GOLAZO PIALA DUNIA

Sebelum Roberto Carlos, Brasil Punya Nelinho dan Tendangan Mustahilnya

Saat bola tendangan Nelinho melengkung ekstrem dan mengecoh kiper, ketika itu pula sepak bola mengarah ke masa depan dengan keindahan dan kemustahilan.

15 Jun 2026 07:00 WIB · Olahraga

AP/Eraldo Peres

Oleh Rebiyyah Salasah

Jauh sebelum dunia mengenal Roberto Carlos dan Juninho sebagai ikon tendangan ”mustahil”, Brasil punya Nelinho. Di Piala Dunia 1978, Nelinho mencetak gol lewat tendangan yang melengkung ekstrem. Tendangan itu melampaui zaman dan pemahaman semua orang.

Generasi 90 dan milenium baru familiar dengan Roberto Carlos dan tendangan pisangnya. Bola melengkung, melewati pagar betis, lalu meluncur deras ke gawang.

Tendangan ini sampai dijelaskan sejumlah ilmuwan fisika. Para pesepak bola lain hingga saat ini meniru satu atau lebih elemen khas dari teknik Roberto Carlos.

Lalu, ada pula Juninho dengan teknik knuckeball. Bola melesat kencang tanpa rotasi, berbelok secara tak terduga dan mengecoh kiper lawan. Ia begitu piawai, terutama saat tendangan bebas.

Namun, Nelinho melakukannya jauh lebih dulu. Pemain kelahiran Rio de Janeiro inilah yang jadi pelopor tendangan-tendangan mustahil itu.

Nelinho adalah bek kanan. Meski begitu, naluri untuk mencetak gol selalu melekat dalam dirinya. Apalagi, saat laga perebutan peringkat ketiga di Piala Dunia 1978 melawan Italia itu, Brasil dalam keadaan genting. Brasil tertinggal 0-1 karena gol Franco Causio.

Roberto Carlos di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (1/6/2023). ADRYAN YOGA PARAMADWYA (Z20) 01-06-2023

Di Stadion Monumental, Buenos Aires, itu Nelinho tahu harus bertindak. Ia tahu, Brasil tak ingin kembali pulang dengan tangan hampa seperti edisi 1974 di Jerman Barat.

Maka, ketika mendapatkan umpan dari Roberto Dinamite, Nelinho tak pikir panjang. Nelinho menguasai bola di sayap kanan, di posisi yang seharusnya hanya untuk umpan silang. Alih-alih menggunakan kaki bagian dalam untuk melepaskan umpan, ia menendang bola dengan kaki bagian luar.

Nelinho mematahkan logika dengan mengarahkan bola ke gawang melawati kiper Italia, Dino Zoff. Bola meluncur lebih dulu menuju bendera sudut, kemudian melengkung kembali pada sudut yang mustahil dan menghantam gawang di menit ke-64.

Dino Zoff, salah satu kiper terhebat dalam sejarah, sempat berusaha menggapai bola. Namun, laju bola dari pemilik 175 gol sepanjang karier itu lebih cepat dari loncatan Zoff.

Gol seperti itu selalu menimbulkan skeptisisme. Apakah tendangan tersebut direncanakan atau hanya kebetulan dari umpan yang salah sasaran. Nelinho menegaskan, tujuannya memang jelas: menendang bola ke gawang.

”Saya tahu Zoff akan mengharapkan saya untuk mengumpan silang, jadi saya memutuskan untuk menembak,” ucap Nelinho, dikutip dari laman resmi FIFA.

”Orang-orang yang belum pernah melihat saya bermain bertanya apakah saya benar-benar bermaksud melakukannya, tetapi orang-orang yang pernah melihat saya bermain tahu bahwa itu adalah keahlian saya,” ujarnya.

Gol ini dianggap sebagai salah satu tendangan melengkung pertama dalam sejarah Piala Dunia. Tendangan ini jauh melampaui zamannya dan pemahaman semua orang.

Infografik Gol Nelinho Perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1978

Saat itu, ilmu olahraga belum berkembang, analisis video juga belum mumpuni. Sebelum itu semua, termasuk siapa pun memahami fisika lengkungan, Nelinho menunjukkan aksi dengan cara yang tampak tidak mungkin.

Kepada Tribal Football, Nelinho pernah mengungkapkan, gol ke gawang Italia itu indah, tetapi bukan yang terindah. Gol tersebut, kata Nelinho, adalah momen terpenting karena mengantarkan Brasil mengamankan peringkat ketiga.

”Gol itu selalu muncul ketika orang-orang mengingat tentang gol indah di Piala Dunia. Itu membanggakan,” ujar Nelinho.

Gol dari tendangan mustahil Nelinho mengawali titik balik Brasil. Delapan menit setelah gol itu, Dirceu membuat tim “Samba” unggul dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Brasil pun pulang sebagai peringkat ketiga, lebih baik dari edisi sebelumnya yang hanya jadi semifinalis.

Namun, gol Nelinho tidak sekadar membantu Brasil memperbaiki keadaan, tetapi juga meninggalkan jejak yang baru dipahami bertahun-tahun kemudian. Saat bola melengkung ekstrem dan mengecoh kiper, ketika itu pula sepak bola mengarah ke masa depan dengan keindahan dengan bumbu kemustahilan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim