Kemenpora condong menempatkan SEA Games Thailand 2025 sebagai ajang mengejar medali. Karena berhitung potensi medali, kontingen tak kunjung ditentukan.
09 Nov 2025 13:53 WIB · Olahraga
ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA
Penyelenggaraan SEA Games Thailand 2025 tinggal sebulan lagi pada Minggu (9/11/2025). Namun, dengan sedikit waktu tersisa, Indonesia bahkan masih belum menentukan susunan atlet yang tergabung dalam kontingen. Ketidakjelasan ini menunjukkan bahwa tujuan utama partisipasi dan skala prioritas tiap ajang yang diikuti masih samar.
Proses penentuan kontingen Indonesia untuk SEA Games Thailand 2025 tak kunjung rampung. Setelah Kementerian Pemuda dan Olahraga lewat tim review meninjau 52 cabang olahraga, masih ada tahap analisis dan serangkaian rapat. Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono, memperkirakan, rapat pleno penentuan kontingen baru digelar pekan depan.
Problem utama dari proses penentuan kontingen yang tak kunjung rampung adalah hitung-hitungan potensi medali yang dinilai belum memenuhi target. Menpora Erick Thohir mengatakan, Indonesia menargetkan minimal finis di peringkat tiga klasemen perolehan medali SEA Games Thailand 2025.
Kalau kita bisa (mencapai) 13,80 persen saja, itu setara dengan 80 emas. Jadi, kita menyisir yang dua (medali) saja, insya Allah kita masih bisa bertahan di (peringkat) tiga.
Namun, Erick terkesan tidak mau jika target itu ditetapkan secara sepihak oleh Kemenpora. Menurut Erick, target itu harus disepakati bersama dengan cabang-cabang olahraga. ”Kita mau target ini tetap, paling tidak kita bisa ranking tiga lagi,” ucap Erick pada konferensi pers pada 16 Oktober 2025 lalu.
”Tetapi, kalau realitas hari ini, tidak (bisa). Artinya, kita harus sama-sama berijibaku menata bagaimana target-target kita yang setransparan mungkin,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/17/40e9cb75c4ac1ea87cd759609b727b5b-DSC04533.JPG)
Di SEA Games Kamboja 2023, Indonesia finis peringkat ke-3 dengan 87 medali emas. Namun, Indonesia kehilangan potensi 41 medali emas dari cabang olahraga dan nomor yang tidak dipertandingkan di Thailand, seperti fin swimming, kun bukator, vovinam, soft tennis, dan judo. Walakin, Indonesia mendapatkan potensi tambahan 32 emas dari cabang olahraga maupun nomor pertandingan sebelumnya tidak ada di Kamboja, seperti panahan.
Untuk bisa meraih peringkat ketiga, kata Surono, Indonesia harus mendapatkan 13,84 persen sampai 15,90 persen medali emas dari total 577 medali yang diperebutkan. Artinya, Indonesia butuh lebih dari 79 medali emas, sedangkan baru 78 potensi medali yang tercatat.
”Kalau kita bisa (mencapai) 13,80 persen saja, itu setara dengan 80 emas. Jadi, kita menyisir yang dua (medali) saja, insya Allah kita masih bisa bertahan di (peringkat) tiga,” ujar Surono.
Problemnya, hasil penyisiran itu berpotensi memunculkan dinamika di dalam cabang olahraga, terutama cabang olahrga non-terukur. Apalagi, cabang olahraga-cabang olahraga hingga saat ini belum mendapatkan surat keputusan yang mengunci daftar atlet ke SEA Games.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/21/19008d6c9a84511c85344ab12ba83728-20250421ags9.jpg)
Bulu tangkis menjadi salah satu contohnya. Surono menyebut, berdasarkan hasil review yang membandingkan kekuatan calon lawan, seperti Malaysia dan Thailand, bulu tangkis diminta menurunkan skuad terbaik.
Padahal, meski belum ada surat keputusan, bulu tangkis sudah mengumumkan daftar pemainnya yang terdiri 10 atlet putra dan 10 putri. Sebagian besar atlet, terutama pada sektor putra, merupakan pemain muda sekaligus debutan di ajang multicabang.
PBSI sudah memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada pemain muda guna mendapatkan jam terbang dan merasakan tekanan ajang multicabang. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari dari program regenerasi jangka panjang.
”Makanya sekarang disepakati antara tim review dengan PBSI akan ada beberapa pergantian pemain, yang terbaik masuk di situ. Dan, ini sedang proses untuk pengusulan perubahan, yaitu secara teknis dari pengurus besar (PB) langsung ke KOI dan kami juga mengawal jalannya administrasi yang ada, baik dari PB maupun dari KOI untuk bisa mendaftarkan kembali ke panita di Bangkok,” ujar Surono.
Surono enggan merinci pergantian itu. Namun, jika yang dimaksud adalah skuad utama, kemungkinan besar atlet yang ditunjuk adalah yang tak hanya berpengalaman, tetapi juga berpotensi besar mempersembahkan medali. Pilihan ini akan meminggirkan upaya regenerasi yang mengedepankan pengalaman bagi para pemain muda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/06/d66f6d4d2a3024ac17061e1ce41df144-DSC05488.JPG)
Sebab, medali jadi tolok ukur pengiriman atlet. Kata Surono, tim review melihat potensi raihan medali dari cabang olahraga, apa pun jenis medalinya. Namun, tolok ukur ini pun sebenarnya bertolak belakang dengan tujuan utama mengejar posisi di peringkat akhir. Sebab, hanya medali emas yang perannya signifikan dalam penentuan posisi klasemen.
Di sisi lain, dinamika jelang SEA Games ini kian menegaskan sikap Kemenpora di bawah kepemimpinan Erick Thohir. Sejak awal, Kemenpora sudah menekankan prestasi adalah prioritas. Untuk itu, Erick menekankan, pengiriman kontingen harus efektif dan efisien.
”Kepercayaan yang diberikan kepada saya melalui Bapak Presiden, saya tidak mau di kemudian hari menjadi catatan beliau. Tentu, kami dari pemerintah, Bapak Presiden dan semua yang ada di sini, kita harus punya komitmen yang sama. Bahwa atlet yang dikirim harus benar-benar yang memang diprioritaskan dan bisa mendapatkan medali,” kata Erick dalam konferensi pers yang juga dihadiri para pengurus cabang olahraga pada Oktober lalu.
Hal itu juga tecermin dari jawaban Erick atas pertanyaan Kompas soal prioritas atlet muda. Erick berkata tidak akan membeda-bedakan perlakuan terhadap atlet. Selama berpeluang meraih medali, Erick tidak memedulikan apakah atlet tersebut sudah senior atau masih atlet muda.
”Saya tidak mau berprasangka atlet muda dianggap tidak punya potensi, selalu kalah sama senior. Tetapi, tentu senior seperti Eko (Yuli, lifter veteran), kita tidak boleh lupakan. Kalau memang ternyata masih ada potensi, dia masih punya kesempatan. Kesempatan ini yang harus kita buka sepenuhnya,” ujar Erick.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/07/a9c927bd596aa5c82b0ee1db2c3ab1c0-FAK_7733.jpg)
SEA Games diselenggarakan dua tahunan. Apabila pendekatan yang digunakan adalah semata-mata meraih medali sebanyak-banyaknya demi mengejar peringkat, upaya regenerasi atlet bisa terhambat. Status SEA Games sebagai sasaran antara, bukan utama, juga dipertanyakan.
Cabang olahraga juga berada dalam posisi dilematis. Upaya regenerasi atlet dengan memberi pengalaman dan mengawali perjalanan dari level regional akan berbenturan dengan tuntutan medali. Sebab, jika prioritasnya adalah medali, bisa jadi yang dikirim adalah atlet senior lagi.
Padahal, dalam dua edisi terakhir, cabang olahraga sudah menggunakan ”formula” kombinasi atlet muda dan senior sebagai bagian dari program pembinaan jangka panjang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Mulai edisi Vietnam 2021, SEA Games hanya sasaran antara.
Dengan paradigma tersebut, tuntutan pada para atlet beralih dari sekadar medali di SEA Games menjadi standar prestasi. Para atlet perlu mencapai standar performa sesuai dengan periodisasi pembinaan untuk berprestasi di ajang lebih tinggi yang jadi tujuan utama, yakni Asian Games atau Olimpiade. Jika standar itu tercapai, dan lebih baik dari atlet negara lain, medali akan datang dengan sendirinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/13/618682ba-1c2f-429d-8c6c-49fc95eb8ec0_jpg.jpg)
Komitmen yang sama tetap berlanjut di SEA Games Kamboja 2023. Pemerintah memberikan kesempatan kepada 60 persen atlet muda potensial dan 40 persen atlet senior. Atlet yang dikirim tidak hanya mereka yang benar-benar berpeluang besar meraih medali, melainkan juga atlet-atlet muda potensial sekaligus penerus atlet-atlet senior.
Dibanding Asian Games dan Olimpiade, SEA Games memang tidak membatasi jumlah kontingen tiap negara selama memenuhi aturan per cabang olahraga dan nomor pertandingan. Tidak ada kualifikasi sehingga siapa pun atlet yang dikirim bisa bertanding. Namun, ini bisa dilihat sebagai momentum mengirim pemain-pemain muda guna mencicipi ajang multicabang internasional.
Apalagi, sejak awal SEA Games tidak dimaksudkan sebagai arena untuk mencetak prestasi. Saat pertama kali dibentuk dengan nama SEAP Games, ajang ini diadakan sebagai sarana pijakan bagi atlet-atlet Asia Tenggara sebelum berlaga di ajang multicabang yang lebih besar semacam Asian Games dan Olimpiade.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto