Sebelum Menikam Keluarganya, MA Sempat Mendengar Bisikan

MA, pelaku pembunuhan keluarganya, dikenal sebagai pribadi yang pendiam, tetapi ramah. Hingga saat ini, penyidik masih menelusuri motif di balik pembunuhan.

30 Nov 2024 19:21 WIB · Metro

Oleh Rhama Purna Jati

JAKARTA, KOMPAS — Polisi masih menyelidiki motif di balik kasus pembunuhan yang dilakukan oleh MA (14) terhadap keluarganya. Berdasarkan pengakuan tersangka, sebelum menikam anggota keluarganya, MA mendengar berbagai bisikan yang membuatnya merasa gelisah. 

Hal ini disampaikan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Gogo Galesung seusai melakukan olah tempat kejadian perkara di rumah korban yang berada di salah satu perumahan di Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (30/11/2024). 

Sejumlah barang bukti disita, seperti pisau dapur yang digunakan MA untuk menikam ayah, ibu, dan neneknya serta pakaian dan seprei yang berlumuran darah. Gogo menyebut, berdasarkan pengakuan dari tersangka MA, pembunuhan dilakukan saat semua penghuni rumah sedang tidur. 

”Dia (MA) tidak bisa tidur karena mendengar bisikan-bisikan yang membuatnya resah,” katanya. 

Kondisi di dalam rumah pelaku sekaligus korban pembunuhan di Perumahan Taman Bona Indah, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (30/11/2024). Akibat kejadian ini, dua orang yang merupakan nenek dan ayah pelaku tewas.

Dia kemudian keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu untuk mengambil sebilah pisau dapur. Ia lalu kembali ke kamar tidur orangtuanya di lantai dua, lalu MA menikam APW (40), ayahnya, dan AP, (40) ibunya. Ayahnya pun berlari ke lantai bawah untuk menghindari penusukan. 

Mendengar kejadian tersebut, RM (69), nenek pelaku, keluar dari kamar dan tak lama kemudian pelaku pun langsung menikam neneknya. ”Itulah sebabnya sang ayah dan nenek pelaku ditemukan meninggal di lantai dasar,” katanya. 

Sementara untuk AP selamat karena kemungkinan tusukan tidak mengenai organ vital. ”Ibunya sempat berteriak dan meminta tolong kepada tetangga,” ucap Gogo. Hal ini berkesesuaian dengan keterangan saksi yang menyatakan bahwa AP keluar rumah untuk meminta pertolongan.

AP keluar dalam kondisi berlumuran darah. Karena itulah ditemukan sejumlah jejak darah di seprei, lantai satu dan lantai dua, serta di garasi dan di depan rumah korban.  

Quote

Dia (MA) tidak bisa tidur karena mendengar bisikan-bisikan yang membuatnya resah.

Saat ini, kondisi ibu pelaku masih kritis dan dirawat di RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Adapun jenazah dua korban tewas, yakni RM dan APW, diotopsi di RS Kramatjati untuk mengetahui penyebab kematian korban. ”Dari pemeriksaan luar memang terlihat sejumlah luka tusuk,” kata Gogo.

Untuk mengetahui persis peristiwa ini, penyidik sedang memeriksa kamera pemantau yang ada di sekitar lokasi kejadian. ”Selain itu, kami juga akan menggandeng Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia untuk mendalami motif di balik pembunuhan ini,” katanya. 

Berdasarkan pantauan Kompas pada Sabtu sore, rumah korban terlihat sepi. Hanya ada dua mobil yang terparkir di garasi rumah. Beberapa warga tampak penasaran melihat rumah korban.

Salah satunya Damy (55), rekan bisnis RM yang sudah saling mengenal sejak 2008. ”Kebetulan saya dan Ibu RM rekan kerja di salah satu perusahaan agen properti sebelum akhirnya membuka perusahaan properti masing-masing,” katanya.

Menurut Damy, di masa hidupnya, RM adalah pribadi yang ramah dan baik kepada keluarganya. ”Setiap ada keluarganya yang sakit, Ibu RM tidak segan untuk membiayai,” katanya.

Komunikasi terakhir Damy dengan RM adalah ketika ia berkoordinasi soal jual beli rumah. ”Bahkan, di status terakhirnya, RM sedang berdiri di depan sebuah rumah mewah yang kemungkinan adalah rumah yang sedang dipromosikannya,” katanya.

Pribadi yang ramah

Tetangga korban, RS (70), sangat kaget dengan kejadian ini. Pasalnya, dalam keseharian, MA dikenal sebagai anak yang sangat baik. ”Kalau bertemu, dia (MA) selalu menyapa,” katanya. Tidak hanya itu, dia tidak pernah lalai untuk beribadah. 

RS mengaku ketika peristiwa ini terjadi, ia tidak mendengar kejadian apa pun. ”Memang, saya juga tidak pernah mendengar kegaduhan apa pun di rumah korban,” katanya. 

Dia hanya melihat ketika ibu pelaku, AP, keluar untuk meminta tolong warga sekitar atas kejadian yang dia hadapi. RS menuturkan, keluarga ini merupakan penghuni lama.

”Saya masuk ke kompleks sini sejak 1985 dan keluarga korban sudah ada sebelum saya,” katanya.

Dalam keseharian, RM, nenek pelaku, dikenal sangat ramah, bahkan selalu melakukan kegiatan sosial. ”Setiap ada warga yang meninggal, Ibu RM adalah orang yang paling sibuk mempersiapkan pemakaman,” katanya. 

Begitu pula yang disampaikan oleh tukang bakso keliling, Agus Suliswanto (55), yang kerap bertemu dengan pelaku. Pria yang akrab disapa Pakde ini sering bertemu MA di sejumlah momen. 

MA dikenal sebagai pemuda yang pendiam, tetapi ramah terhadap semua orang. ”Saya kerap bertemu MA saat dia sedang berolahraga dan mau shalat,” katanya. 

Dia juga dikenal sebagai anak rumahan yang jarang nongkrong. ”Saya juga tidak menyangka dia menjadi pelaku pembunuhan keluarganya,” kata Agus heran. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Rhama Purna Jati
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P