ASIAN GAMES AICHI-NAGOYA 2026

Sebulan Jelang Asian Games, Pemerintah Tambah Anggaran Pelatnas

Dengan waktu persiapan tersisa 37 hari, atlet mendapatkan tambahan anggaran untuk pelatnas Asian Games 2026. Para atlet tetap ditargetkan meraih empat emas.

13 Agt 2026 11:26 WIB · Olahraga

KOMPAS/REBIYYAH SALASAH

Oleh Rebiyyah Salasah

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menambah anggaran untuk pemusatan latihan nasional menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Penambahan hingga menjadi Rp 222 miliar ini diharapkan memaksimalkan persiapan atlet sekitar sebulan atau 37 hari menjelang ajang tersebut.

Kabar baik untuk para atlet yang akan berpartisipasi di Asian Games 2026 akhirnya datang juga. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Rabu (12/8/2026), mengumumkan, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menambah anggaran untuk persiapan Asian Games, khususnya pemusatan latihan nasional (pelatnas).

Erick mengatakan, anggaran awal untuk pelatnas persiapan Asian Games sebesar Rp 81 miliar. Pemerintah lalu menyisir anggaran sehingga bisa menambahnya menjadi Rp 127 miliar. Setelah itu, ada tambahan lagi Rp 95 miliar.

”Dengan tambahan itu, anggaran pelatnas Asian Games 2026 meningkat, dari Rp 127 miliar kini menjadi Rp 222 miliar,” ujar Erick.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menjawab pertanyaan dalam konferensi pers liga sepak bola putri bertajuk "Indonesia Women's League" di kantor i-League, Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Erick menegaskan, anggaran Rp 222 miliar itu hanya untuk keperluan pelatnas. Itu belum termasuk Rp 61 miliar yang disiapkan untuk kebutuhan pengiriman kontingen Indonesia ke Asian Games 2026. Meski anggarannya dibedakan, kedua pengeluaran itu nanti menjadi satu kesatuan dalam pembiayaan Asian Games.

Tambahan anggaran ini, kata Erick, merupakan bentuk kepercayaan kepada Kemenpora, para atlet, dan cabang olahraga (cabor). Oleh karena itu, Erick meminta semua pihak menjaga penggunaan anggaran secara transparan dan bertanggung jawab.

Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dihelat 19 September-10 Oktober di Jepang. Indonesia akan mengirimkan 432 atlet untuk mengikuti 35 cabor di pesta olahraga Asia itu.

”Sudah final karena tinggal satu bulan (Asian Games 2026). Jadi, persiapan cabang olahraga yang selama ini mungkin sudah berjalan, tetapi masih ragu-ragu, kembali kami bantu,” ucap Erick.

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Raja Sapta Oktohari, memimpin Rapat Anggota KOI di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Pada Mei atau empat bulan sebelum Asian Games, sejumlah pengurus cabang olahraga mengungkapkan kendala yang dihadapi para atlet saat persiapan karena adanya efisiensi anggaran. Hal itu terungkap dalam Rapat Anggota Komite Olimpiade Indonesia (KOI) 2026.

Saat itu, Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari mengungkapkan, pihaknya mendapatkan masukan dan keluhan dari cabang olahraga terkait kebutuhan pendanaan. Menurut Okto, komitmen pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, terhadap olahraga telah terlihat jelas.

Namun, komitmen itu perlu diikuti dengan keberpihakan nyata dalam proses anggaran, terutama dalam mendukung program pelatihan jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang. Apalagi, kata Okto, prestasi tidak bisa instan.

”Butuh proses panjang dan dukungan berkelanjutan. Kami berharap ada keberpihakan maksimal dalam pembiayaan,” ujar Okto.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memaparkan soal persiapan Asian Games 2026 dalam rapat kerja bersama Komisi X DPRI RI di kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menpora Erick tak memungkiri adanya efisiensi anggaran itu. Dalam rapat kerja Komisi X DPR, Juni, Erick menyebut anggaran pelatnas untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menurun signifikan dibandingkan dengan Asian Games Hangzhou 2022.

Untuk persiapan Hangzhou, anggaran pelatnas sebesar Rp 389 miliar untuk 31 cabang olahraga dan 415 atlet. Sementara untuk Aichi-Nagoya, anggaran pelatnas Rp 81 miliar untuk 33 cabang olahraga dan 361 atlet. Artinya, terdapat penurunan sebesar 79 persen dari anggaran untuk Asian Games 2022.

Hal itu tak lepas dari pemangkasan dari Kementerian Keuangan dan pagu Kemenpora yang rendah. Dari total anggaran Kemenpora sebesar Rp 1,15 triliun, terdapat pemangkasan hingga mencapai Rp 270 miliar.

Saat diwawancarai awal Agustus, Erick mengatakan, rata-rata anggaran Kemenpora mencapai Rp 2,6 triliun dalam 10 tahun terakhir. Namun, tahun ini hanya Rp 1,15 triliun, yang bahkan lebih rendah dari masa pandemi sebesar Rp 1,2 triliun.

”Dari Rp 1,15 triliun itu masih ada sekitar Rp 270 miliar yang diblokir. Salah satunya untuk perjalanan dinas. Namun, saya sampaikan bahwa perjalanan dinas itu bukan untuk saya, melainkan untuk atlet dan pelatih,” ujar Erick.

Perenang Indonesia Adellia tampil di nomor 100 meter gaya dada SEA Games 2025 di Stadion SAT, Bangkok, Thailand, Jumat (13/12/2025). Perenang Indonesia Joe Aditya Wijaya Kurniawan meraih medali perak di nomor 100 meter gaya kupu-kupu dengan waktu 53,14. Sementara itu di nomor 100 meter gaya punggung, perenang Indonesia, Flairene Candrea mendapatkan perunggu dengan torehan waktu 1:02.60.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
13-12-2025

Efisiensi anggaran memukul sejumlah cabang olahraga dan membuat persiapan menuju Asian Games tidak ideal. Beberapa atlet gagal menjalani uji coba, ada pula atlet yang dipulangkan tanpa kepastian. Padahal, Asian Games menjadi salah satu sasaran utama prestasi olahraga Indonesia.

Dampak efisiensi anggaran juga dirasakan cabang penyumbang medali di Asian Games hingga Olimpiade, seperti panjat tebing dan angkat besi. Begitu pula dengan cabang olahraga ibu, seperti atletik dan renang.

Renang, misalnya, sempat memulangkan atlet pada April setelah menjalani pelatnas sebulan. Alasan pemulangan adalah tidak ada dana. Pemulangan pun dilakukan secara tiba-tiba.

Sementara pelatnas renang dibubarkan, pelatnas atletik masih bertahan meski terpaksa harus memulangkan sebagian atlet. Dalam daftar yang ditunjukkan pelari jarak jauh Odekta Elvina Naibaho, atlet yang dipertahankan hanya sembilan peraih medali emas dan satu peraih perak di SEA Games Thailand 2025.

Pelari jarak jauh Indonesia, Odekta Elvina Naibaho, mengibarkan bendera Merah Putih selepas meraih medali emas nomor maraton SEA Games Thailand 2025 di Happy & Healthy Bike Lane, Bangkok, Thailand, Minggu (14/12/2025).

Odekta juga bercerita, pemusatan latihan di luar negeri dan sejumlah uji coba batal diikuti. Padahal, selepas SEA Games Thailand 2025, Odekta direncanakan melanjutkan pemusatan latihan di Kenya.

Cabor bersiasat

Wakil Sekretaris Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Singgih Widiyastono mengamini ada kendala keuangan untuk membiayai program-program pelatnas. Hal itu tidak terlepas dari dana dari pemerintah yang belum turun.

PB PASI membiayai pelatnas untuk Asian Games secara mandiri, setidaknya empat bulan pertama 2026. Dana itu, salah satunya, berasal dari sponsor.

Angkat besi juga terdampak. Meski begitu, pengurus cabor bersiasat agar pelatnas tetap berjalan di tengah efisiensi anggaran. Namun, para atlet tidak bisa melakukan uji coba dengan ikut kompetisi sebelum Asian Games.

Lifter putra Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah, berlatih untuk persiapan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di pemusatan latihan nasional angkat besi Mess Kwini, Jakarta, Jumat (31/7/2026) sore.

Seperti angkat besi, panjat tebing pun tetap menggelar pelatnas di tengah efisiensi anggaran. Pengurus cabor bersiasat dengan fokus pada para pemanjat yang akan bertarung di Asian Games lebih dahulu sehingga memangkas komposisi atlet di pelatnas.

Empat emas

Erick mengatakan, angkat besi dan panjat akan menjadi dua cabor yang diandalkan untuk mengejar target empat emas. Seperti diketahui, kendati kuantitas atlet Indonesia ke Aichi-Nagoya 2026 (432 atlet) meningkat dibandingkan di Hangzhou 2022 (415 atlet), targetnya menurun dibandingkan perolehan emas di edisi sebelumnya sebanyak tujuh emas.

Erick menyebut target untuk para atlet di Aichi-Nagoya 2026 adalah empat emas. Sosok yang juga merupakan Ketua Umum PSSI ini meminta para atlet dan cabor untuk bekerja maksimal untuk mengejar target prestasi.

”Kita minta atlet dan cabor berjibaku mempersiapkan target medali empat emas, dari bulu tangkis, angkat besi, dan panjat tebing. Kemudian ada cabang olahraga lain yang berpotensi meraih perak, siapa tahu bisa menjadi emas,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji