raya #5 di Dusun Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (16/8/2025). Kompas/Raditya Mahendra Yasa 17-08-2025 *** Local Caption ***

Di festival itu, layangan bukan sekadar permainan bocah belaka. Layangan dimaknai sebagai pesan dari bumi untuk kayangan. Kata layang dalam bahasa Jawa bisa berarti surat. Sementara kayangan adalah surga yang dipercaya ada di atas sana. Karena itu, layang-layang itu bisa berarti sapaan pada surga, bentuk ucapan terima kasih atas pertemuan dengan orang-orang yang terlibat dalam festival. Ia seolah membawa kabar ke langit bahwa ada pergolakan yang terjadi di sisi lain Gunung Muria.

Panen kopi, yang jadi komoditas utama dusun, dijadikan tema FMR kali ini. Dalam bahasa Jawa, tema itu berbunyi ”Wiwiting Werna Katresnan”, yang kira-kira artinya ”bermulanya rupa-rupa wujud cinta”. Mata acara yang mengawali festival itu adalah seremoni memanen biji kopi, yang berlangsung pagi hari diiringi tarian dari Kelompok Arjuna, muda-mudi Dusun Duplak.

Jadwal lentur

Semestinya, merujuk pada jadwal yang dibagikan, acara menerbangan layang-layang itu diiringi musik dari kelompok AODH Collective. Tetapi, warga dan pengunjung sepertinya masih menikmati sore yang sepoi itu sehingga arena depan panggung utama terlihat lengang. Panggung itu dibiarkan kosong hingga sekitar pukul 16.15 WIB, saat awan mulai menutupi langit biru.

Brian Trinanda K Adi, Direktur Festival Muria Raya, tak memusingkan hal itu. Pria berambut kriwil sebahu ini pun tak ”mengerahkan” warga untuk mendatangi arena panggung. Tata acara atau rundown bukan patokan rigid. ”Nanti saja tunggu warga kumpul, baru kita mulai lagi,” begitu pesannya pada panitia yang lain.

Demikianlah adanya. Tak ada yang tergesa di acara yang berlangsung pada 16-17 Agustus 2025 itu. Sekitar pukul 16.30 WIB, beberapa warga mulai mendatangi panggung utama. Panggung setinggi sekitar 30 sentimeter ini terletak di ujung atas dusun. Lebarnya sekitar 4 meter, menyesuaikan lebar jalanan itu. Posisi panggung ini persis berada di bawah Situs Petilasan Mbah Robyong, yang dinaungi pohon tua berakar lebat. Di situs itu ada mata air.

Warga berkumpul sekitar panggung pementasan para seniman yang hadir untuk memeriahkan Festival Muria Raya #5 di Dusun Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (16/8/2025). Kompas/Raditya Mahendra Yasa 17-08-2025 *** Local Caption ***

Penentuan posisi panggung ini adalah saran Mbah Jatmiko, sesepuh dusun itu. Begitu pula penetapan tanggal festival, yang kebetulan beririsan dengan dimulainya masa panen kopi, dan peringatan HUT Ke-80 Republik Indonesia. Tetapi, tak ada mata acara yang berkaitan dengan kelahiran Indonesia itu. Meski begitu, dekorasi berupa untaian bendera Merah Putih tetap terpasang di penjuru desa. Kebanyakan pekarangan rumah juga mengibarkannya.

Dekorasi panggung kecil itu terlihat artistik, bukan sebatas kain yang menjadi latar. Ada bambu melingkar dengan diameter sekitar 2 meter. Di pucuknya terpasang sosok wajah manusia bermahkota. Bagian utama ini terjalin dari untaian kulit bambu. Hiasan lainnya terbuat dari jerami dan daun jagung kering. Sebagian besar materialnya berasal dari lingkungan dusun.

Sudhar adalah salah seorang pemuda dusun yang mengoordinasi rekan-rekannya mendekorasi panggung itu. Dia terbiasa membuat obyek tiga dimensi yang dia sebut ogoh-ogoh, yang diarak keliling dusun setiap malam terakhir bulan Ramadhan. Sudhar senang bisa berkontribusi dalam hajatan festival itu.

Tata suara panggung baru menyala sekitar pukul 16.45 WIB. Band Jalakata dari Magelang, Jateng, melantunkan musikalisasi puisi, salah satunya adalah puisi ”Kangen” dari WS Rendra. Musiknya bernuansa trip-hop dengan imbuhan bunyi sintesis dan ketukan yang sarat patahan.

Berbarengan dengan penampilan Jalakata, pengunjung mulai berdatangan, menempati area duduk lesehan di tepi jalan—bagian dari warung makan milik keluarga Ridho. Kudapan berupa kacang, pisang, dan ubi rebus tersaji dalam beberapa piring. Mbah Jatmiko ikut duduk di area itu, tetapi tak mengudap. Dia mempersilakan tamu-tamu untuk menikmati sajian dari desanya itu. Keramahan dan kesederhanaannya begitu menenteramkan.

Karya lukisan dan instalasi karya seniman lokal yang menjadi bagian dari penyelenggaraan Festival Muria Raya #5 di Dusun Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (16/8/2025). Kompas/Raditya Mahendra Yasa 17-08-2025 *** Local Caption ***

Ada juga makanan berat; nasi hangat dalam termos, sayur daun pakis, serta lauk berupa irisan kentang dan tempe bersambal—tapi tidak pedas. Udara dingin membuat perut cepat lapar. Jadi, meski di ”jam tanggung”, makan berat bukan pilihan salah. Makanan itu dihidangkan prasmanan; siapa mau, ambil sendiri. Menu yang setara, untuk siapa saja.

Seorang warga berbisik, ”Di sini jangan menolak kalau ditawari makan. Kalau menolak terus, nanti nggak ada yang nyediain lagi. Repot njenengan,” ujarnya. Tentu saja makan jadi makin lahap. Minumnya? Ya jelas kopi. Free flow, alias bebas tambah kalau mau. Laki dan perempuan sama-sama minum kopi. Susah mencari teh.

Tak usah khawatir juga menghitung telah makan apa saja, atau minum berapa gelas kopi. Semua gratis. Warga menyuguhkan itu semua. Pun demikian, tak ada yang rakus mengambil nasi di luar kebutuhannya. Tahu batas cukup bisa jadi bentuk ucapan terima kasih.

Begitulah. Perhelatan yang digelar secara swadaya FMR dan sumbangsih warga setempat ini berlangsung dilingkupi keguyuban yang sulit disangkal otentisitasnya.

Kontemporer dan tradisional

Band Jalakata turun panggung menjelang petang. Pembawa acara mengingatkan acara akan dimulai lagi selepas shalat Isya, tanpa batasan jam. Mereka berpesan agar pengunjung langsung beristirahat sejenak di rumah transit, rumah warga yang menjadi singgahan. Rupanya ada kebajikan setempat yang mengharuskan warga masuk rumah saat maghrib agar jauh dari mala.

”Kalau punya anak kecil masih keliaran di luar pas maghrib, malamnya biasanya gelisah, nangis terus,” kata Wawan, pemuda setempat.

Hampir pukul 20.00 WIB, sesi malam dimulai dengan pertunjukan musik eksperimental AODH Collective. Warga duduk berlesehan di atas terpal yang dibentangkan di atas aspal. Posisinya agak menurun, sesuai kontur dusun. Kelompok ini memainkan musik noise yang dipadu gerakan teatrikal. Warga termangu saja melihat itu.

Warga yang memadati area pertunjukan seni yang baru pertama kali diselenggarakan salah satunya Festival Muria Raya #5 di Dusun Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (16/8/2025). Kompas/Raditya Mahendra Yasa 17-08-2025 *** Local Caption ***

Penampil berikutnya adalah penari-penari muda dari SMP Negeri 2 Gunungmungkal, Kabupaten Pati. Kelompok bernama Sanggar Saswita Mudha itu membawakan dua nomor tari tradisional, yakni ”Kiprah Ratu Sewu” yang bercerita tentang ratu yang terbakar ambisi cintanya. Nomor lainnya adalah ”Perang Kembang”. Nomor ini berisi pertarungan raksasa cakil melawan ksatria pandawa. Ini mengingatkan pada ontran-ontran di Alun-alun Pati beberapa hari sebelumnya, ketika rakyat berkehendak melengserkan bupati yang arogan—seperti cakil.

Sajian kesenian malam itu diselingi cakap-cakap pelaku budaya dari berbagai daerah tentang peran sentral desa. Brian menjadi moderator. Dia juga mengajak dosen/peneliti dari Universitas Amsterdam, Barbara Titus; penulis Pepep DW dari Bandung; Welda Sanavero dari Blora; Franki Raden dari Ubud; serta Mbah Lawu dari lereng Gunung Lawu. Mbah Jatmiko juga ada di antara mereka.

Sesi obrolan itu berlangsung sekitar satu jam. Kopi tak lagi cukup menahan kantuk tiga ibu di sisi samping. Angin bertiup lumayan kencang menggoyangkan ranting dan bebijian kopi yang masih muda. Mbah Jatmiko mengingatkan warganya untuk menjaga sumber air. Mbah Marno, sesepuh lainnya, menyambut para hadirin.

”Tadi saya dipesan untuk datang ke istipal (maksudnya festival) Dukuh Duplak. Semoga (acara) selamat sampai selesai tanpa ada halangan,” kata Mbah Marno dalam bahasa Jawa halus. Sambutan tak sampai dua menit itu disambut keplokan warga. Syukurlah, tak ada sambutan bertele-tele dari pejabat tinggi yang membosankan di acara yang hangat ini.

Rani Jambak dengan musik elektroniknya saat tampil pada Festival Muria Raya di Dusun Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (16/8/2025). Kompas/Raditya Mahendra Yasa 17-08-2025

Gugatan

Sementara Franki Raden melontarkan refleksi pada festival itu karena tak ada yang menyinggung tentang kopi sebagai identitas Dusun Duplak. ”Apakah kehadiran kami (tetamu dari luar Desa Tempur) justru merepotkan warga setempat? Apa manfaatnya? Semoga kesenian yang kita nikmati menjadi inspirasi masyarakat sini,” ujarnya.

Gugatan Franki mendapat jawaban dari penampil pamungkas Komunitas Mantra Gula Kelapa dari Surakarta yang mementaskan lakon tari-teater ”Membelah Kabut”. Sebanyak 16 penari dan aktor memenuhi panggung. Aroma dupa dan mawar menguar. Nuansa desa pegunungan seolah diromantisasi sinar lampu sentir yang ditenteng tiga penari bedoyo yang ayu-ayu itu.

Komunitas Mantra Gula Kelapa dari Surakarta dengan tari teaternya mementaskan tarian berjudul Membelah Kabut saat hadir dalam Festival Muria Raya #5 di Dusun Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Minggu (17/8/2025). 

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
17-08-2025
 *** Local Caption ***

Di pertengahan pertunjukan ada adegan eksplisit tentang arogansi kekuasaan. Seorang ibu pedagang pasar dijarah tiga pemuda pemabuk. Dagangan dari bakulnya direbut. Sang ibu melawan, tapi kalah. Salah satu pemuda itu, saking mabuknya, menyebar uang (palsu) ke arah penonton. ”Duit ini untuk kalian semua, karena aku mau nyalon,” ujarnya dalam bahasa Jawa jelata.

Mereka terus mabuk mengumbar mimpi jadi pemimpin. Modal uang saja tak cukup. Tanah dan batu keramat pun bisa ditukar jabatan. Akhirnya, mereka tumbang bergelimpangan, lantas ”disapu” layaknya sampah. Lagi-lagi, aksi massa di Pati terkenang kembali pada adegan ini.

Komunitas Mantra Gula Kelapa dari Surakarta dengan tari teaternya mementaskan tarian berjudul Membelah Kabut saat hadir dalam Festival Muria Raya #5 di Dusun Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Minggu (17/8/2025). 

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
17-08-2025
 *** Local Caption ***

”Ibu (pedagang pasar) itu adalah simbol keberdayaan, mencari uang yang tak seberapa, bukan demi dirinya sendiri, tapi juga keluarganya. Dia harus berhadapan dengan kekuasaan. Begitulah daya rakyat jelata. Saya terinspirasi dari yang saya lihat di lereng Gunung Lawu. Ketika dipanggungkan di festival ini, ia akan menjadi refleksi bersama. Tafsirnya bisa terasa kontekstual,” ujar Fajar Satriadi, pimpinan komunitas ini.

Malam bergerak mengganti hari. Cuaca dingin merambati kulit. Rasa syahdu berbaur kebersamaan berlanjut di ruang tidur yang berbagi antartamu dan pemilik rumah. Sebelum mata terpejam, teringat betapa pejabat tinggi begitu tega menarik kenaikan pajak ugal-ugalan dari rakyat yang sedemikian guyub dan bersahaja ini. Mestinya Sang Bupati hadir di festival ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Herlambang Jaluardi
 | 

Editor:

Sarie Febriane
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto