Timnas bola voli Indonesia juara AVC Men’s Volleyball Cup 2026. Kombinasi kekuatan pemain senior-yunior berpadu dengan strategi cerdik pelatih terbukti ampuh.
29 Jun 2026 07:09 WIB · Olahraga
AVC (Konfederasi Bola Voli Asia)
GUJARAT, MINGGU — Tidak cukup hanya semifinal dan final, timnas bola voli menyempurnakan torehan sejarah di AVC Men’s Volleyball Cup atau Piala AVC 2026 dengan menjadi juara. Performa timnas voli hasil kombinasi pemain senior-yunior mencapai klimaks pada partai puncak. Indonesia pun sah untuk pertama kalinya jadi ”raja” Asia.
Para pemain Indonesia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan selepas pukulan keras opposite Rama Fazza tak mampu diantisipasi dengan sempurna oleh libero Korea Selatan. Sementara Rama langsung tersujud tak percaya, rekan setimnya, outside hitter Boy Arnez, berlari sembari berteriak. Adapun pemain lain bersujud, lalu berpelukan dengan semringah.
Pukulan keras Rama itu berbuah poin terakhir yang memastikan kemenangan 3-0 (34-32, 25-16, 25-23) Indonesia atas Korea Selatan. Pada partai final di Kompleks Olahraga Veer Savarkar, Ahmedabad, Gujarat, India, Minggu (28/6/2026), Indonesia resmi menjadi ”raja” Asia.
Kemenangan tim dilengkapi dengan penghargaan pribadi yang diraih Boy Arnez sebagai pemain terbaik dan outside hitter terbaik. Boy, dengan pukulan keras dan loncatan hingga 3,55 meter, menyumbang total 123 poin untuk Indonesia sepanjang turnamen atau rata-rata 20,5 poin per laga.
Selain itu, Hendra Kurniawan yang menyumbang total 13 poin dari blok dinobatkan sebagai middle blocker terbaik. Adapun Alfin Daniel Pratama meraih predikat setter terbaik.
Prestasi tersebut bermakna banyak bagi timnas Indonesia. Untuk pertama kalinya di level Asia, baik di turnamen tunggal maupun multicabang, Indonesia bisa juara.
Bertahun-tahun Indonesia mampu mendominasi Asia Tenggara, di SEA Games dan SEA V League. Indonesia tercatat 12 kali meraih emas SEA Games dan tiga kali meraih emas di SEA V League.
Banyak orang yang meragukan tim ini, tetapi teman-teman menjawabnya dengan prestasi yang luar biasa. (Asisten pelatih Nur Widayanto)
Namun, ketika mencoba naik kelas dengan ikut turnamen di Asia, mereka bahkan tak pernah mampu menembus tiga besar. Pencapaian terbaik di Asian Games, misalnya, adalah peringkat keempat saat menjadi tuan rumah pada edisi 1962.
Begitu juga di Kejuaraan Asia ketika menempati peringkat keempat saat jadi tuan rumah pada 2017. Sementara di AVC Cup, yang sebelumnya dikenal sebagai AVC Challenge Cup dan AVC Nations Cup, pencapaian terbaik Indonesia sebelumnya adalah peringkat keenam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/29/2ac38d2a-de77-45a9-a645-71bee7b58d47.jpg)
”Alhamdulillah, serasa mimpi. Banyak orang yang meragukan tim ini, tetapi teman-teman menjawabnya dengan prestasi yang luar biasa, bahkan melampaui target federasi,” ujar Nur Widayanto, asisten pelatih timnas Indonesia, dalam keterangan Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PP PBVSI).
Seperti yang dikatakan Nur, keraguan memang sempat membayangi tim ini. Bukan karena kemampuan yang tidak bisa bersaing, melainkan karena persiapan yang tidak bisa sepenuhnya ideal.
Timnas baru mulai berlatih pada akhir Mei atau sebulan menjelang pertandingan. Pada latihan pertama, skuad itu bahkan belum lengkap karena beberapa pemain masih izin absen.
Padahal, tim membutuhkan waktu untuk bisa membangun kekompakan. Terlebih, skuad yang dibentuk adalah kombinasi pemain senior dan yunior. ”Nama-nama besar”, seperti Nizar Julfikar dan Rivan Nurmulki, yang berpengalaman di timnas, mengundurkan diri, diganti dengan pemain-pemain muda.
Target yang dipasang pun tidak muluk-muluk. PP PBVSI ”hanya” menargetkan timnas bisa menembus empat besar, hal yang juga akan jadi pencapaian baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/29/1db38190-9202-4f4d-9297-6f967e2e3b89.jpg)
Menjelang keberangkatan, masalah justru ada pada Pelatih Sergio Veloso. Pelatih asal Brasil itu terkendala administrasi untuk bisa masuk ke India. PP PBVSI lantas menunjuk pelatih Bhayangkara di Proliga, Reidel Alfonso Gonzales Toiran, sebagai pengganti sementara.
Persiapan yang tidak ideal dan adaptasi dengan pelatih yang singkat pun sempat membuat tim tidak solid pada pertandingan pertama. Melawan Korea Selatan yang sama-sama berada di Pul B, Indonesia kalah 0-3 (22-25, 22-25, 21-25).
Namun, di tengah tantangan itu, termasuk bayang-bayang kekalahan pada pertemuan sebelumnya dengan Korsel, Indonesia tidak kehilangan kepercayaan. Sebelum final, Nur mengungkapkan, para pemain percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin.
Apalagi, mereka sudah melawan ketidakmungkinan dengan melaju ke semifinal untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Qatar dan Thailand dengan skor 3-2 serta menaklukkan Oman, 2-1. Setelah itu, Jasen Kilanta dan kawan-kawan melangkah ke final yang juga untuk pertama kalinya selepas menaklukkan pemuncak Pul A, India, 3-2.
”Yang tidak kalah penting adalah strategi Coach Toiran yang brilian. Beliau memasukkan Rama Fazza menggantikan Fauzan Nibras yang underperform hari ini. Alhamdulillah, Rama mampu menghasilkan banyak poin melalui serangan maupun servis. Pergantian itu benar-benar sukses,” tutur Nur.
Sebelum tampil kurang maksimal pada laga final, Nibras tampil memukau dengan pukulan-pukulan yang menghasilkan banyak poin. Laga kontra Qatar pada fase grup menjadi rekor sumbangan poin terbanyak pemain 18 tahun ini dengan total 32 poin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/29/80c67e62-9f44-4302-afd3-9231820123b1.jpg)
Toiran tahu tak bisa memaksakan diri untuk tetap memainkan Nibras ketika Indonesia butuh kemenangan. Apalagi, sejak set pertama, pola permainan tim ”Merah Putih” tidak berkembang. Servis keras Korsel juga menyulitkan pemain Indonesia.
Kejar-kejaran poin berlangsung ketat hingga menyentuh angka 30. Namun, Indonesia kemudian mampu menemukan ritme permainan dan menyuguhkan performa apik dari segi bertahan ataupun menyerang.
Pertahanan rapat yang dipimpin Hendra dilengkapi dengan serangan mematikan dari Boy, Rama, dan Farhan Halim. Kekalahan pada fase grup pun seakan tidak jadi mimpi buruk lagi.
Kesuksesan di Piala AVC menjadi modal berharga menatap ajang berikutnya di level Asia, Asian Games Aichi-Nagoya 2026. PP PBVSI tetap akan mempertahankan kombinasi pemain senior-yunior untuk membentuk skuad terbaik.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar