Iran bermodal tradisi juara di Piala Asia Futsal lebih diunggulkan di laga final. Indonesia tak gentar dengan dukungan ribuan suporter.
06 Feb 2026 18:04 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Abadi. Satu kata yang pantas disematkan kepada tim nasional futsal Indonesia jika mampu mengalahkan Iran di partai final Piala Asia Futsal 2026, Sabtu (7/2/2026) pukul 19.00 WIB. ”Garuda” bukan tidak mungkin mengangkat trofi juara.
Indonesia menjalani gim final Piala Asia Futsal 2026 menghadapi Iran, tim terbaik Asia. Dalam 17 partisipasi sebelumnya di turnamen Asia, ”Team Melli”, sebutan Iran, tercatat 16 kali menembus final. Mereka memenangi 13 partai puncak itu.
Catatan lebih superior lagi dihadirkan Iran dengan koleksi kekalahan sekadar empat kali dari 110 laga di Piala Asia Futsal. Dominan.
Empat kekalahan itu dengan mudah disebut. Tiga hasil negatif tercipta dari Jepang. Dua di antaranya terjadi di partai final menghadapi Jepang pada edisi 2014 dan 2022. Sebelumnya, Jepang mengalahkan Iran di semifinal edisi 2006. Adapun satu kekalahan lainnya tercipta pada semifinal edisi 2012 ketika takluk dari Thailand.
Sementara itu, Indonesia berstatus debutan di laga final. Mochammad Iqbal dan kawan-kawan adalah kontestan ketujuh yang bisa tampil pada gim perebutan trofi juara Piala Asia Futsal 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/e201f8962eb846568f0545bdddacf26d-FAK_8592.jpg)
Sebagai ”anak baru” pada duel final, pelatih tim nasional Indonesia mengatakan, hal itu justru menjadi keuntungan bagi Indonesia. Timnya, ujar Souto, sama sekali tidak merasakan tekanan menghadapi Iran, ”sang raja terakhir” futsal Asia.
Di hadapan Iran, tujuan Indonesia adalah bermain dengan kebahagiaan dan kebanggaan. Mereka ingin memberikan senyuman kepada setiap wajah pendukung Indonesia yang menyaksikan laga final nanti.
”Tekanan tidak kami rasakan. Justru tekanan (untuk menang) berada di sisi Iran. Mereka lebih berpengalaman dan sudah 13 kali juara Piala Asia,” ujar Souto dalam konferensi pers jelang laga, Jumat (6/2/2026), di Indonesia Arena.
Dalam rekor pertemuan kedua tim, Indonesia selalu takluk di hadapan Iran pada tujuh kali duel. Salah satu kekalahan itu masih tercatat sebagai peringkat ketujuh skor kemenangan terbesar Team Melli di pentas Piala Asia Futsal.
Iran melibas Indonesia 20-1 pada Piala Asia Futsal 2006. Pertemuan terakhir Indonesia dengan Iran tercipta pada gim pembuka babak penyisihan edisi 2022. Indonesia kalah 0-5.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/0643040c4ce250ff0f42d2ff6f126c2c-FAK_7850.jpg)
Wendy Brian Ick, pemain futsal Indonesia, sependapat dengan Souto. Skuad Garuda bangga bisa menembus final. Performa apik di Indonesia Arena ingin diakhiri dengan sempurna.
”Kami tidak merasa tertekan karena ini adalah final pertama kami. Motivasi besar kami hadir karena bermain di rumah sendiri. Saya dan teman-teman tidak ingin kalah di rumah sendiri,” ucap Brian.
Pada kesempatan itu, pelatih tim nasional futsal Iran, Vahid Shamsaee, tidak menganggap sebelah mata Indonesia. Shamsaee menyaksikan langsung aksi tim Indonesia di babak semifinal dari tribune teleskopik Indonesia Arena bersama seorang penerjemah.
Ia bertahan di Indonesia Arena ketika timnya kembali ke hotel, Kamis petang. Hal itu dilakukan Shamsaee, pemilik delapan trofi Piala Asia Futsal sebagai pemain dan satu gelar sebagai pelatih Iran, untuk mempelajari kekuatan skuad Garuda sekaligus memahami antusiasme besar suporter Indonesia.
”Tidak ada tim yang memiliki tekanan lebih besar dibandingkan kami di turnamen ini. Saya berterima kasih kepada seluruh pemain yang mampu mengatasi tekanan itu dan melaju hingga ke final,” ujar Shamsaee.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/c7034cd0dfa0261fa2453bf9c9e2cce0-FAK_6947.jpg)
Lebih lanjut, Shamsaee menyebut bahwa trofi Piala Asia Futsal adalah cara terbaik anak asuhannya untuk memberikan pelipur duka bagi rakyat Iran. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran terguncang konflik di dalam negeri, juga tekanan geopolitik dengan Amerika Serikat.
”Alasan kami ada di sini adalah profesionalitas. Saya ingin menyampaikan luka mendalam kepada warga Iran yang menderita karena sejatinya futsal tidak lebih besar dari situasi yang terjadi di negara kami,” kata Shamsaee yang sempat menyeka air mata.
”Saya dan pemain ingin mempersembahkan trofi ini untuk warga Iran,” lanjut Shamsaee, pencetak gol terbanyak dalam laga internasional futsal dengan koleksi 392 gol.
Merujuk pada hasil di dua laga fase gugur, Indonesia dan Iran memiliki dimensi permainan berbeda. Indonesia tampil lebih efektif di babak pertama, sedangkan Iran cenderung lambat panas meskipun memiliki mental tangguh.
Team Melli sempat tertinggal dua gol dari Uzbekistan di babak perempat final sebelum menang 7-4. Pada duel semifinal, Iran tertinggal dua kali oleh Irak di babak pertama. Meski begitu, mereka mampu membungkam Irak 4-2.
Sebaliknya, Indonesia bermain stabil setidaknya selama babak pertama. Vietnam dan Jepang gagal mencetak gol ke gawang Indonesia pada paruh pertama laga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/6659c23758824efcd8ceabc76807a890-FAK_9227.jpg)
Skuad Garuda lebih mudah kecolongan ketika laga sudah berjalan 25 menit. Hal itu terlihat dari waktu kemasukan gol oleh Vietnam dan Jepang. Bahkan, merujuk pada hasil babak penyisihan, delapan dari sembilan gol yang bersarang ke gawang Indonesia tercipta setelah turun minum.
Souto menuturkan, kelengahan timnya itu telah menjadi bahan evaluasi jelang duel final. Menurut dia, Iran adalah tim terkuat yang menuntut anak asuhannya tampil tanpa cela untuk menang.
”Kami memiliki bahasa taktik yang seragam. Pemain sudah memahami keinginan saya meski terkadang hal itu perlu saya ingatkan. Kekuatan utama kami adalah kebersamaan,” tutur Souto yang berpaspor Spanyol.
Mohammadhossein Derakhshani, pemain Iran, menilai timnya sudah terbiasa tampil dengan mental laga final. Ia tidak terpengaruh akan bermain di bawah tekanan lebih dari 10.000 pendukung tuan rumah.
”Iran selalu hadir di Piala Asia dengan tujuan menjadi juara. Kami sudah menjalani lima laga final sebelumnya, jadi melawan Indonesia adalah final lainnya yang harus kami menangkan untuk meraih trofi,” kata Derakhshani. Ia merupakan salah satu dari delapan pemain yang dipertahankan Shamsaee ketika juara edisi 2024.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul